Olo Panggabean, "Sang Godfather" Kota Medan.
Lahir di Tarutung, 24 Mei 1941
– meninggal di Medan, 30 April 2009,
dalam usia 67 tahun
Catatan: Antoni Antra Pardosi #

PADA HARI INI, 30 APRIL 2019, GENAP SUDAH 10 TAHUN OLO PANGGABEAN MENINGGALKAN DUNIA FANA. SELAMA ITU PULA IA TERKUBUR BERSAMA KISAH HIDUPNYA YANG BERSAPUT MISTERI. BAGAIMANAPUN, IA TETAP DIKENANG SEBAGAI PREMAN BESAR SEKALIGUS PENGUSAHA SUKSES YANG KELEGENDAANNYA TAK TERTANDINGI DI NEGERI INI. 

Olo meninggal dunia di RS Gleneagles Medan, sekitar pukul 14.00 WIB, Kamis, 30 April 2009. Sebelumnya ia berobat di Glen Hospital Singapura, tetapi karena pengobatan di sana gagal, Olo diterbangkan kembali ke Medan dengan pesawat khusus seri LR 35A/HS-CFS. Disebut-sebut, Olo meninggal dunia akibat komplikasi penyakit yang menderanya, terutama dikarenakan komplikasi diabetes. Ia menghembuskan napas terakhirnya pada usia 68 tahun.

Olo terlahir dengan nama babtis Sahara Oloan Panggabean, pada 24 Mei 1941 di Medan. Ia adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara, dari ayah dan ibu, Friedolin Panggabean dan Esther Hutabarat. Tak banyak yang tahu kisah hidup Olo masa kecil. Kecuali, terbetik informasi bahwa ia lahir dan besar di kawasan Petisah, di pusat Kota Medan. Di sanalah ia pada masa mudanya memulai jasanya mengamankan beragam usaha di Jalan Sekip, tempatnya menetap sampai tutup usia.

KETOKOHAN OLO PANGGABEAN

Olo memulai debutnya di organisasi kemasyarakatan Pemuda Pancasila, bersama-sama dengan HMY Efendi Nasution alias Pendi Keling dan Anwar Kongo. Pada 28 Agustus 1969, Olo  bersama sahabat dekatnya, Syamsul Samah mendirikan IPK (Ikatan Pemuda Karya). Sejak itulah nama Olo mulai dikenal, bukan saja di Medan, tetapi juga di seluruh kawasan Sumatera Utara. Dari penguasa jalanan ia tumbuh menjadi tokoh berpengaruh di dunia politik lokal sampai dikenal di Indonesia. IPK tetap tersentral ke nama besar Olo dan oleh karena itulah, kesehariannya ia disapa “Pak Ketua”.

Ketokohan seperti apa yang dimiliki Olo, masih sulit dijelaskan kecuali dari julukan-julukan orang yang menyebutnya sebagai “Penguasa Sumut”, “Big Bos Preman” dan “Raja Judi”.  

Sejatinya, Olo adalah sosok yang sangat misterius. Ia jarang menampakkan diri di hadapan publik. Ia mengasingkan diri dari hiruk pikuk publikasi. Kehidupannya yang lari dari “kelaziman” itu, pun dibumbui orang dengan kisah-kisah mistis dan magis, perihal ilmu kebal, termasuk keputusannya untuk tetap melajang. Tentu, ini dikarenakan begitu minimnya informasi yang bisa diketahui orang mengenai diri Olo. 

Ia, disebut “Penguasa Sumut” akibat pengaruhnya yang sangat besar, baik di dunia bisnis, politik lokal, bahkan di kepolisian dan militer. Konon, setiap pejabat yang akan bertugas di Sumut lazimnya harus lebih dulu sowan ke Olo. Apabila rumor ini benar, bisa ditebak, bahwa aturan main itu ditempuh agar pejabat bersangkutan akan kooperatif  terhadap kepentingan Olo dan ormas yang dipimpinnya. Sutiyono dan Sutanto, pernah merasakan kuatnya pengaruh Olo saat bertugas sebagai Kapolda Sumut pada tahun 1999 dan 2000.

Julukan paling garang bagi Olo adalah “Big Bos Preman”,  semata-mata karena IPK yang ia pimpin punya kecenderungan menguasai atau membekingi bisnis yang membutuhkan nyali dan kekuatan fisik. 

Bukan rahasia lagi bahwa IPK kerap bentrok dengan ormas lainnya seperti Pemuda Pancasila untuk berebut pengaruh terutama sumber penghasilan (demikian sampai dengan sekarang). 

Sejatinya, IPK didirikan Olo bukan sebagai organisasi preman. Organisasi ini ––sesuai namanya–– lebih mengkaryakan pemuda putus sekolah dan mereka yang kurang beruntung sehingga banyak manfaatnya untuk menekan pengangguran.

Olo dijuluki “Raja Judi”, hanya karena kerap dikait-kaitkan dengan praktik perjudian semacam Las Vegas di Kota Medan. Sudah menjadi rahasia umum pula, bahwa pada masa kejayaan toto gelap (togel), geng Olo disebut-sebut menguasai seluruh Sumut dan kota besar seperti Jakarta. 

Bisnis ini konon dimulai dari permainan kim, semacam bingo berhadiah uang di bekas Medan Fair pada era 1970-an. Barulah setelah jabatan Kapolri disandang Sutanto pada tahun 2005, kegiatan perjudian di Sumut sedikit banyak telah meredup. Sejak itu, dikabarkan, Olo lebih memfokuskan diri pada bisnis legal.

Kalaupun Olo pernah berurusan dengan polisi, adalah saat sejumlah anggota Brimob memberondong Gedung Putih (sebutan untuk kediaman Olo) dengan tembakan peluru tajam, pada tahun 1999. Tidak ada korban dan aksi balasan. Informasi yang beredar kala itu, insiden itu merupakan buntut bentrok antara sejumlah anggota IPK dengan beberapa oknum polisi. Rumor yang beredar, insiden tersebut merupakan buah ketegangan antara Olo dengan Kapolda Sumut, Sutiyono.

“THE UNTOUCHABEL” dan “GODFATHER”

Bisnis judi dan premanisme yang dikait-kaitkan dengan Olo belum pernah menyeret namanya ke jerat hukum. Ini, mengingatkan kita pada sosok Al Capone (diperankan Robert de Niro) dalam film “The Untouchabel” (1987). Bedanya, Al Capone berhasil dibekuk oleh seorang jaksa wilayah bernama Eliot Ness (diperankan Kevin Costner); sementara Olo, tidak!

Kontroversi mengenai Olo semakin lengkap karena sifat filantropinya yang dermawan. Sering, tanpa publikasi apa pun, ia mengulurkan pertolongan kepada janda miskin dan kaum dhuafa lainnya. Ia juga menjadi bapak asuh bagi banyak orang.  

Pernah, pada era 1990-an, saat banyak masyarakat suku Jawa di Aceh digeruduk GAM, Olo menampung mereka di Medan, diberikan uang saku, bahkan diongkosi pulang ke Jawa. Pada peristiwa kerusuhan 1998, ia juga berperan mengamankan Medan dari aksi anti-Cina. Ia, serupa “Godfather” bagi masyarakat  yang butuh pertolongan. 

Yang pernah disorot media massa adalah kemurahan hati Olo melunasi semua biaya  persalinan seorang ibu yang bayinya disandera karena tak mampu membayar rumah sakit. 

Pada tahun 2004, Olo membiayai operasi pemisahan kembar siam, Anggi dan Anjeli, anak dari pasangan Subari dan Neng Harmaini, di salah satu rumahsakit di Singapura. Operasi pemisahan itu berjalan sukses. Olo turut menyambut dan menggendong dua bayi mungil itu, sesampai di bandara. 

OLO SANGAT MENCINTAI IBUNYA

Oh, ya, sebelum lupa, Olo adalah sosok yang sangat mencintai ibunya. Setiap tanggal kematian sang bunda, Esther Hutabarat, ia selalu memasang iklan “In Memoriam” berukuran besar di koran Sinar Indonesia Baru (SIB). 

Olo senantiasa beranjak dari duduknya dalam pementasan lagu Batak untuk menyawer sang penyanyi saat mendengar lagu “Inang”. Hanya sedikit saja yang tahu bahwa yang berjalan ke depan panggung itu adalah Olo. Penampilannya sangat sederhana, seperti orang kebanyakan, jauh dari kesan garang  seorang “Big Bos Preman”.

Hari ini, genap 10 tahun sudah Olo menutup mata. Ia pergi selamanya menguap bersama sejuta misteri tentang kehidupannya. Begitulah, semampu apa pun Olo mengurung diri dalam misteri itu, ia hanyalah manusia biasa yang tidak mampu mengelak dari sentuhan takdir kematian.

Tenanglah beristirahat, Pak Ketua.

# Catatan ini merupakan hasil pengamatan penulis selama menjadi pewarta di Medan, ditambah referensi dari sumber-sumber terpercaya lainnya.
 
Top