JAKARTA – Kongres Wanita Indonesia (Kowani) meluncurkan program nasional bertajuk KOWANI Goes to UNESCO – Memory of the World. Inisiatif ini bertujuan mengangkat sejarah perjuangan perempuan Indonesia agar diakui secara global.
Program tersebut dijalankan secara terintegrasi bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai penguat kajian ilmiah, serta Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) sebagai otoritas kearsipan nasional dalam proses penetapan Memori Kolektif Bangsa.
Melalui program ini, arsip dan sejarah gerakan perempuan Indonesia akan ditetapkan sebagai Memori Kolektif Bangsa oleh ANRI, kemudian diajukan ke UNESCO melalui skema Memory of the World.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat pengakuan internasional terhadap kontribusi perempuan Indonesia dalam sejarah bangsa dan peradaban dunia.
Ketua Umum Kowani, Nannie Hadi Tjahjanto, menegaskan bahwa program ini merupakan langkah strategis yang memiliki nilai kebangsaan dan peradaban.
“Sejarah perjuangan perempuan Indonesia yang dimulai dari Kongres Perempoean Indonesia 1928 merupakan bagian penting dari sejarah dunia yang layak mendapatkan pengakuan global,” tegas Nannie, saat konferesi pers, di Kantor Kowani, Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (31/3/2026).
Gerakan perempuan Indonesia dinilai memiliki keunggulan tersendiri karena tumbuh dalam keberagaman agama, etnis, dan budaya. Selain itu, perempuan Indonesia telah berkontribusi dalam berbagai bidang seperti pendidikan, sosial, ekonomi, hingga pembangunan nasional sejak sebelum kemerdekaan.
Namun, kontribusi tersebut dinilai belum terdokumentasi secara sistematis, tervalidasi secara ilmiah, dan belum terangkat dalam narasi sejarah global.
Melalui kolaborasi ini, Kowani bersama BRIN dan ANRI akan melakukan pengumpulan data, kurasi arsip, digitalisasi, serta penyusunan dokumen berbasis bukti sesuai standar internasional UNESCO.
Pendekatan tersebut diharapkan menghasilkan pengajuan yang kuat secara akademik dan sah secara kearsipan.
Adapun tahapan program yang telah disusun meliputi:
2026: Penetapan sebagai Memori Kolektif Bangsa melalui ANRI
2027: Pengajuan resmi ke UNESCO Memory of the World
2028: Target pengakuan internasional bertepatan dengan 100 tahun Kowani.
Kowani juga mengajak berbagai pihak, mulai dari organisasi perempuan, pemerintah, akademisi, peneliti, generasi muda, hingga media dan masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam mendokumentasikan sejarah perempuan Indonesia.
“Perempuan bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi penentu arah peradaban. Melalui langkah ini, Indonesia hadir bukan hanya sebagai bangsa, tetapi sebagai kekuatan peradaban dunia,” tutup Nannie.
#rep/ede

