Oleh: Ecevit Demirel (ede)#

RAMADHAN 1440 Hijriah jatuh pada tanggal 6 Mei 2019 mendatang. Menjelang hadirnya bulan suci bagi umat Islam tersebut, pada tanggal 17 bulan ini bangsa Indonesia hendak menggelar pula pesta demokrasi, Pemilihan Umum Serentak 2019. Kita pemilik hak suara akan memilih sekaligus menentukan para calon pemimpin bangsa ini, yakni calon presiden dan wakilnya, serta anggota legislatif dari beragam partai politik (parpol) kontestan pemilu.

Momentum bulan puasa yang hanya berjarak belasan hari dari ajang Pemilu Serentak 2019, tentunya akan semakin bermakna ketika umat muslim di segenap penjuru tanah air sama-sama memiliki kesadaran untuk sama-sama memulai menahan diri dari segala bentuk kemudharatan. Termasuk menahan diri untuk tidak melakukan "hate speech" (ujaran kebencian) dan kekerasan, dimana kekerasan hanya beda satu level dengan ujaran kebencian.

Pemilu adalah momentum penting, namun jauh lebih utama penghormatan kita selaku umat muslim terhadap makna sakral bulan suci ramadhan yang sudah di depan mata. Puasa hendaknya tidak sekedar kita maknai sebagai menahan haus dan lapar, namun juga menahan segala sesuatu yang menjerumuskan pada keburukan dan hal-hal lainnya yang tak berfaedah.

Terlepas dari apapun hasil pemilu nantinya, siapa pun pemimpin bangsa yang ditentukan oleh rakyat, sudah selayaknya kita selaku hamba Allah Swt menyongsong hadirnya bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah dengan paras berseri, hati nan lapang dan sikap saling toleransi selaku bangsa yang sama-sama bernaung dalam pangkuan ibu pertiwi.

Mari kita songsong Pemilu 2019 dan bulan suci Ramadhan 1440 Hijriah dengan ramai-ramai membersihkan hal buruk dan melakukan hal-hal yang baik. Mari kita bersatu melawan ujaran kebencian, apalagi terorisme yang keduanya sama-sama merugikan. Tindakan terorisme yang melukai polisi dan masyarakat umum sangat bertentangan dengan ajaran agama mana pun.

Kita sama-sama mafhum, kebanyakan mereka yang gemar menebar ujaran kebencian dan melakukan tindakan terorisme dilatarbekalangi dua faktor.

Pertama, kesalahan pemahaman dalam beragama. Masih ada sekelompok kecil masyarakat kita yang mengira aksi terorisme bertujuan untuk melindungi agamanya. Padahal apa yang mereka lakukan justru sebaliknya. Yang ditimbulkan justru keresahan dan ketakutan di tengah-tengah masyarakat.

Patut disayangkan, pemahaman agama yang dangkal justru banyak memengaruhi kalangan anak muda, sehingga mereka paling rentan terlibat radikalisme dan terorisme. Mereka dinilai menjadi sasaran terorisme karena faktor lingkungan yang mendukung, ketidakefektifan lembaga keagamaan dan masyarakat, masih dalam fase mencari jati diri dan mereka menilai paham radikal dan ekstrem jauh lebih menantang.

Kedua, campur tangan politik. Faktor ini dipandang paling tidak bermoral dan paling keji. Hanya untuk kepentingan kelompok dan golongan, ada sebagian kelompok tega membelokkan ajaran agamanya dan berdampak kepada kerugian lingkungan dan masyarakat umum.

Oleh karena itu, dalam konteks masifnya penyebaran ujaran kebencian dan tindakan kekerasan yang didasarkan pada pemahaman keagamaan yang sempit, semangat menyongsong dan pelaksanaan ibadah puasa harus dijadikan benteng.

Puasa yang secara esensi berarti menahan diri harus dimaknai sebagai menahan dari berbagai bentuk ujaran kebencian, kekerasan dan tindakan lain yang merugikan diri dan lingkungan. Menahan hawa nafsu yang dapat menyakiti manusia dan lingkungan sekitarnya.

Kita kaum muslimin hendaknya sama-sama mengintrospeksi diri. Sama-sama melihat horizon yang lebih luas bahwa umat manusia bersaudara. Sebagai sesama ciptaan Allah Swt, manusia tidak ada yang sempurna. Karena itu, harusnya manusia bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Bulatkan saja tekad untuk ber-amar makruf nahi mungkar, saling bersatu padu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan menjunjung tinggi dasar negara kita, Pancasila, hidup rukun damai dan saling menyayangi sesama, jangan saling melukai.

Sebagai sesama mukmin, perlu disadari bahwa Islam adalah agama keselamatan bukan agama yang mengajarkan amalan untuk melukai orang lain. Islam adalah agama kebaikan, bukan agama penebar kebencian.

Menyongsong Ramadhan 1440 Hijriah, mari sama-sama kita dorong umat Rasulullah SAW menjadi muslimin dan muslimat yang senantiasa menebar kedamaian.

Hadirnya bulan Ramadhan yang penuh berkah dan kemuliaan, akan lebih baik jika kita songsong dengan saling introspeksi diri, mempertebal ketakwaan kepada Allah Swt melalui peningkatan ibadah dan amal sholeh, serta sama-sama mempertebal pemahaman bahwa ajaran Islam adalah ajaran yng penuh dengan kedamaian, ajaran yang anti kekerasan.

Masing-masing kita umat Islam di Indonesia memiliki tanggungjawab moril untuk saling mengingatkan saudara-saudara kita seiman untuk menjauhi kekerasan dan memperjuangkan kedamaian.

Mari kita bersatu untuk memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), mewujudkan pesta demokrasi yang rukun dan damai, lalu sama-sama menyongsong Ramadhan 1440 Hijriah dengan niatan dapat menunaikan ibadah puasa dengan khusyuk dan jauh dari perilaku-perilaku yang berpotensi merusak ibadah yang memuliakan diri kita di sisi Allah Swt untuk selanjutnya sama-sama pula menyambut hari kemenangan umat Islam, Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah. 

Semoga keikhlasan, kesabaran dan kecerdasan dalam menyikapi situasi dan kondisi bangsa pasca Pemilu 2019 senantiasa menguatkan qalbu masing-masing kita, karena di sanalah sebenarnya letak kemenangan yang hakiki. 

#Penulis adalah jurnalis online yang juga mengetuai Forum Eksekutif Media (FEM); sebuah wadah berkumpul sejumlah pengambil kebijakan media di Sumatera Barat yang kommit pada posisi pers sebagai elemen netral/independen, lepas dari segala kepentingan politik, serta concern pada upaya membangun sinerji dan kemitraan positif dengan para pengambil kebijakan di tataran eksektutif dan legislatif demi mewujudkan usaha kemediaan yang bermartabat di tengah bangsa yang berdaulat, berkeadilan, makmur dan sejahtera. 
 
Top