SOLO – Produk halal menjadi salah satu peluang besar dalam mendongkrak laju usaha mikro kecil menengah (UMKM). Perekonomian nasional pun ditargetkan terangkat mengingat UMKM tersebar di seluruh penjuru negeri. 

"Indonesia saat ini menduduki peringkat lima industri halal global berdasarkan Global Islamic Economy Indicator. Tapi dalam bidang lain, Indonesia belum memimpin. Contohnya pada bidang keuangan, pariwisata, fashion, media dan rekreasi, serta kosmetik, dan obat-obatan. Dalam bidang keuangan syariah berada di urutan kelima, fashion berada di urutan tiga, dan pariwisata berada di urutan keempat," beber Kepala Program Studi D3 Teknologi Hasil Pangan Universitas Sebelas Maret (UNS) Choiroel Anam dalam webinar coaching clinic, kemarin.


Berdasarkan laporan Global Islamic Economy Report (GIER) 2019/2020, konsumsi makanan halal Indonesia mencapai 173 miliar dolar AS. Namun, yang menjadi pengekspor makanan halal terbesar di dunia bukan Indonesia, melainkan Brazil dengan nilai 5,5 miliar dolar AS.


"Peluang produk halal Indonesia sangat besar, khususnya produk makanan. Oleh karena itu, diperlukan sertifikat halal yang juga merupakan hak konsumen. Produk yang dihasilkan oleh UMKM harus ada sertifikat halal, ini peran perguruan tinggi dalam melalukan pendampingan UMKM,” sambungnya


Apabila Indonesia terus menggenjot produk halal yang mencapai triliunan dolar AS tersebut, maka produk halal dapat menjadi substitusi impor yang tepat untuk mendapatkan devisa.


Salah satu hal yang dapat diupayakan adalah melakukan pendampingan terhadap UMKM guna mendobrak produk dan pelaku usaha.


“Kontribusi UMKM sangat besar. Salah satunya dalam perolehan gross domestic product (GDP) yang mencapai 50 persen. Agar lebih pesat lagi, maka harus ada pendampingan dari berbagai pihak, salah satunya perguruan tinggi,” imbuh Kepala Program Studi D3 Agribisnis UNS Raden Kunto Adi.


Pendampingan tersebut dapat dilakukan secara berkelanjutan oleh perguruan tinggi agar hasilnya optimal. UMKM yang 98 persen didominasi oleh usaha kecil, serta dua persen usaha menengah juga mampu menyerap tenaga kerja hingga 83 persen. Namun, yang telah melakukan ekspor baru 20 persen UMKM.


"Sebelum melakukan pendampingan,  terdapat poin-poin yang harus dikuasai, yaitu pengelolaan diri, interpersonal skill, menjalin relasi, pengelolaan UMKM, serta pelibatan banyak orang," ujarnya.


Ditambahkan Raden Kunto, agar dapat mendobrak pasar internasional, UMKM harus mampu naik level. Tidak hanya meningkatkan omzet, namun juga mindset atau mental dari pelaku UMKM. Diperlukan mental yang kuat supaya memiliki motivasi dalam berwirausaha. 


Sumber: jawaposradarsolo
 
Top