Oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Di sebuah ruang yang tak diukur oleh dinding,
kita belajar menyebut satu sama lain: rumah.
Bukan sekadar tempat singgah,
melainkan pelukan yang tak bertanya asal-usul luka.
Dua belas tahun kita menenun hari,
dengan benang-benang harapan yang tak selalu utuh,
namun tetap kita rajut—
dengan sabar, dengan kasih, dengan keyakinan yang tumbuh perlahan.
Di sini, langkah-langkah kecil tak pernah dianggap remeh,
setiap suara didengar,
setiap diam dimengerti,
sebab cinta tak memilih siapa yang layak—
ia hadir, setara, menyapa semua jiwa.
Kita tahu, sukses bukanlah tentang berdiri sendiri di puncak,
melainkan tentang tangan-tangan yang saling menggenggam,
tentang bahu yang bersedia menanggung bersama,
tentang tawa yang lahir dari perjuangan yang tak sia-sia.
Roemah D,
engkau bukan sekadar nama,
engkau adalah cahaya yang dipelihara bersama,
ruang di mana stigma runtuh,
dan martabat tumbuh tanpa syarat.
Bersama, kita melangkah lebih jauh,
menembus batas yang dulu tampak tak mungkin,
menjadikan perbedaan sebagai kekuatan,
dan harapan sebagai bahasa yang kita pahami bersama.
Terima kasih untuk setiap hati yang setia,
untuk semangat yang tak pernah lelah,
untuk cinta yang terus menghidupi langkah kita.
Dirgahayu ke-12,
Komunitas Sahabat Difabel—
semoga engkau tetap menjadi
rumah kita,
rumah cinta,
rumah bagi harapan yang tak pernah padam.
Semarang 15 April 2026

