![]() |
| Penulis |
SETIAP tanggal 1 Mei, dunia memperingati May Day sebagai momentum refleksi atas martabat kerja, keadilan dan kontribusi manusia dalam membangun peradaban. Hari ini bukan sekadar seremoni, tetapi pengingat bahwa kemajuan bangsa selalu berdiri di atas keringat, integritas dan kompetensi para pekerjanya.
Bagi alumni Universitas Bung Hatta (UBH), semangat May Day seharusnya melampaui tuntutan normatif. Ia menjadi panggilan untuk naik kelas—dari sekadar “pekerja” menjadi pencipta nilai, dari pelaksana menjadi penggerak, dari pencari kerja menjadi pembuka lapangan kerja.
Nilai-nilai yang diwariskan oleh Bung Hatta menempatkan kerja bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi sebagai manifestasi moral. Kerja adalah kehormatan. Kerja adalah kontribusi. Kerja adalah bentuk tanggung jawab terhadap masyarakat.
Di sinilah nilai nilai yang diwariskan Bung Hatta menemukan relevansinya dalam semangat May Day:
- Integritas sebagai fondasi
Alumni UBH tidak sekadar bekerja untuk hasil, tetapi bekerja dengan kejujuran dan tanggung jawab. Integritas menjadikan setiap karya memiliki makna dan kepercayaan.
- Intelektualitas yang Membumi
Ilmu tidak berhenti di ruang kelas. Alumni UBH dituntut mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi solusi nyata bagi masyarakat dan dunia kerja.
- Kemandirian dan Jiwa kewirausahaan
May Day bukan hanya tentang pekerja, tetapi juga tentang pencipta kerja. Alumni UBH harus berani membangun, mengambil risiko dan membuka peluang bagi orang lain.
- Keberpihakan pada keadilan sosial
Sebagaimana semangat koperasi yang diperjuangkan Bung Hatta, alumni UBH harus hadir sebagai penyeimbang mendorong sistem kerja yang adil, manusiawi dan berkelanjutan.
![]() |
| Kebersamaan alumni Fekon UBH angkatan 88 di Jabodetabek dalam kesempatan temu silaturahmi baru-baru ini. f: ist |
- Orientasi pada Dampak
Bekerja bukan hanya soal posisi dan penghasilan, tetapi sejauh mana kontribusi itu memberi manfaat luas. Dari “pecinta belajar” menjadi “pecinta dampak”.
Dalam konteks kekinian, tantangan dunia kerja tidak lagi sederhana. Disrupsi teknologi, perubahan pola industri, hingga kompetisi global menuntut alumni UBH untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga progresif. Di sinilah makna May Day berevolusi bukan lagi sekadar memperjuangkan hak, tetapi juga meningkatkan kualitas diri agar tetap relevan dan unggul.
Alumni UBH hebat dan unggul adalah mereka yang:
- Tidak terjebak dalam rutinitas, tetapi menciptakan inovasi
- Tidak hanya loyal pada institusi, tetapi juga pada nilai kebenaran
- Tidak sekadar mengejar posisi, tetapi membangun dampak
May Day mengajarkan bahwa setiap peran memiliki nilai. Bung Hatta menegaskan bahwa setiap nilai harus diperjuangkan dengan kualitas. Karena pada akhirnya, Alumni UBH bukan hanya bagian dari dunia kerja lebih dari itu mereka adalah Penentu Arah dan Kualitasnya.
Salam Hormat
RZL *)
*) Ahmad Rizal, Sastra '98 UBH


