Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si **


“TETEKKU bukan urusanmu” 
“Perempuan tidak harus punya vagina”
“Tubuhku, otoritasku” 
“Aurat gue bukan urusan lo”
“Selangkangan bukan urusan negara”

BEGITULAH beberapa poster kampanye kesetaraan gender di Women March, 3-10 Maret 2018. Ngeri, kini para pegiat gender semakin berani. Tak peduli norma apalagi syariat. Padahal negeri ini adalah negeri muslim terbesar di dunia.

Feminisme adalah sebuah faham yang menginginkan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Awal mula munculnya ide feminisme ini beriringan dengan revolusi industri di Eropa. Saat manusia berbondong-bondong menjadi buruh, tak terkecuali perempuan. Gaji yang lebih kecil dibandingkan laki-laki. Hak yang timpang. Membuat para perempuan menuntut haknya.

Perempuan dalam pusaran industri kapitalis, hanya dijadikan komoditi penghasil materi. Keberadaanya seolah menjadi kelas nomor dua di kehidupan sosial masyarakat.

Ditambah para filsuf yang menjadi acuan  hidup mereka, mengatakan, perempuan adalah setengah laki-laki. Atau perempuan adalah kegagalan evolusi pada laki-laki. Alias, perempuan adalah bentuk laki-laki yang tidak jadi.

Hal demikian, membuat para perempuan barat, merasa didiskriminasi. Merasa dimarjinalkan. Wajar, mereka memperjuangkan keadilan. Inilah asal muasal kenapa mereka harus memperjuangkan kesetaraan gender.

Karena menurut mereka, setelah para perempuan sama posisinya dengan laki-laki, selesailah permasalahan kekerasan seksual pada perempuan, KDRT, gaji yang rendah. Mereka menganggap syariat menjadi dinding penghalang yang besar untuk kebebasan mereka. Penghambat karya-karya besar yang seharusnya bisa dihasilkan oleh perempuan.

Hijab, membuat para perempuan terkukung dalam kebebasannya. Ibu di rumah, membuat perempuan tak mandiri. Tak punya posisi. Derajatnya rendah dibanding perempuan karir yang eksis di ranah publik.

Wajar akhirnya, pegiat feminisme menuding syariat Islam sebagai batu penghalang kemajuan perempuan. Karena hanya Islam yang mengatur perempuan dengan rinci. Menurut mereka, perempuan harus bebas dari norma apalagi agama.

Islam Memanusiakan dan Memuliakan Perempuan

“Kami tak butuh dimuliakan, kami hanya butuh dimanusiakan!”. Ini jelas merupakan tudingan miring terhadap syariat Islam. Seolah, ketika syariat mewajibkan perempuan berhijab, agar mulia. Hal ini tidak manusiawi, mengekang dan merampas hak.

Sesungguhnya, tudingan bahwa syariat Islam merendahkan derajat perempuan, adalah tudingan tanpa bukti dan mudah dipatahkan. Kita bisa lihat, bagaimana bukti-bukti otentik yang menjabarkan bahwa Islam memanusiakan perempuan. Laki-laki dan perempuan sama kedudukannya di hadapan Allah SWT.

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah [9]: 71)

Bahkan, Islam mengubah kebiasaan-kebiasaan jahiliyah seperti mengubur hidup-hidup bayi perempuan. Karena saat itu mempunyai anak perempuan adalah aib dan memalukan. Islam datang untuk menghentikanya.

Siapa yang memiliki anak perempuan, dia tidak membunuhnya dengan dikubur hidup-hidup, tidak menghinanya, dan tidak lebih mengunggulkan anak laki-laki dari pada anak perempuan, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga. (HR. Abu Daud 5146, Ahmad 1957 dan didhaifkan Syuaib al-Arnauth).

Sumayah pun masuk Islam tersebab alasan ini. Inilah bukti bahwa Islam memanusiakan perempuan. Perempuan adalah manusia yang sama derajatnya dengan laki-laki.

Perbedaan hak dan kewajiban, bukan berarti mendeskriditkan perempuan. Justru inilah hak dan kewajiban yang sesuai fitrahnya. 
Perempuan yang lemah lembut diposisikan sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Keberadaan ibu, ada untuk menghangatkan seluruh anggota keluarga yang sudah seharian aktivitas di luar rumah.

Ini adalah bentuk ideal dalam institusi rumah tangga. Hak dan Kewajiban, sesuai fitrahnya. Ayah mencari nafkah, Ibu mengurus rumah dan anak. Bandingkan dengan model keluarga buatan barat. Perempuan produktif adalah yang menghasilkan materi. Perempuan harus juga membantu ekonomi keluarga. Lantas siapa yang mengurus rumah dan anak? ketika rumah dan anak disubkontrakkan pada pembantu, misalnya. Terjaminkah keidealannya? Beginikah model keluarga idaman?

Anak tak tersentuh kasih sayang orang tuanya, jadilah narkoba, freesex, geng motor, aborsi, dan seabreg kenakalan remaja menjadi muara pengisi kekosongan harmonisnya keluarga.

Bagaimana suami? Tak sedikit suami yang selingkuh lantaran istri sibuk kerja. Gaji yang tak seberapa, harus dibayar dengan malapetaka. Cerai jalan terbaik, akhirnya. Bukan hanya memanusiakan perempuan. Lebih dari itu, Islam pun memuliakan perempuan. Perempuan adalah mahluk lemah lembut, yang butuh dijaga keberadaanya.

​Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang-orang mu’min: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ketubuhnya. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. (Al-Ahzab (33): 59)

Agar tidak diganggu, perempuan harus menjaga auratnya. Jika ini adalah bentuk pemaksaan, karena tak semua perempuan bersedia menutup auratnya. Maka pertanyaan yang sama. Kenapa para pegiat gender itu memakai celana jeans ketat, teng top? kenapa harus berbusana ala barat, ala korea? Bukankah itu yang sebenarnya memenjarakan perempuan? Nyatanya, fashion, justru menyandera mereka.

Manusia bertindak sesuai dengan pola fikirnya. Jika taat menjadi asas dalam ia bertindak. Hijab bukan pilihan, tapi bukti cinta kepada-Nya. Sebaliknya, jika kebebasan menjadi asas dalam seluruh tindakannya, dia akan terombang ambing dengan kebebasannya.

Jelaslah sudah, Islam memuliakan perempuan. Sekaligus memanusiakannya. Jargon yang dilontarkan para feminis, justru menandakan ketidakmampuan ide feminis dalam menjawab permasalahan perempuan.

Islam dengan seperangkat aturannya mampu menyelesaikan seluruh permasalahan perempuan. Begitupun permasalahan yang di alami perempuan. Akan terselesaikan dengan tuntas jika Islam menjadi landasan setiap sisi kehidupan manusia.

** Penulis adalah Pemerhati Masalah Perempuan, Sarjana di Unpad Bandung dan Master di IPB


 
Top