Rosadi Jamani | Penulis

Ketua Satupena Kalbar


// Banyak followers nanya, “Bang, apa hasil rapat BoP di Amerika yang dihadiri Prabowo?” Baiklah, saya coba ringkas dengan gaya Koptagul. Saat menulis ini saya nyantai di Taman Alun Kapuas, cuaca mendung. Malu juga nyantai di warkop, wak!

Nuan bayangkan! Azan Magrib hampir berkumandang. Di meja sudah tersusun kue-kue favorit buka puasa. Ada kolak pisang legit, es buah warna-warni, kurma premium, martabak manis tebal setengah senti, dan kue bingke. Nah, sekarang bayangkan Gaza itu dapur yang habis kebakaran, tapi para elite dunia datang bawa loyang, mixer, dan proposal catering.

Tanggal 19 Februari 2026 di Washington DC, Donald Trump kumpulkan hampir 50 negara buat rapat inaugural Board of Peace (BoP). Katanya ini badan perdamaian model baru, kalau Perserikatan Bangsa-Bangsa itu prasmanan lama, BoP ini franchise baru. Lebih cepat, lebih praktis, dan, ini penting, ketuanya seumur hidup ya beliau sendiri. Ya, si rambut jagung itu.

Total janji dana rekonstruksi Gaza, US$17 miliar. Amerika setor US$10 miliar. Sisanya US$7 miliar dari 9 negara, mayoritas Timur Tengah plus Kazakhstan dan Uzbekistan yang mendadak jadi chef perdamaian dadakan. Di atas kertas, ini seperti nampan kolak penuh santan kental, manis, legit, bikin mata berbinar.

Belum habis itu, dibentuk International Stabilization Force (ISF). Indonesia disebut siap kirim 8.000 TNI. Nama Prabowo Subianto dipuji sebagai “jembatan stabilitas global.” Jabat tangan hangat pun bertebaran. Netizen kita mulai overthinking, ini kayak topping keju parut di atas martabak, kode keras naik level global, kah?

Trump bilang, “War in Gaza is over.” Ceasefire permanen. Hamas disarm. Gaza bakal jadi riviera mewah. Ada miliarder AS di board bilang nilai properti Gaza bisa US$50 miliar, bahkan total potensinya US$115 miliar kalau “di-unlock dan financed.” Dari reruntuhan jadi resort. Dari debu jadi dessert. Dari puing jadi pavlova internasional.

Semua tepuk tangan. Gianni Infantino dari FIFA pakai topi USA merah. Presiden Kazakhstan usul Trump Peace Prize. Suasananya macam buka puasa bersama VIP, selfie sana-sini, senyum lebar, seolah dunia baru saja selesai tarawih 23 rakaat plus witir tiga.

Tapi, wak… ini bagian getirnya.

Sejak ceasefire Oktober 2025 sampai Februari 2026, Israel dilaporkan melanggar hampir 1.620 kali. Serangan udara, tembakan langsung, blokade medis di Rafah. Lebih dari 600 warga Palestina tewas dan 1.600 lebih luka-luka pasca-ceasefire. Pada 19 Februari, laporan United Nations Human Rights Office menyebut serangan meningkat, bantuan dihalangi, pemindahan paksa, destruksi sistematis, bahkan muncul kekhawatiran soal perubahan demografi permanen.

Israel bilang Hamas duluan yang langgar. Keluar dari terowongan, tanam IED, serang pasukan. Jadilah ini seperti dua orang rebutan kue terakhir di meja takjil, saling tuding “dia duluan!” Bedanya, satu pegang F-35, satu lagi pegang batu dan terowongan lembap. Ceasefire fase dua soal pelucutan Hamas masih jalan, tapi korban tetap berjatuhan. Bahkan, sehari sebelumnya 11 orang tewas, termasuk di tenda pengungsi. Kue perdamaian sudah dipotong, tapi dapurnya masih terbakar.

Kenapa Eropa besar seperti Prancis, Jerman, dan Inggris ogah ikut? Mereka khawatir BoP ini bypass PBB dan melemahkan Dewan Keamanan. Vatikan disebut perplexed, Paus Leo XIV kritis soal multilateralisme. Cuma Hungaria dan Bulgaria yang benar-benar gabung. Lainnya jadi observer atau abstain. Mereka seperti tamu undangan yang datang ke buka puasa, tapi tak berani sentuh hidangan utama karena takut ada klausul kecil di bawah piring.

Sementara Vladimir Putin dan Xi Jinping memilih wait-and-see. Putin bilang mungkin kontribusi US$1 miliar kalau aset Rusia yang dibekukan dilepas dulu. China tetap dukung PBB sebagai pusat tata kelola global. Bahasa halusnya, jangan sampai dapur baru ini cuma ganti papan nama, tapi resepnya tetap sepihak.

Kesimpulannya? Di atas meja ada kolak US$17 miliar, martabak properti US$115 miliar, dan pasukan internasional siap jadi pelayan keamanan. Tapi di luar tenda, bom masih jatuh, korban masih bertambah, dan dapur belum benar-benar padam.

Ini perdamaian atau promosi katering global? Ini buka puasa penuh berkah atau pesta elite dengan lilin menyala di atas reruntuhan?

Kita cuma penonton di ujung meja, pegang sendok, sambil bertanya dalam hati, ini kue benar-benar manis, atau cuma gula yang menutup rasa pahit?

Selamat berbuka dengan pikiran terbuka. Dunia hari ini seperti kolak yang terlalu panas, kelihatannya manis, tapi kalau tak hati-hati, bisa melepuh lidah geopolitik. (*)

#camanewak 





 
Top