DUNIA mengenal Adam Malik Batubara sebagai sosok politikus ulung, pendiri Kantor Berita Antara, hingga orang Indonesia satu-satunya yang pernah menjabat sebagai Presiden Majelis Umum PBB. Namun, ada satu fakta sejarah yang tak kalah menarik dari perjalanan hidupnya: Adam Malik ternyata pernah menjadi santri di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, Bukittinggi!
Merantau Demi Ilmu Agama
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) Pematangsiantar, Adam Malik dikirim oleh orang tuanya ke Sumatera Barat. Pada masa itu, Bukittinggi merupakan kiblat pendidikan Islam di tanah air. Ia memilih Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, sebuah institusi pendidikan agama yang sangat berpengaruh dan menjadi pusat pembaruan pemikiran Islam pada masanya.
Singkat Namun Berbekas
Di Parabek, Adam Malik menempa diri dalam lingkungan yang disiplin dan religius. Namun, perjalanan pendidikannya di madrasah ini tidak berlangsung lama. Ia tercatat hanya bersekolah di sana selama satu setengah tahun.
Meskipun singkat, pengalaman bersekolah di Bukittinggi ini merupakan fase penting sebelum ia terjun ke dunia perdagangan dan pergerakan nasional. Ia terpaksa meninggalkan bangku sekolah lebih awal untuk pulang ke kampung halamannya dan membantu ayahnya -- Abdul Malik Batubara, seorang pedagang kaya di Pematangsiantar --, dalam mengelola usaha dagang mereka.
Membentuk Karakter Autodidak
Berhenti sekolah secara formal tidak membuat langkah Adam Malik terhenti. Justru, landasan pendidikan yang ia peroleh di HIS dan Parabek menjadi modal dasar baginya untuk belajar secara autodidak. Semangat mencari kemajuan membawanya merantau ke Jakarta pada usia 20 tahun, di mana ia kemudian mulai merintis karier sebagai jurnalis dan tokoh pergerakan nasional.
Warisan Sang Pahlawan Nasional
Hingga akhir hayatnya dan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, Adam Malik dikenal sebagai sosok yang sangat fleksibel dalam diplomasi dengan motto terkenalnya, "semua bisa diatur".
Jejak pendidikannya di Parabek, Bukittinggi, menjadi saksi bahwa karakter kepemimpinan dan keluasan wawasan sang tokoh dunia ini juga pernah dibentuk oleh sistem pendidikan pesantren di Ranah Minang.
#wkp/ede
