Letnan Jenderal TNI (Purn) Rais Abin bersama Presiden ke-9 RI,
Jenderal TNI (Purn) Susilo Bambang Hudoyono 
JAKARTA -- Pada tahun 1967,  sepuluh tahun setelah terbentuknya Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), negara menghadapi krisis politik yang dapat membahayakan anak bangsa. Para Veteran Pejuang segera memikirkan penyelamatan keluarganya, terutama putera-puterinya  dari gangguan politik tersebut. 

Anak-anak dan keturunan biologis para Veteran itulah yang otomatis menjadi anggota Pemuda Panca Marga yang dilahirkan oleh LVRI.

"Atas pertimbangan situasi saat itu, maka direstuilah pembentukan organisasi yang diberi nama PPM dengan menggunakan Kode Etik Panca Marga sebagai pengikat mereka dengan para ayahandanya," papar Ketua Umum DPP LVRI 2007 - 2019, Letjen TNI (Purn) Rais Abin, di Jakarta, Kamis (17/12/2020). 

Sebagaimana dikemukakan Kepala Humas DPP LVRI Sudadi, penjelasan itu sebagai pelurusan atas organisasi sejenis namun tak terafiliasi dengan LVRI. Keberadaan organisasi itu disinyalir ingin membelokkan sejarah karena tak sesuai dengan AD/ART PPM anak biologis LVRI.

“Alhamdulillah, stabilitas kembali dicapai berkat langkah serius pimpinan negara saat itu”, ungkap Rais Abin yang dikenal sebagai mantan Panglima UNEF (United Nations Emergency Force)  di Timur Tengah. 

Rais menambahkan kegiatan PPM terus berlanjut yang dititikberatkan pada bidang pendidikan dan peningkatan keterampilan tanpa gangguan apapun, di bidang politik, malahan di tahun 1978 pada Kongres IV LVRI ditegaskan lagi kedudukan  PPM sebagai anak organisasi LVRI yang bernaung di bawah pembinaan ayahanda.

Perkembangan selanjutnya memperkuat kehadiran PPM dengan terlaksananya Mukernas I di Tahun 1983, yang mengokohkan ikatan eratnya dengan LVRI.

Namun lambat laun, terutama  mendekati era reformasi PPM statusnya sebagai organisasi kepemudaan (OKP) mulai mengaburkan hubungan sejarahnya dengan LVRI. Hal ini yang akhirnya menghasilkan keputusan Ketua Umum LVRI untuk tidak mengakui posisi H. Abrahan Lunggona (Lulung) sebagai Ketua Umum PP PPM.

Hal ini perlu dilakukan untuk menyadarkan para pengurus PPM dan seluruh anggotanya tentang kekecewaan para tokoh LVRI terhadap anak-anaknya yang seolah-olah mengingkari sejarah.

Rais Abin menegaskan bagi para anggota PPM tersedia dua pilihan. Pertama kembali kepada landasan sejarah lahirnya PPM yang seluruhnya dinaungi oleh LVRI dan mengacu kepada AD/ART.

"Kedua menjadi ormas yang berdiri sendiri terlepas dari ikatannya dengan LVRI, dengan syarat tidak menggunakan Kode Etik Veteran yang bernama “Panca Marga”, tegasnya.

Sumber: suaramerdeka

 
Top