PERNAHKAH Anda membayangkan jika pembangunan Bandara Internasional Minangkabau (BIM) batal terlaksana hanya karena sengketa lahan? Jika itu terjadi, mungkin hari ini Sumatera Barat (Sumbar) masih terjebak dengan landasan sempit di Bandara Tabing, atau tertinggal jauh dalam konektivitas udara di Pulau Sumatera.
Namun, sejarah mencatat sebuah nama yang menjadi "perisai" saat proyek raksasa ini hampir menemui jalan buntu. Ia bukan Gubernur, bukan pula anggota Dewan. Dia adalah Bahrum Hikmah Rajo Sampono, pemegang kuasa tanah ulayat Nagari Katapiang yang melegenda.
Sumpah di Depan Menteri: Saya Pertaruhkan Kepala Saya!
Kisah heroik ini bermula pada tahun 2001. Saat itu, Menteri Perhubungan Agum Gumelar datang dengan visi besar: membangun bandara baru pengganti Tabing. Tantangannya tidak main-main, lahan seluas 458 hektar harus dibebaskan dalam waktu singkat.
Dalam sebuah pertemuan krusial, suasana sempat menegang. Gubernur Sumbar saat itu, Zainal Bakar, menyatakan siap mundur jika proyek gagal. Bupati Padang Pariaman, Muslim Kasim, menyatakan siap berjuang habis-habisan. Namun, jawaban Rajo Sampono-lah yang membuat seluruh ruangan terdiam seketika.
"Saya tidak punya jabatan di pemerintahan. Namun, saya akan pertaruhkan kepala saya demi pembangunan bandara di Katapiang!" tegas Rajo Sampono tanpa ragu.
Ucapan itu bukan sekadar gertakan. Itu adalah janji seorang pemimpin adat yang meletakkan kemajuan anak cucu di atas segalanya. Mendengar komitmen "berani mati" tersebut, Menhub Agum Gumelar langsung berdiri dan memeluk sang Datuk dengan penuh haru.
Mengguncang Senayan: Kalau di Jogja Ada Hamengkubuwono, Di Sumbar Ada Rajo Sampono!
Ujian sesungguhnya datang ketika masalah lahan merembet hingga ke DPR RI di Senayan. Situasi memanas di Komisi II, bahkan pemerintah pusat sempat berniat menangguhkan proyek karena adanya riak penolakan dari segelintir masyarakat.
Rajo Sampono tak tinggal diam. Ia terbang ke Jakarta, merangsek masuk ke ruang sidang, dan menghadapi tekanan pimpinan sidang dengan wibawa seorang raja di tanahnya sendiri.
"Saudara siapa?" bentak pimpinan sidang saat itu mempertanyakan kapasitasnya.
Tanpa gentar, Rajo Sampono menjawab lantang: "Kalau di Jogja ada Hamengkubuwono, di Sumatera Barat saya Rajo Sampono. Urusan tanah di Sumbar adalah urusan saya karena ini tanah Ulayat saya. Masyarakat punya hak garap, bukan hak milik. Kalau tidak puas, tuntut saya ke pengadilan!"
Keberaniannya meluluhkan skeptisisme anggota dewan. Seorang anggota Fraksi ABRI bahkan melakukan interupsi dan meminta sidang menyerahkan urusan adat sepenuhnya kepada Rajo Sampono. Palu diketuk, proyek jalan terus.
Menjadi Perisai di Lapangan
Di lokasi konstruksi, Rajo Sampono adalah sosok yang paling ditakuti oleh para pengganggu. Ia bertindak sebagai pelindung bagi kontraktor Jepang (Shimizu-Marubeni JO) dan PT Adhi Karya.
Siapa pun yang mencoba melakukan pungutan liar atau menghambat alat berat, langsung berhadapan dengannya. Ia tak segan bertindak keras dan menyerahkan provokator ke pihak berwajib demi memastikan pembangunan tidak meleset barang satu hari pun dari jadwal.
Legacy yang Tak Akan Padam
Hasil keberaniannya kini bisa kita nikmati. Sejak 22 Juli 2005, burung-burung besi raksasa seperti Boeing 777 hingga Airbus A-330 bisa mendarat mulus di tanah Katapiang.
BIM bukan sekadar beton dan landasan pacu; ia adalah monumen keberanian kearifan lokal. Bahrum Hikmah Rajo Sampono telah membuktikan bahwa untuk membangun daerah, seseorang tidak butuh jas mentereng atau kursi kekuasaan. Cukup integritas untuk "pasang badan" demi kepentingan orang banyak.
Kini, saat Anda melangkah keluar dari pintu kedatangan BIM dan menghirup udara Padang Pariaman, ingatlah bahwa ada seorang pria yang pernah mempertaruhkan nyawanya agar Anda bisa mendarat di sana dengan bangga.
#Artikel ini diolah dari catatan senior Wiztian Yoetri di Forum Sumbar, dalam judul "Mengenang Jasa Bahrum Rajo Sampono dalam Pembangunan Bandara Internasional Minangkabau.
#ede


