Suara Mahasiswa Sebagai Katalisator Perubahan untuk Masa Depan Riau
// Di tengah gemerlap acara Putera Puteri Kampus Riau (PPKR) 2026 yang diadakan di pusat kota Pekanbaru, nama Yoga Andrian Saputra semakin dikenal sebagai sosok pemuda yang membawa misi penting untuk mengangkat suara mahasiswa ke kancah yang lebih luas.
Sebagai mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Abdurrab asal Pekanbaru, ia tidak hanya berhasil meraih posisi sebagai Top 12 Putera Kampus Riau, tetapi juga dianugerahi gelar yang sangat bermakna: Putera Advokasi Kampus PPKR 2026.
Bagi Yoga, pencapaian ini bukan sekadar mahkota yang dikenakan di pundaknya, melainkan sebuah amanah yang mengingatkan bahwa suara mahasiswa memiliki peran krusial dalam membentuk dinamika sosial dan kebijakan di Provinsi Riau bahkan lebih luas.
“Ketika nama saya disebut sebagai Putera Advokasi Kampus PPKR 2026, perasaan yang saya rasakan bukan hanya kegembiraan semata, tetapi juga rasa tanggung jawab yang luar biasa besar,” ujar Yoga dengan tatapan yang penuh kedalaman dan keyakinan membara, “saya melihat gelar ini sebagai pengingat bahwa kita sebagai mahasiswa tidak bisa hanya tinggal diam di balik meja kuliah. Kita memiliki tanggung jawab untuk menyuarakan apa yang menjadi aspirasi teman-teman sebayanya, serta berbagai isu yang berdampak pada kehidupan masyarakat luas. Latar belakang saya di Ilmu Hubungan Internasional telah membentuk keyakinan yang kuat bahwa setiap perubahan, baik yang terjadi di tingkat global maupun yang terjadi di pelosok tanah air kita, selalu berawal dari keberanian seseorang atau sekelompok orang untuk mengangkat suara mereka dalam memperjuangkan kepentingan manusia dan nilai-nilai keadilan yang universal.”
Sebelum mencapai pencapaian gemilang ini, Yoga telah menjalani perjalanan yang tidak selalu mulus dalam dunia advokasi dan kepemudaan. Sejak memasuki bangku perkuliahan di Universitas Abdurrab, ia aktif terlibat dalam berbagai diskusi mahasiswa, lokakarya kebijakan, serta kegiatan sosial yang bertujuan untuk menghubungkan ruang akademik dengan realitas masyarakat.
Ia seringkali menghabiskan waktu luangnya untuk berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai program studi dan kampus di seluruh Riau, mendengarkan keluhan, harapan, dan aspirasi mereka terkait dengan pendidikan, kesempatan kerja, serta isu-isu sosial yang mereka hadapi sehari-hari.
“Saya selalu percaya bahwa advokasi yang efektif tidak bisa dilakukan hanya dengan teori saja,” ungkapnya dengan sikap yang sangat praktis, “kita harus benar-benar mendengar suara yang berada di bawah, memahami konteks yang mereka hadapi, dan kemudian bekerja sama untuk menemukan solusi yang paling tepat. Itulah prinsip dasar yang saya pegang teguh dalam setiap langkah yang saya tempuh sebagai seorang advokat mahasiswa.”
Dukungan yang tak pernah pudar dari keluarga, khususnya orang tuanya, menjadi pijakan utama yang membuat Yoga mampu berdiri tegak dan terus berjuang untuk apa yang ia yakini. Pada saat pengumuman pemenang PPKR 2026, orang tuanya yang hadir langsung memberikan dukungan yang penuh kasih sayang.
“Orang tua saya datang ke acara tersebut dengan wajah yang penuh harapan,” cerita Yoga dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa syukur yang dalam, “setelah saya terpilih, ayah saya berkata padaku, ‘Anakku, gelar Putera Advokasi Kampus yang kamu dapatkan hari ini bukan hanya milikmu sendiri. Ini adalah bukti bahwa suara mahasiswa layak untuk didengar, dan harapannya kamu bisa menjadi jembatan yang menghubungkan aspirasi banyak orang dengan ruang-ruang yang memiliki kekuasaan untuk membuat perubahan’.
Sedangkan ibu saya dengan mata yang penuh kebanggaan berkata, ‘Jangan pernah lupa bahwa setiap suara yang kamu angkat harus berasal dari hati yang tulus dan selalu berpihak pada kepentingan banyak orang. Itulah caranya terbaik untuk membanggakan nama keluarga dan daerah kita’. Pesan mereka menjadi energi yang membuat saya semakin yakin untuk menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya.”
Sebagai Putera Advokasi Kampus PPKR 2026, Yoga memiliki visi yang jelas tentang bagaimana ia akan menjalankan peran dan tanggung jawabnya. Ia berencana untuk membentuk sebuah jaringan advokasi mahasiswa yang melibatkan berbagai kampus di seluruh Riau, dengan fokus pada tiga bidang utama: peningkatan kualitas pendidikan tinggi, peningkatan kesempatan kerja dan kewirausahaan bagi mahasiswa, serta penguatan peran mahasiswa dalam pengelolaan lingkungan hidup dan sumber daya alam di Provinsi Riau.
“Pencapaian ini memotivasi saya untuk terus mengambil peran sebagai aktor advokasi yang benar-benar mampu menjembatani aspirasi mahasiswa dengan ruang-ruang pengambilan keputusan,” jelas Yoga dengan semangat yang sangat menular, “saya ingin mengubah paradigma bahwa advokasi selalu identik dengan protes dan konflik.
Sebaliknya, saya ingin menghadirkan praktik diplomasi mahasiswa yang berakar pada empati, dialog yang konstruktif, dan keberpihakan yang tegas pada kepentingan publik. Saya percaya bahwa dengan pendekatan seperti itu, kita bisa mencapai hasil yang lebih berkelanjutan dan bermanfaat bagi semua pihak.”
Dalam konteks yang lebih luas, Yoga melihat bahwa peran sebagai Putera Advokasi Kampus PPKR 2026 juga memiliki makna penting bagi perkembangan Provinsi Riau yang sedang berusaha untuk berkembang menjadi daerah yang maju dan sejahtera. Ia berpendapat bahwa mahasiswa merupakan aset berharga yang dapat berkontribusi dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi Riau, mulai dari isu ekonomi, sosial, budaya, hingga lingkungan hidup.
“Riau adalah daerah yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki potensi yang luar biasa untuk berkembang,” ujar Yoga dengan pandangan yang sangat luas, “namun untuk mencapai potensi tersebut, kita membutuhkan partisipasi aktif dari semua elemen masyarakat, termasuk mahasiswa.
Melalui peran saya sebagai Putera Advokasi Kampus PPKR 2026, saya ingin menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa menjadi agen pembelajar, tetapi juga agen pembangunan yang memiliki kontribusi nyata bagi kemajuan daerah kita. Saya berharap bahwa dengan kerja sama yang erat antara pemerintah, akademisi, masyarakat, dan mahasiswa, kita bisa membangun Riau yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera.”
Harapan yang besar juga tertanam dalam hati Yoga untuk diri sendiri dan generasi muda Indonesia khususnya pemuda Riau. Ia berharap bahwa peran yang diembannya saat ini dapat menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa untuk lebih aktif berpartisipasi dalam berbagai bentuk advokasi dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.
“Harapan saya, peran sebagai Putera Advokasi Kampus PPKR 2026 ini dapat menghadirkan praktik diplomasi mahasiswa yang benar-benar relevan dengan kebutuhan zaman dan kondisi masyarakat kita,” pungkasnya dengan tatapan yang penuh harapan dan semangat yang sangat menginspirasi, “saya ingin setiap mahasiswa menyadari bahwa mereka memiliki kekuatan untuk membawa perubahan, dan bahwa setiap suara yang mereka angkat bisa menjadi katalisator bagi perubahan yang lebih besar.
Dengan demikian, gelar Putera Advokasi Kampus PPKR 2026 ini bukan hanya simbol prestasi pribadi, tetapi juga sebuah komitmen berkelanjutan untuk berkontribusi bagi kemajuan pendidikan, terwujudnya nilai-nilai kemanusiaan, serta membangun masa depan Riau yang lebih cerah dalam konteks nasional maupun global.”
Terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca artikel tentang perjalanan inspiratif Yoga Andrian Saputra seorang pemuda Pekanbaru yang dengan keberanian dan dedikasi berhasil membawa nama Universitas Abdurrab dan Provinsi Riau sebagai Putera Advokasi Kampus PPKR 2026.
Semoga kisahnya dapat menjadi cahaya yang menerangi jalan bagi banyak mahasiswa untuk bangkit, mengangkat suara mereka, dan berkontribusi dalam membangun negeri yang lebih baik. Mari kita dukung satu sama lain untuk terus berjuang demi kebenaran, keadilan, dan kemajuan bersama karena masa depan bangsa kita terletak pada tangan mereka yang berani untuk berbicara dan bertindak demi kepentingan banyak orang.
#Kontributor: Riszuan

