Tonnio Irnawan


INI KISAH seorang lelaki berdarah India yang lahir di Surabaya, 6 Oktober dua tahun sebelum Republik Indonesia ada. Dua bulan lagi usianya 82 tahun, pantas untuk lebih banyak di rumah menikmati senja kala hidup. Raam Punjabi tidaklah demikian. Ia masih datang ke kantornya memimpin Multivision Plus, perusahaan film yang ia dirikan.

Raam disebut sebagai Raja Sinetron. Sebutan yang bukan mengada – ada karena hingga kini belum ada yang bisa menandinginya membuat film dan sinetron sekian banyak. Hingga kini ia dan Multivision Plus telah memproduksi 225 judul film bioskop dan ratusan judul sinetron yang diputar di banyak stasiun televisi.

Pada 1958 ia hijrah ke Jakarta saat usianya baru 15 tahun. Raam percaya agar kehidupannya menjadi lebih baik harus ke ibu kota negara. Di Jakarta ia tinggal di rumah pamannya di Jalan Batutulis.

Berbagai pekerjaan dijalaninya untuk membiayai hidup termasuk menjadi pegawai toko pakaian milik orang India. Untuk menambah penghasilan ia nyambj menawarkan dagangan berupa baju. Dari rumah ke rumah di kawasan elite – Menteng ia datangi. Namun rupanya pekerjaan ini belum menyenangkan hatinya.

Sejak bocah di Surabaya Raam senang nonton film di bioskop. Karena kecerdikannya, ia bisa menyaksikan film di bioskop tanpa membeli karcis.

Sekian tahun hidup di Jakarta, ia mendapatkan pikiran baru bahwa perubahan bisa membutuhkan seribu langkah. Untuk mencapainya, Raam harus mengambil langkah pertama. Bukan hanya berangan – angan. Ia memutuskan perubahan hidup itu bisa dicapai lewat film, sesuatu yang dicintainya sejak kecil di kota kelahirannya. 

Maka pada 1966 ia mulai mencoba mengimpor film dari India meski sebagai broker karena belum mendapatkan izin usaha. Ternyata cuannya lumayan. Merasa ada kesempatan , ia meningkatkan diri untuk membuat film sendiri padahal tanpa pengetahuan dan pengalaman. Diajaknya Wim Umboh untuk menyutradarai film layar lebar berjudul “Mama”, 1970. Untuk film ini ia menyetor 65 persen modal. Film ini sedikit ditonton orang. Raam tidak jera, dua tahun kemudian film keduanya berjudul “Marina” yang dibintangi Marini dan Robby Sugara diputar di bioskop. Hasilnya tak beda jauh dari film pertamanya.

Dua tahun kemudian produksinya berjudul “Demi Cinta” juga kurang mendapat sambutan. Padahal pemainnya pasangan Sophan Sophian dan Widyawati.

Barulah pada film keempat “Pandangan Pertama”, 1974 ia memperoleh banyak penonton. Keuntungan dari film yang dibintangi A.Rafiq ini bisa menutup kerugian 3 film sebelumnya,

Sukses membuat seseorang tambah yakin dan percaya diri. Adalah Warkop DKI yang menambah tambun rekening bank Raam. Film komedi Trio Dono, Kasino, dan Indro laris manis. Kerja sama dengan Warkop DKI yang mulai dikenal ketika ketiganya siaran di Radio Prambors terus berlanjut hingga beberapa judul film.

Kekayaan Raam semakin bertambah ketika musim sinetron di televisi. Namun tidak ada yang tanpa henti. Kejayaan sinetron produksinya mulai surut ketika banyak stasiun televisi memproduksi sendiri sinetron (in-house production).

Bisnis adalah untung rugi. Ini hal biasa asal jangan terus merugi. Bulan kedua tahun ini (2025) film produksinya “Gowok : Kamasutra Jawa” yang disutradarai Hanung Bramantyo kandas di bioskop. Sampai hari ke-11 pemutarannya, film ini baru ditonton 400 ribu orang. Padahal targetnya 5 juta penonton. Jauh sekali dari perkiraan.

Sebagaimana layaknya pebisnis, Raam melebarkan sayap. Masih dalam industri film yakni mendirikan jaringan gedung bioskop. Ia tahu diri di bioskop dirinya pendatang baru dan karenanya menghindar dari persaingan dengan “raja” bioskop. Ia memilih kota – kota kecil seperti Palopo di Sulawesi Selatan.

Itulah Raam Punyabi yang berani mengubah dirinya untuk taraf hidup yang lebih baik. Perubahan diawali dari angan – angan. Namun hanya sedikit orang yang mau melanjutkan angan – angan menjadi kenyataan karena bukan hal mudah mengayunkan langkah pertama. 

Zaman dahulu perubahan (change) belum menjadi topik bahasan para motivator dan penulis buku. Saya menutup tulisan singkat ini dengan kutipan yang pernah disampaikan Lao Tzu: 

“The Journey of a thousand miles begins with one step.”

Seringkali langkah pertama dijadikan sebagai monumen atau tanda yang kemudian diperingati sebagai hari jadi atau hari ulang tahun. (*)


5/8/2025


Sumber: Majalah TEMPO, 3/8/2025 hal 50 hingga 63





 
Top