Oleh: Christian Heru Cahyo Saputro | Jurnalis
DI JANTUNG Pecinan Semarang, di mana lorong-lorong sempit saling bertaut seperti urat nadi yang tak pernah tidur, waktu seolah berjalan dengan ritmenya sendiri. Di sana, di antara himpitan rumah toko (ruko) yang atapnya saling berdesakan hingga nyaris menyisakan celah bagi langit, berdiri tegak sebuah monumen sunyi: Klenteng TITD Ling Hok Bio.
Usianya telah melampaui satu setengah abad. Sejak 1866, ia menjadi saksi bisu bagaimana sebuah komunitas perantau mengubah tanah asing menjadi rumah, mengubah ketakutan menjadi harapan, dan mengubah sekadar permukiman menjadi peradaban.
Ketika Spiritualitas Menyebar dari Bale Kambang
Bagi Liemawan Haryanto, Ketua Yayasan TITD Klenteng Ling Hok Bio, sejarah klenteng ini bukan sekadar cerita tentang awal mula, melainkan tentang kematangan spiritual sebuah komunitas. “Jauh sebelum klenteng ini didirikan, jiwa spiritual warga Tionghoa di Semarang telah berdenyut di sekitar Bale Kambang, sebuah kolam keramat yang kini telah diurug dan hilang ditelan zaman,” ujar Liemawan membuka kilas balik.
Pada 1753, Siu Hok Bio (Tjap Kauw King) lahir sebagai pusat rasa syukur kolektif. Namun, seiring denyut ekonomi yang kian kencang pada pertengahan abad ke-19, populasi Tionghoa melebar, merayap masuk ke sudut-sudut gang yang lebih dalam. Ling Hok Bio hadir di tengah gelombang penyebaran ini.
“Ia tidak dibangun oleh satu marga besar atau kapiten yang kaya raya, melainkan oleh gotong royong warga Pecinan setempat yang merasa butuh ruang suci di dekat tempat mereka berpijak,” tegas Liemawan. Kehadirannya menandai fase baru: bahwa spiritualitas tidak lagi terpusat di satu titik koordinat, melainkan menjamur, mengakar di setiap jengkal tanah di mana kaki-kaki lelah para pedagang dan pekerja beristirahat.
Arsitektur yang Berbisik dalam Keterbatasan
Berdiri di atas lahan yang sangat terbatas di tengah kepadatan Pecinan, Ling Hok Bio adalah mahakarya adaptasi. Liemawan menjelaskan bahwa klenteng ini mengadopsi tipe bangunan jian—satu unit ruang yang sederhana namun sarat makna. “Jangan tertipu oleh kesederhanaan luarnya. Di situlah letak kejeniusan arsitektur masa lalu,” katanya.
Serambi depannya berfungsi layaknya pendopo Jawa yang terbuka, ditopang empat kolom bujur sangkar dengan sudut tumpul (mu jioa fu), mengundang siapa saja untuk singgah sejenak. Namun, jiwa sejati klenteng ini tersimpan di bangunan utamanya. Dinding bata tebal melindungi ruang inti berbentuk bujur sangkar, di mana atap bergaya ekor walet (yanwei) melengkung anggun membelah langit.
“Gaya atap ini adalah ciri khas arsitektur Minnan dari Fujian, sebuah privilese yang dalam tradisi kekaisaran Tiongkok hanya diperuntukkan bagi tempat ibadah atau pejabat tinggi,” papar Liemawan. Di tengah lautan atap datar rumah toko yang fungsional, lengkungan yanwei Ling Hok Bio adalah pernyataan visual yang tegas: di tengah hiruk-pikuk mencari rejeki duniawi, ada ruang yang dikhususkan untuk menyembah, bersyukur, dan menundukkan ego. Di dalamnya, arca Dewa Bumi (Thouw Tee Kong) bersemayam dalam miniatur bangunan (ya jiao zhang), menjaga keseimbangan antara manusia dan tanah yang mereka pijak.
Ekosistem Doa di Kota Kecil
“Ling Hok Bio bukanlah entitas yang tunggal,” tutur Liemawan. Ia adalah salah satu mata rantai dalam ekosistem spiritual yang dipercaya membawa kebaikan bagi seluruh Pecinan. Masyarakat kala itu memegang teguh keyakinan: “Semakin banyak kelenteng, semakin banyak keberkahan yang turun.”
Ia tumbuh bersandingan dengan saudaranya: Siu Hok Bio (1753), Tong Pek Bio (1782), Hoo Hok Bio (1792), hingga megahnya Tay Kak Sie (1771). Bersama-sama, mereka membentuk peta spiritual yang memandu kehidupan warga. “Pecinan Semarang berubah menjadi ‘kota Tiongkok kecil’ yang mandiri. Di sinilah generasi demi generasi lahir, menikah, berdagang, dan meninggal, dengan Ling Hok Bio sebagai pusat gravitasi sosial yang mengikat mereka dalam satu identitas yang kuat,” tambah Liemawan.
Badai Zaman dan Ketangguhan Batu Bata
Namun, sejarah Ling Hok Bio juga adalah catatan tentang ketangguhan menghadapi badai. Liemawan mencatat bagaimana klenteng ini bertahan melewati era kolonial, saat pemerintah Belanda memindahkan pemukiman secara paksa dan mengatur ketat kehidupan warga melalui sistem Kapitan dan Kongkoan.
Klenteng ini juga selamat dari era Orde Baru, masa di mana kebijakan asimilasi yang arogan memaksa banyak klenteng menghapus ornamen Tionghoa. “Banyak yang kehilangan wajah, namun Ling Hok Bio, dengan atap yanwei-nya yang sulit disembunyikan, berhasil mempertahankan esensi spiritualnya,” kenang Liemawan, mengutip arsip “Jejak Kolonial” yang menyebut bahwa bentuk atap khas tersebut tidak mampu menyembunyikan jati diri sebenarnya.
Tekanan modernisasi pun datang bertubi-tubi. Pelebaran jalan dan sungai di tahun 1980-an memakan banyak bangunan bersejarah, dan banjir rob menggerus fondasi kota tua, mengubah Pecinan yang dulu ramai menjadi “kota hantu” di malam hari. “Namun, di tengah keterlantaran itu, Ling Hok Bio tetap berdiri. Lampu-lampunya mungkin tak selalu terang benderang, tetapi dupanya tak pernah benar-benar padam,” ucap Liemawan dengan nada penuh harap.
Warisan yang Masih Bernapas
Kini, di tahun 2026, saat Ling Hok Bio merayakan usia 160 tahun, Liemawan Haryanto menegaskan bahwa klenteng ini bukan sekadar artefak mati. “Ia adalah simbol hidup dari akulturasi yang tangguh. Di tengah gempuran pembangunan kota Semarang yang tak kenal ampun, Ling Hok Bio mengingatkan kita pada sebuah kebenaran yang sering terlupa,” ujarnya.
Mengenang kutipan dalam dokumen “Jejak Kolonial”, Liemawan berkata, “Yang harus kita hilangkan dari sisa-sisa kolonial adalah ketimpangan, kesewenang-wenangan, dan penindasan, bukan bangunannya.”
Bagi Liemawan, Ling Hok Bio adalah bukti bahwa warisan leluhur, jika dirawat dengan cinta, ilmu, dan manajemen yang baik, dapat terus menjadi ruang pertemuan yang hangat antar-generasi dan antar-etnis. “Harmoni bukan sesuatu yang diwariskan begitu saja, melainkan pekerjaan rumah yang harus terus dikerjakan,” pungkasnya.
Dari jantung Pecinan Semarang, atap ekor walet Ling Hok Bio masih tetap menantang langit. Ia berdiri di sana, bukan untuk melawan zaman, melainkan untuk mengajak kita berhenti sejenak, menarik napas, dan menyadari bahwa di tengah deru pembangunan, akar budaya dan spiritualitas harus tetap menghujam dalam. Karena selama klenteng ini masih berdiri, selama itu pula napas Pecinan Semarang akan terus berembus, membawa doa dan harapan bagi siapa saja yang datang mengetuk pintu kayunya yang tua.
Tentang Klenteng TITD Ling Hok Bio:
Didirikan pada tahun 1866 di Pecinan Semarang, Klenteng TITD Ling Hok Bio adalah salah satu klenteng tertua yang menjadi saksi sejarah akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Di bawah kepemimpinan Ketua Yayasan Liemawan Haryanto, klenteng ini aktif dalam kegiatan keagamaan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan masyarakat lintas iman. (*)


