MENJELANG pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) Alumni Universitas Bung Hatta (UBH), hadir satu fase penting yang sering dianggap sederhana, namun sesungguhnya sangat menentukan: minggu tenang.

Minggu tenang bukan sekadar jeda dari dinamika dukung-mendukung. Ia adalah Ruang kontemplasi, tempat kita—seluruh alumni—menarik diri sejenak dari riuhnya perbedaan, untuk kembali pada satu pertanyaan mendasar:

“Untuk apa organisasi alumni ini kita jalankan?”

Dalam semangat nilai-nilai Bung Hatta, minggu tenang menjadi momentum untuk:

Menjernihkan niat, agar pilihan tidak didasarkan pada kedekatan semata, tapi pada kapasitas dan integritas.

Menimbang dengan akal sehat, bukan emosi sesaat.

Menguatkan persatuan, karena Mubes bukan arena perpecahan, tapi panggung kedewasaan.

Mubes UBH bukan sekadar memilih ketua umum. Ia adalah menentukan arah gerak alumni ke depan: apakah akan menjadi organisasi yang hidup, berdaya, dan memberi manfaat… atau sekadar formalitas tanpa ruh.

Di minggu tenang ini:

- Biarkan ego mereda

- Biarkan narasi panas menjadi dingin

- Biarkan hati memimpin pilihan

Karena keputusan terbaik lahir dari pikiran yang jernih dan hati yang bersih.

Pada akhirnya, siapapun yang terpilih nanti adalah hasil dari proses kolektif kita. Maka mari kita jaga agar proses itu bermartabat. sesuai dengan warisan nilai Bung Hatta: jujur, sederhana dan bertanggung jawab.

Minggu tenang bukan tentang diam…

tapi tentang memastikan bahwa langkah berikutnya tidak salah arah.

Hari lah dakek!


Salam Hormat. 

RZL *)



* Ahmad Rizal | Sastra UBH '98





 
Top