Eka Teresia | Penulis
- Ketua Penyala Literasi Sumatra Barat
// Di era di mana informasi mengalir lebih deras daripada kesadaran, kita sering kali jatuh dalam jebakan persepsi yang dangkal. Kita hidup dalam keriuhan opini, di mana karakter seseorang bisa hancur hanya dalam satu malam melalui bisikan-bisikan yang tak teruji. Namun, ada satu prinsip moral yang mulai luntur: Jangan pernah menilai seseorang hanya dari apa yang kamu dengar, terutama jika suara itu lahir dari mulut seorang pembenci.
Mulut seorang pembenci adalah mesin distorsi yang paling efisien. Di sana, fakta dipelintir, kebaikan ditiadakan, dan kesalahan kecil dibingkai seolah-olah sebuah dosa besar yang tak terampuni. Mengambil informasi dari sumber yang dipenuhi kebencian ibarat mencoba melihat pantulan rembulan di air yang sedang diaduk-aduk dengan tongkat; yang akan kamu lihat hanyalah bayangan yang pecah, tidak utuh, dan jauh dari kebenaran.
Misteri di Balik Kedalaman Hati
Kita harus senantiasa ingat bahwa kita tak pernah benar-benar tahu kedalaman hati seseorang. Manusia adalah struktur yang kompleks; ada luka yang mereka sembunyikan, ada perjuangan sunyi yang mereka lalui, dan ada alasan-alasan yang tak pernah mereka teriakkan di depan publik. Menilai seseorang tanpa pernah berjalan di atas sepatunya adalah bentuk kesombongan yang teramat nyata.
Adalah sebuah ketidakadilan yang absolut ketika kamu ikut menghakimi, mencaci, atau bahkan sekadar memberi label negatif kepada orang lain atas sesuatu yang sama sekali tidak kamu ketahui secara langsung. Saat kamu menelan bulat-bulat narasi kebencian tersebut, kamu sebenarnya sedang merampas hak orang lain untuk dipandang secara objektif.
Menjadi Filter, Bukan Sekadar Corong
Dunia tidak butuh lebih banyak hakim tanpa jubah; dunia butuh lebih banyak manusia yang memiliki empati dan logika yang seimbang. Sebelum lidahmu bergerak menghakimi, atau pikiranmu tertanam kebencian, renungkanlah:
Apakah informasi ini lahir dari cinta atau dari dendam?
Seberapa besar ruang yang kamu berikan untuk keraguan sebelum menghukum seseorang dalam kepalamu?
Menjadi bijak berarti berani mengambil jarak dari gosip yang panas. Jangan biarkan dirimu menjadi kaki tangan bagi kebencian orang lain. Jadilah pribadi yang teduh, yang tidak mudah terombang-ambing oleh angin fitnah, karena pada akhirnya, kualitas nurani kita ditentukan oleh cara kita memandang mereka yang sedang dijatuhkan. (*)
Padang , 19 Februari 2026
