Alex Runggeary | Penulis, Anggota Satupena


// Karena Korupsi hanyalah sebagai hasil dari bagian hilir satu kesatuan proses dari hulu yang buruk yang membuka ruang kepada siapapun untuk melalukan tindakan korupsi.

Maka untuk mencegah orang melakukan korupsi kita harus bertanya apa penyebab orang korupsi. Ini adalalah logika sebab-akbat yang seharusnya sederhana

Peluang korupsi terjadi karena prinsip tata-kelola yang bobrok Mari bandingkan dengan Malaysia atau Singapura. Kelebihan mereka pada tata-kelola atau set-up sistem kerja yang tertib dan disiplin dalam mengikuti aturan-aturan secara ketat pada pelbagai jenjang proses.

Dalam prinsip tata-kelola yang baik ada build in controle system yang bekerja secara otomatis untuk mencegah orang melakukan penyimpangan dan oleh karenanya, mencegah korupsi.

Dalam perjalanannya Singapura yang sangat terbatas Sumber Daya Alam negaranya bisa sangat maju dan rakyatnyapun sejahtera. Setiap programnya ditata dengan apik dalam tata-kelola yang tertib dan berdisiplin tinggi.

Demikian pula Malaysia yang penduduk miskin hanya 1,3% dari jumlah penduduknya. Bandingkan dengan Indonesia yang 60,3% Padahal sangat bertolak-belakang dengan Indonesia yang sangat kaya akan SDA. Artinya ada yang salah. Kemana saja kekayaan tersebut? Lihat pula bagaimana Petronas bisa menjual produk petralite dengan harga Rp.7.000 dan untung. Sedangkan Pertamina Rp.13.000 tapi merugi. Ini masalah akut hampir di semua BUMN.

Ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa masalah Indonesia adalah suatu kontradiksi yang tidak masuk akal yaitu ia kaya akan SDA tetapi kebanyakan rakyatnya masih miskin sejak lama.

Dilengkapi dengan tata-kelola BUMN yang buruk menghasilkan kerugian menyebabkan Pendapatan Negara Minim dan oleh karena harus berutang untuk berbagai kebutuhan program pembangunan seperti MBG dan lainnya yang sangat boros dan menyedot APBN disebabkan karena kebanyakan programnya tanpa kajian yang memadai. Lebih mengandalkan intuisi .Itu sebabnya bisa terjadi program MBG dan Gentengisasi Dan tampa terduga akan muncul pula program dadakan tergantung mood.

Jadi Indonesia miskin dan tertinggal dari tetangganya itu terletak pada analisis yang buruk berikut pilihan prioritas programnya pembangunannya yang salah arah diperparah dengan kompas intuisi.

Akibatnya yang terjadi hari ini hanyalah menebak-nebak tanpa melewati proses analisis yang tajam yang menghasilkan langkah strategis nasional yang kokoh.

Adalah hukumnya bahwa pilihan strategi yang baik itu haruslah seperti yang tergambar dalam pepatah ini ‘sekali mengayuh, dua tiga pulau terlampaui’ [Teknik Menyusun Rencana Strategis, Alex Runggeary, Orbit 2017].

Saya percaya dengan memilih memperbaiki tata-kelola BUMN maupun birokrasi pemerintahan (termasuk pertimbangan merampingkan organisasi pemerintah, mengurangi pembentukan badan -badan nasional yang hanya menghabiskan anggaran tetapi hasil kerja tidak terlalu urgen atau bahkan tak terobosan capaian hasil) maka beberapa tujuan besar bisa tercapai secara bersamaan dicapai. Saya sebut ini sebagai strategi terintegrasi :

Kita harus bisa melakukan penghematan anggaran bila ada kajian yang sahih mengikuti hukum – hukum kajian yang berlaku dan sukses.

Bila kita mampu memperbaiki tata kelola negara dan semua BUMN maka hasil yang kita capai bisa sbb:

(1) yang bersih memberi keuntungan kepada negara. (2)v Mencegah korupsi (3) Pendapatan negara meningkat. (4) Mengurangi utang. (5) APBN meningkat sehingga bisa memperbanyak program pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dari kemiskinan akut.

Artinya upaya Anti Korupsi harus pula berbarengan dengan membangun build in controle system sejak dari hulu tata-kelola proses – proses kerja yang berdisiplin tinggi. Patuh tanpa kompromi.

15 Februari 2026




 
Top