“Kalau kita tidak membangun kampus sendiri, sampai kapan anak-anak daerah harus bergantung pada kota besar?”

KALIMAT sederhana itu kerap diucapkan Herman Nawas kepada orang-orang terdekatnya. Di saat banyak orang ragu, ia justru memilih melangkah. Dari latar belakang yang jauh dari kemewahan, ia memulai perjalanan panjang yang kelak mengubah wajah pendidikan di Sumatera Barat.

Herman Nawas lahir pada 7 Agustus 1955 di Silungkang, Sawahlunto, sebagai anak kelima dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, Abu Nawas, hanya seorang pedagang souvenir di Bandara Tabing. Hidup dalam keterbatasan tidak membuatnya kecil hati. Justru dari situ ia belajar arti kerja keras, keuletan, dan pentingnya mimpi besar.

Selepas menamatkan SMA di Padang pada 1974, Herman sempat melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Bahasa Asing Prayoga dan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas. Namun perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Ia sempat merantau ke Jakarta, mencoba berbagai peluang, sebelum akhirnya kembali ke Padang pada 1981. Di sanalah tekadnya semakin bulat: ia ingin menghadirkan pendidikan teknologi di tanah kelahirannya, sesuatu yang saat itu masih sangat langka.

“Teknologi akan jadi masa depan, dan anak Minang tidak boleh tertinggal,” begitu prinsip yang ia pegang. Bersama istrinya, Dr. Zerni Melmusi, ia mulai merintis langkah kecil yang kemudian menjadi lompatan besar.

Tahun 1985, mereka mendirikan Yayasan Perguruan Tinggi Komputer di Padang. Awalnya hanya sebuah akademi kecil, namun dengan kerja keras dan visi yang jelas, institusi itu terus berkembang. Dari AMIK, kemudian lahir STMIK dan STIE, hingga menghadirkan program magister pertama di wilayah KOPERTIS X. Puncaknya pada 2001, semua unit pendidikan tersebut disatukan menjadi Universitas Putra Indonesia YPTK, yang kemudian dikenal sebagai pelopor pendidikan komputer di luar Pulau Jawa.

Perjalanan itu tidak berhenti. Herman terus mendorong inovasi dengan membuka program S2 Ilmu Komputer pertama di Sumatera pada 2003. Bahkan, pada 2019, institusi yang ia bangun berhasil meraih izin program doktor manajemen untuk perguruan tinggi swasta di wilayah tersebut. Sebuah pencapaian yang dulu mungkin dianggap mustahil.

Namun bagi Herman, membangun kampus bukan sekadar soal gedung dan kurikulum. Ia percaya bahwa pendidikan harus menyentuh hati dan karakter. Ia menerapkan pendekatan berbasis nilai spiritual dan Emotional Spiritual Quotient (ESQ), menanamkan ratusan nilai kehidupan kepada mahasiswa. Baginya, kecerdasan tanpa akhlak tidak akan membawa keberkahan. Selain mengelola perguruan tinggi, Herman Nawas adalah Ketua DPW Forum Ko­munikasi Alumni Emotional Spritual Quotient (ESQ) Sumatera Barat.

“Jadilah pintar, tapi jangan lupa jadi baik,” pesan itu terus ia ulang kepada mahasiswa dan alumni. Tak heran jika banyak yang mengenangnya bukan hanya sebagai pendiri kampus, tetapi juga sebagai sosok ayah dan pembimbing hidup.

Di luar dunia pendidikan, Herman juga aktif di berbagai organisasi sosial dan dunia usaha. Ia menunjukkan bahwa kesuksesan tidak harus menjauhkan seseorang dari nilai budaya dan spiritual. Justru dari akar itulah ia berdiri semakin kuat.

Kepergian Herman Nawas pada 31 Oktober 2020 lalu menjadi kehilangan besar bagi Sumatera Barat. Ratusan orang datang melepasnya, dari mahasiswa hingga tokoh masyarakat. Air mata yang mengalir menjadi bukti bahwa ia telah menyentuh begitu banyak kehidupan.

Namun sejatinya, ia tidak benar-benar pergi. Ia hidup dalam setiap ruang kelas, dalam setiap mimpi mahasiswa, dan dalam setiap langkah alumni yang kini berkiprah di berbagai bidang. Dari kampus yang ia dirikan, ribuan anak muda kini memiliki kesempatan untuk mengubah nasib mereka.

Kisah Herman Nawas adalah pengingat kuat bahwa titik awal bukanlah penentu akhir. Dari anak pedagang kecil, ia menjelma menjadi pelopor pendidikan digital di Sumatera. Ia membuktikan bahwa mimpi besar, jika diperjuangkan dengan konsisten, mampu mengubah bukan hanya satu kehidupan, tetapi generasi.

Hari ini, ketika dunia bergerak semakin cepat, semangat Herman tetap relevan. Istiqomah dalam perjuangan, berani berinovasi, dan tetap berpijak pada nilai adalah kunci untuk menghadapi masa depan.

Selamat jalan, Pak Herman. Jejakmu tak akan hilang. Ia akan terus hidup, menginspirasi, dan menjadi cahaya bagi generasi yang ingin melangkah lebih jauh.

#wkp/ede




 
Top