DI BALIK sosok kaku dan serius sang Proklamator Mohammad Hatta, tersimpan sebuah janji yang sangat menyentuh. Bung Hatta pernah bersumpah tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka.
Janji itu ia pegang teguh hingga di usia 43 tahun, saat fajar kemerdekaan akhirnya tiba, barulah ia mencari belahan jiwanya. Pertemuannya dengan Siti Rahmiati Rachim (Yuke) menjadi bukti bahwa cinta sejati tidak butuh kemewahan, melainkan keselarasan prinsip.
Titik balik kehidupan asmara sang Proklamator dimulai saat ia menepati janji pribadinya tepat setelah proklamasi dikumandangkan. Sebelum bertemu Rahmi, Hatta adalah sosok "perjaka abadi" yang hanya peduli pada buku dan negara. Ia memulai langkah kehidupan barunya dengan melamar Rahmi pada tahun 1945, didampingi langsung oleh Bung Karno.
Meski terpaut usia 24 tahun, Hatta memikat hati Rahmi bukan dengan harta, melainkan dengan sebuah kejujuran. Sebagai mahar, Hatta memberikan buku karangannya sendiri, "Alam Pikiran Yunani", yang ia tulis saat masa pembuangan di Boven Digoel.
Transformasi hidup mereka sebagai pasangan nomor dua di Indonesia dijalani dengan kesederhanaan yang luar biasa. Dari seorang istri pejabat tinggi negara, Rahmi bertransformasi menjadi pendukung utama yang paling sabar ketika Hatta memilih mundur dari jabatan Wakil Presiden demi prinsipnya. Mereka tinggal di rumah tanpa fasilitas mewah, bahkan Rahmi harus menjahit pakaian sendiri dan memasak tanpa asisten berlebihan saat masa pensiun Hatta yang sulit secara finansial. Rahmi membuktikan bahwa ia tidak mencintai jabatan suaminya, melainkan mencintai manusia yang ada di balik jabatan tersebut.
Hingga maut memisahkan pada tahun 1980, pasangan ini tetap menjadi kompas moral bagi bangsa. Rachmi menyebut Hatta sebagai "sahabat terbaik" yang tidak pernah meninggikan suara. Kesetiaan mereka adalah teladan abadi bahwa cinta yang paling kuat adalah cinta yang dibangun di atas landasan ilmu, kejujuran dan pengabdian tulus kepada tanah air.
#wkp/ede

