Oleh Max Hendrian Sahuleka | Penulis
SAAT menghadapi kesulitan, beberapa orang tumbuh sayap, sedang yang lain mencari tongkat penyangga. Lalu yang manakah kita ???
Diembargo 40 tahun lebih hingga sekarang, diserang oleh luar, difitnah, mendalangi makar untuk meruntuhkan pemerintah dan sistem wilayatul fakih, dan berbagai upaya lainnya yang dilakukan Barat untuk menghancurkan Iran, namun alih-alih meruntuhkan Iran, Iran semakin maju dalam berbagai bidang.
Untuk mencegah negara-negara lain untuk mencontoh Iran, terutama negara-negara Islam atau mayoritas Islam, Amerika propaganda anti Iran dan anti Syiah. Propaganda ini bukan hanya bisa membuat mayoritas umat Islam menjadi anti Iran dan anti Syiah, melainkan juga mengkerdilkan apa saja yang telah dilakukan Iran hingga menjadi maju pada isu seputar agama.
Sementara kita memaksakan program MBG dan Kopdes; di Iran, start-up dan perusahaan yang fokus ke ilmu pengetahuan dan teknologi dikasih diskon pajak sampai 15 tahun. Iran juga punya Pardis Technology Park, Taman Teknologi terbesar dan pertama di Iran yang dijuluki sebagai Sillicon Valley-nya Iran. Tempat ini jadi pusat inovasi dan teknologi yang nampung 370 perusahaan teknologi tinggi dan 2.000 start-up yang mempekerjakan ribuan spesialis.
Soal anggaran riset jangan ditanya, Iran jor-joran bahkan sempat naikin anggaran riset 256% buat badan risetnya. Jadi, bukan dipotong-potong dengan alasan efisiensi anggaran kayak di Konoha.
Dan menariknya, semua itu dilakukan dalam keterdesakan. Semua masalah yang ada, membuat Iran bukan hanya semakin tumbuh “sayapnya”, melainkan semakin mampu mengembangkan “sayapnya”. Lalu bagaimana dengan Indonesia ? Nampaknya alih-alih tumbuh sayapnya, Indonesia malah mencari tongkat penyangga, semakin bergantung pada asing sehingga sampai menyerahkan kekayaan alamnya untuk dikelola dan dikeruk oleh asing.
Sungguh video yang sudah ditranskripkan ini sangat menarik, bukan hanya mampu menjelaskan dengan baik mengenai mengapa Iran bisa mau dan memproduksi ribuan rudal dan drone meskipun diembargo puluhan tahun hingga sekarang, melainkan juga mampu menyadarkan kita : https://voicesofislami.blogspot.com/2026/04/diembargo-puluhan-tahun-hingga-sekarang-kenapa-iran-bisa-punya-ribuan-rudal.html
Sebenarnya, apa yang dilakukan oleh Iran ini jika ditelusuri sudah coba dikembangkan oleh pendiri bangsa kita, Bung Karno, yang mencoba mengembangkan ekonomi “Berdikari” (Berdiri Di Atas Kaki Sendiri). Tapi tentunya, Barat tidak akan membiarkan Indonesia mampu melakukannya.
Oleh karena itu, pertanyaannya bukan semata-mata adalah apakah Indonesia bisa atau tidak, melainkan berani atau tidak untuk mengembangkan ekonomi Berdikari seperti Iran?
Harusnya sih berani. Jika Iran semakin menyadari kemandirian dalam ekonomi dan teknologi saat diserang Irak pada tahun 1980 hingga 1988, seharusnya Indonesia yang pernah dijajah selama 350 tahun lebih mampu membekali keberanian untuk mandiri dan melawan pihak-pihak yang menghambatnya. Atau, jangan-jangan, karena sikap sebagian bangsa Indonesia yang malah mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dan kelompoknya membuat Indonesia bisa dijajah sampai lebih dari 350 tahun dan oleh beberapa negara.
Itulah mengapa penting untuk melakukan revolusi kesadaran sebelum melakukan revolusi fisik. (*)


