oleh ReO Fiksiwan | Sastrawan


“Kebijakan Israel terhadap Palestina bukanlah tentang keamanan, melainkan tentang kelanjutan kendali, perampasan tanah, dan perluasan permukiman.” — Noam Chomsky (97), On Palestine (2015).

// Piagam Perdamaian Gaza yang dibesut Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, ternyata bukan untuk kepentingan perdamaian, apalagi untuk tujuan diplomasi, melainkan hanya sejenis ego kekuasaan dari seorang tiran abad-21.

Apa yang disebut sebagai “perdamaian” dalam piagam itu lebih menyerupai virus politik yang menyebarkan ilusi, bukan solusi.

Ia mengklaim membawa jalan keluar bagi konflik panjang Palestina, tetapi pada kenyataannya meneguhkan dominasi dan menyingkirkan hak-hak rakyat yang telah lama terpinggirkan.

Dalam konteks ini, pernyataan Dr. Dino Pati Djalal di akun X tentang Board of Peace yang dibentuk di Davos, Swiss, dalam World Economic Forum 2026, menjadi relevan.

Ia menyoroti “4 lampu kuning + 6 saran untuk Pemerintah Indonesia” sebagai tanda bahwa gagasan perdamaian global yang dikemas dalam forum elit dunia sering kali lebih berfungsi sebagai panggung retorika daripada sebagai mekanisme nyata untuk keadilan.

Board of Peace (BoP), alih-alih menjadi wadah untuk membangun kesepahaman, justru berpotensi menjadi instrumen legitimasi bagi kekuatan besar yang ingin mengendalikan narasi perdamaian sesuai kepentingan mereka.

Sejarah Palestina sendiri telah lama menjadi cermin dari paradoks ini.

Roger Garaudy, filsuf Prancis keturunan Yahudi yang kemudian memeluk Islam, menulis Palestine – The Land of Heavenly Messages pada dekade 1990-an.

Garaudy, yang lahir tahun 1913 dan wafat tahun 2012, aktif sepanjang hidupnya sebagai intelektual kritis terhadap kolonialisme dan dominasi Barat.

Dalam bukunya, ia menekankan bahwa Palestina adalah tanah risalah, tempat lahirnya pesan-pesan ilahi yang seharusnya menjadi simbol perdamaian universal.

Namun, tanah itu justru dijadikan ajang perebutan kekuasaan, di mana pesan spiritual dikalahkan oleh ambisi politik.

Edward W. Said, intelektual Palestina-Amerika yang lahir tahun 1935 dan wafat tahun 2003, menulis The Question of Palestine (edisi revisi 1992).

Said, yang aktif sebagai profesor di Columbia University dan salah satu penggagas teori postkolonial, menegaskan bahwa pertanyaan tentang Palestina bukan sekadar isu regional, melainkan inti dari keadilan internasional.

Ia menunjukkan bagaimana narasi dominan yang dibentuk kekuatan besar berusaha menghapus identitas dan hak rakyat Palestina, sementara dunia internasional sering kali terjebak dalam retorika perdamaian yang tidak menyentuh akar masalah.

Cermin buram dan retak dari sejarah perdamaian yang digagas negara adidaya seperti Amerika Serikat dapat dilihat dari dua inisiatif besar yang gagal.

Pertama, Oslo Accords (1993), yang semula digadang sebagai terobosan bersejarah antara Israel dan Palestina, ternyata berakhir dengan kekecewaan.

Alih-alih membawa perdamaian, perjanjian itu justru memperkuat struktur ketidakadilan, karena isu-isu fundamental seperti status Yerusalem, pemukiman, dan hak pengungsi tidak pernah terselesaikan.

Kedua, Camp David Summit (2000), yang dipimpin Presiden Bill Clinton, juga gagal mencapai kesepakatan final.

Pertemuan itu berakhir dengan runtuhnya harapan, memperlihatkan bahwa diplomasi Amerika lebih sering berfungsi sebagai manuver politik daripada komitmen sejati terhadap keadilan.

Kedua kegagalan ini memperlihatkan pola berulang: inisiatif perdamaian yang diklaim sebagai “bersejarah” ternyata hanya menjadi panggung simbolik, tanpa menyentuh akar konflik.

Oslo dan Camp David menjadi cermin buram dari debut perdamaian Amerika, yang lebih banyak melahirkan retorika daripada solusi.

Board of Peace di Davos, dengan segala simbolisme globalnya, berisiko mengulang pola yang sama.

Indonesia, seperti yang diingatkan Dino Pati Djalal, harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam permainan simbolik ini.

Sebab, pengalaman Palestina menunjukkan bahwa perdamaian yang lahir dari ego tiran dan forum elit hanya akan memperpanjang penderitaan, bukan mengakhirinya. (*)

coversongs:

“It’s a Hard Life” dirilis oleh Queen pada 16 Juli 1984 sebagai single dari album The Works.

Lagu ini ditulis oleh Freddie Mercury (1946-1991) dan maknanya menggambarkan kompleksitas cinta: kebahagiaan, penderitaan, dan ketabahan menghadapi luka hati.

credit foto fakta bom Israel menghancurkan wilayah Palestina diambil dari tayangan di Youtube.

Adiktif Board of Peace Virus




 
Top