Oleh:
Eko Kuntadhi | Penulis


SEORANG ahli psikologi klinis Doktor Mary L. Trump, dalam bukunya yang berjudul ‘To Much and Never Enough : How My Family Created the Worlds Most Dangerous Man’, menulis mengenai psikologi Donald Trump.

Mary adalah kemenakan Donald Trump. Ia menuliskan memoar, dengan pendekatan psikologis dengan analisa ‘orang dalam’. Menurutnya Donald Trump adalah seorang sosiopat. Salah satu karakternya gemar berbohong dan mempercayai kebohongannya sendiri.

Washington Post menuliskan Trump adalah Presiden yang ribuan kali melontarkan kebohongan secara terbuka dalam masa jabatan pertamanya. Dan kini, kita juga menyaksikan sifat yang sama berulang dengan intensitas jauh lebih mengerikan.

Menurut Mary, karakter ini gak nongol begitu saja. Tetapi dampak dari pola asuh keluarganya. Kakeknya yang keras dan nir empati menurunkan karakter ini kepada ayahnya, yang kemudian turun ke Trump. Hanya saja dalam pribadi Trump, sikap nir empati itu sangat menonjol.

Sesuai dengan prediksi Mary, keluarganya memang telah melahirkan lelaki paling berbahaya. Pertama karena karakternya. Kedua karena posisinya sebagai pemimpin negara super power : yang punya militer kuat, ekonomi besar, pengaruh politik internasional yang luar biasa.

Suasana sosiopat dan nir empati bisa kita rasakan. Kita bisa lihat dari berbagai komentarnya. Joke-nya tentang Pearl Harbour di hadapan PM Jepang, menyentuh hal sensitif bagi masyarakat Jepang.

Atau omongannya mengenai pimpinan Saudi MBS menjilat pantatnya. Disampaikan di depan khalayak. Sangat menghina sekutu dekatnya. Atau postingannya tentang PM Francis dan istrinya, seperti ejekan personal di ruang komunikasi internasional.

Belum lama beredar gambar Trump di media sosial. Bahkan Trump sempat memposting ulang. Ia tampil bergaya Jesus Kristus yang sedang menyembuhkan orang sakit. Bagi sebagian orang gambar itu adalah bualan paling memuakkan. Tapi bagi pendukungnya, gambar tersebut mewakili simbol yang tepat.

Realitas bahwa ia sering disebut-sebut dalam File Eipstein sebagai pedofil. Dan penggambaran dirinya bergaya Jesus Kristus adalah kontras yang bisa menyakitkan. Kontras-kontras seperti itu disukai oleh Trump yang narsistik. Ia senang menjadi buah bibir banyak orang.

Tonjokan yang juga menohok saat dia menunjukkan kemarahannya secara terbuka terhadap pemimpin Vatikan Paus Leo. Sebagai pemimpin spiritual gereja Katolik, kecaman Paus soal serangan Israel dan AS ke Iran dianggap Trump sebagai ‘permusuhan’ terhadap langkah perangnya.

Ia tidak menempatkan seruan Paus Leo sebagai imbauan moral. Baginya seruan itu hanya penentangan terhadap nafsu perangnya. Trump justru mengintimidasi balik pemimpin Vatikan itu.

“Saya tidak takut dengan ancaman Trump. Saya akan terus menyuarakan injil dan sikap anti perang agar kekerasan berhenti, ” ujar Paus Leo, menanggapi intimidasi Trump.

Bagi Trump dunia hanya terbelah menjadi dua : kita atau mereka, teman atau musuh. Tidak ada ruang diantara keduanya. Trump membangun karakter politiknya dalam dua sisi yang kontras : ia mewakili wajah keagamaan dengan doktrin penuh kasih. Sekaligus mewakili wajah kebengisan terhadap pihak yang tidak sepakat dengannya.

Sebagai sosok publik, Trump pasti menarik. Karakternya yang saling bertolak belakang akan disetujui oleh mereka dengan karakter mirip. Misalnya orang-orang yang meyakini ajaran kasih sayang, tapi pada saat bersamaan bersorak senang ketika rudal Tomahawk AS menghancurkan sekolah di Minab, Iran, yang membunuh 168 anak perempuan pada serangan pertama.

Ketika Iran membalas serangan itu, seperti ayah yang marah atas pembunuhan putra-putrinya. Para pendukung Trump justru menuding ayah yang membalas kematian anak-anaknya sebagai teroris. Tidak memiliki kasih sayang dan gemar melakukan kekerasan.

Sikap seperti ini ditunjukan secara terbuka oleh para pendukungnya. Mereka bahkan melonjak gembira ketika Trump berkoar-koar akan menghancurkan seluruh peradaban Iran. Maksudnya membunuhi 90 juta rakyat Iran seperti manusia menyemprot semut dengan Baygon.

Trump akan terus menerus membangun kebohongan. Sebab menurut Mary, memang begitu tabiatnya. Dan tidak sedikit orang –termasuk di Indonesia– yang memamah kebohongan itu sebagai jalan ninja keyakinannya. (*) 





 
Top