PADA tanggal 9 Maret 1972 di sebuah gang kecil di Jalan Utama Kota Matsum Medan, Sumatera Utara (Sumut), lahir seorang anak laki-laki yang kelak dikenal sebagai Buya Zulherwin Zakir Tanjung. Meski masa kecilnya banyak dihabiskan di Medan, akar darah Minang dari kedua orang tuanya tetap kuat mengikatnya pada tanah leluhur.
Ayahnya, Zakir Bilal, seorang tukang sepatu yang juga dikenal sebagai imam dan muadzin di Masjid Gang Bandung.
Ibunya adalah perempuan tangguh yang menjaga rumah tangga sekaligus berjualan nasi di Pajak Hongkong.
Sejak kecil, Buya Zulherwin sudah dimasukkan ayahnya ke Pondok Pesantren di Sipirok. Setelah tamat di sana, ia melanjutkan ke Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki, Sukoharjo, dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1996.
Tamat pesantren, Buya Zulherwin langsung melanglang buana berdakwah. Ia mulai dari Kroya Cilacap, Mandailing Natal, Kuala Simpang, hingga negeri jiran Kuala Lumpur. Di Malaysia, selain berdakwah, ia bekerja di restoran milik keluarga dan mengajar privat Al-Qur’an. Tahun 2007, ia kembali ke Medan. Dua tahun kemudian, tepat pada 20 September 2009, ia diminta seorang tokoh Pariaman untuk menjadi Khatib Idulfitri di Masjid An-Nur Desa Ampalu. Dalam khutbahnya, ia menyampaikan keprihatinan mendalam: “Kalau masih begini kondisi umat di Ranah Minang, saya khawatir Allah akan mendatangkan bencana.”
Hanya sepuluh hari kemudian, tepat pada 30 September 2009, gempa dahsyat melanda Padang, Padang Pariaman, dan Kota Pariaman. Pasca-bencana, Buya Zulherwin pulang kampung dan memutuskan untuk menetap di Pariaman. Di sinilah ia menyaksikan langsung realita yang menggelisahkan: masyarakat Minang yang terkenal religius mulai tergerus oleh tradisi lama yang bercampur aduk dengan ajaran jauh dari syariat. Berburu babi dengan anjing, adat istiadat yang dianggap “warisan nenek moyang”, hingga aliran-aliran sesat yang merayap pelan di kampung-kampung. “Kalau diam saja, umat ini akan semakin jauh dari Islam yang murni,” gumamnya dalam hati.
Dari situlah Buya Zulherwin memilih jalan dakwah yang tidak populer. Bukan di masjid-masjid besar kota dengan AC dan sound system mewah, melainkan di surau-surau kecil, pinggir sawah, bahkan kampung-kampung yang rawan. Ia berceramah dengan bahasa Minang yang *kareh* (keras), lugas, dan tanpa basa-basi. “Punya telinga tapi pakak!” katanya suatu kali, mengkritik orang yang mendengar tapi tidak mau mengamalkan. Suaranya tegas, diselingi contoh-contoh nyata dari kehidupan sehari-hari, membuat jamaah kadang tertawa, kadang meradang, tapi tak pernah bosan.
Ia selalu menegaskan, “Kaji itu indak ado nan kareh. Kalau berdasarkan Alquran dan Sunnah Nabi, tapi nan kareh tu hati nan manarimo.” Dakwahnya bukan kekerasan kata, melainkan kejujuran yang menggugah nurani.
Perjuangan itu sungguh berat. Banyak yang mengatakan, “Buya ini terlalu berani.” Ia berani membongkar tradisi berburu babi dengan anjing yang menurutnya bertentangan dengan kebersihan Islam. “Saya besar di Medan, tak pernah lihat orang Batak Kristen bonceng motor bareng anjing,” katanya dalam satu ceramah yang kemudian viral.
Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong. Persatuan Olahraga Buru Babi Indonesia (PORBBI) Sumbar marah besar. Pada November 2024, mereka melaporkannya ke Polda Sumbar dengan tuduhan ujaran kebencian (LP/B214/XI/2024). Tekanan datang dari segala arah: ancaman, fitnah, bahkan ada yang memanggilnya “Ustadz Anjing”. Teman dekat menasihati, keluarga khawatir. Namun Buya Zulherwin tetap tegak berdiri.
“Kalau dakwah karena takut manusia, lebih baik saya diam saja,” jawabnya tegas. Ia teringat hadits Rasulullah ï·º: “Barang siapa yang melihat kemungkaran, hendaklah ia ubah dengan tangannya…” Ia memilih tangan dakwah, bukan kekerasan. Meski dilaporkan, ia tak berhenti. Justru undangan ceramah semakin banyak, dari Pekanbaru hingga kampung-kampung terpencil. Video ceramahnya menyebar luas di YouTube dan TikTok. Jutaan orang Minang di perantauan menonton sambil menangis: “Ini yang selama ini kami cari.”
Hingga kini, Buya Zulherwin Zakir Tanjung tetap melanjutkan perjuangannya. Ia tak punya tim besar, tak punya sponsor mewah. Hanya Al-Qur’an, Sunnah, dan keyakinan bahwa dakwah adalah amanah. Di tengah hembusan angin laut Pariaman yang menyapu pantai, ia masih berdiri di mimbar surau, suaranya menggema: “Wahai anak Minang, jangan biarkan adat mengalahkan agama. Kembalilah kepada Islam yang kaffah!”
Kisah perjuangannya mengajarkan kita semua: dakwah bukan soal popularitas, melainkan keberanian menyampaikan kebenaran meski harus menanggung risikonya. Seperti Nabi ï·º yang diolok-olok di Mekah, Buya Zulherwin dari Pariaman tetap tegar. Karena ia yakin, “Hidayah itu urusan Allah. Tugas kita hanya menyampaikan.” Wallahu a’lam bish-shawab"
Sumber:
1. Berita Langgam.id – “PORBBI Sumbar Laporkan Buya Zulherwin Terkait Ceramah yang Menyinggung Pemburu Babi” (15 November 2024).
2. Rekaman ceramah di YouTube Dakwah Buya TV dan kanal terkait.
3. Rekaman tabligh akbar dan kajian di Pekanbaru serta Pariaman (@pituahbuya dan akun resmi pendukung).
4 . Dokumentasi langsung dari ceramah Buya Zulherwin Zakir Tanjung di surau-surau Minang sejak 2024.


