PADANG -- Hanisa Khairani, gadis cilik penderita leukimia asal Nagari Selayo Tanang, Bukik Sileh, Kabupaten Solok, Provinsi Sumatera Barat, dikabarkan telah mulai membaik kondisinya. Bahkan pada Jumat (13/3/2020) siang, ia sudah bisa tersenyum dan makan dengan lahap, meskipun ke depannys ia masih harus melalui proses pengobatan yang berat apalagi untuk anak seusianya. 

Kabar ihwal kondisi Hani tersebut disampaikan Fajar, salah sorang paman Hani yang menetap di Padang, Jumat (13/3/2020) malam sekira pukul 22.30 WIB.  

Fajar yang secara kebetulan berjumpa www.sumatrazone.co.id di areal Foodcourt Aciak Mart Tunggul Hitam, Padang, mengaku sangat senang sang keponakan telah berangsur membaik bahkan bisa makan dengan lahap.

"Tadi selepas Jumatan bang, saya melihat Hani ke RS dr M Djamil. Alhamdulillah kondisinya sudah mulai membaik. Sudah bisa duduk dan menghabiskan makanannya dengan lahap," papar Fajar, alumni Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta (UBH) Padang yang juga seorang tutor sekolah alam di Nagari Selayo Tanang, Solok. 

Kabar baik ihwal kondisi sang keponakan yang mulai membaik juga disampaikan Fajar melalui pesan whats app (WA) kepada pihak-pihak yang sebelumnya turut berempati terhadap Hani, mengingat dalam seminggu ke belakang ia bersama sejumlah sahabatnya di Padang sempat melakukan penggalangan donasi di beberapa tempat, termasuk di Foodcourt Aciak Mart Tunggul Hitam demi mendapatkan tambahan biaya berobat untuk sang keponakan yang tengah berjuang keras melawan penyakit kanker darah. 

Berikut informasi yang disampaikan Fajar melalui pesan WA: 


Assalamualaikum wr.wb
Saya hanya ingin mengabarkan, tadi siang pukul 14.00 WIB. Saya menjenguk hani ke RS. Mdjamil, alhamdulillah hani kondisinya sudah mendingan, hani sudah bisa tersenyum dan dengan lahap memakan makanannya. Akan tetapi hani masih harus melewati pengobatan yang berat apalagi untuk anak sekecil hani. Hani masih harus menjalani kemoterapi secara intensif selama 2 tahun. Dalam 1 bulan hani harus kemoterapi sebanyak 3 kali.
Kami sekeluarga mohon doa untuk kesembuhan hani.

Alhamdulillah dalam pengumpulan donasi bantu hani melawan penyakit leukimia yang dikumpulkan selama 1 minggu ini terkumpul sejumlah Rp. 1.470.000 (sejuta empat ratus tujuh puluh ribu rupiah) dan tadi siang sudah saya serahkan pada mama hani. 

Keluarga hani mengucapkan terimakasih atas doa dan bantuan kawan2. ๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ™๐Ÿป๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜

Sebelum mendapat perawatan selama lebih kurang seminggu di RS dr. M Djamil Padang, Hanisa Khairani atau Hani (8) sempat menjalani perawatan di RSUD M Natsir, Kota Solok. Selama dalam perawatan di RSUD ini Hani hanya bisa tergolek  lemah di ruang perawatan. 

Penyakit leukimia yang dideritanya, memaksa putri dari pasangan Muhammad Ridwan (33) dan Yulia (31) ini harus keluar masuk rumah sakit. Pengobatan yang diterima tak kunjung tuntas.

Perawatan kemoterapi untuk menjinakkan sel-sel kanker yang sejatinya harus diselesaikan selama dua tahun, harus terputus lantaran ketiadaan biaya orang tuanya. Maklum, kedua orang tuanya hanya hidup bertani dengan pendapatan yang pas-pasan.

Sang ibu, Yulia, seperti dilansir HarianHaluan, Selasa (3/3/2020), menceritakan, penyakit leukimia yang diderita anak sulungnya itu diketahui sekitar tahun 2016 silam, saat Hani menderita demam. "Awalnya hanya demam biasa, tapi hilang sebentar demam lagi. Wajahnya pucat hingga sariawan parah yang membuat bibirnya sampai berdarah," paparnya.  

Mendapati anaknya sakit, Yulia kemudian membawa Hani ke Puskemas Simpang Tanjuang Nan Ampek, kemudian dirujuk untuk perawatan lebih lanjut di RS dr. M Djamil Padang. Keberangkatan ke rumah sakit pemerintah terbesar di Sumbar itu pun juga berbekal biaya pas-pasan, dengan harapan ada kepastian atas sakit yang diderita Hani.

Dari hasil diagnosa dokter, Hani divonis menderita Leukimia sehingga harus menjalani kemoterapi. "Dua kali dirawat di M Djamil, juga sempat menjalani kemo selama lebih kurang lima bulan. Kemudian terputus lantaran tidak ada lagi biaya," ungkap ibu dua anak ini.



Memang, aku Yulia, biaya pengobatan waktu itu ditanggung BPJS Kesehatan, namun ada sejumlah obat yang harus dibeli di apotik luar dan harganya cukup lumayan. "Terakhir kami tidak jadi pergi karena ada obat yang harus dibeli dan tidak ada disini, kalaupun ada, kami tidak punya uang untuk membelinya," tambahnya.

Pasca menjalani kemo di M. Djamil, kondisi Hani mulai membaik. Tidak ada lagi tampak gejala sakit yang dialaminya. Hati Yulia dan suaminya mulai lega, anaknya sudah sembuh.

Namun, tahun 2019, Hani kembali mengeluhkan sakit yang sama. Oleh orangtuanya, Hani dibawa ke RSUD Arosuka dan dilakukan transfusi darah. Kondisinya kembali membaik usai dirawat 3 hari. Kondisi tersebut tidak bertahan lama, pada Desember 2019 lalu, Hani kembali harus dirujuk ke M Djamil untuk menjalani kemo.

Namun lantaran tidak ada biaya, kedua orang tua Hani terpaksa pasrah sang putri kembali dirawat di Solok. "Sekarang dirawat di RSUD M Natsir dulu, sudah masuk dari malam minggu kemarin, harusnya dia (Hani) kembali menjalani kemo tapi terganjal biaya," ungkapnya pilu.

Selama dirawat, orang tuanya harus bergantian untuk menunggui di rumah sakit, otomatis mereka sulit untuk bekerja, apalagi mereka hanya bertani. Pihaknya sangat berharap ada dermawan yang sudi membantu biaya pengobatan putrinya sehingga kembali pulih seperti biasa.

Belakangan, sejumlah masyarakat sudah menggalang dana untuk membantu meringankan biaya pengobatan Hani, namun jumlah yang didapat belum mampu memenuhi kebutuhan biaya pengobatan yang cukup besar. "Kalau ada uang, kami akan bawa lagi Hani ke Padang untuk dirawat sampai sembuh," katanya kala itu, penuh harap.

Bagi pembaca www.sumatrazone.co.id yang tergugah dan berkenan ikut membantu biaya pengobatan Hani, untuk penyaluran donasi bisa melalui Rekening BRI No. 5546.0101.3891.53-6 atas nama Yulia Misra Yanti/ ibu kandung Hani. 

(ede)





 
Top