Cerpen Majid Lintang


Langit selalu berwarna luka bagi Rahman.


Setiap senja, ia duduk di serambi masjid tua, menatap warna jingga yang perlahan larut seperti dosa yang tak sempat ditebus. Orang-orang datang dan pergi, menunaikan salat dengan langkah tergesa. Tapi Rahman tidak pernah tergesa. Ia seperti menunggu sesuatu—atau seseorang.


Namanya Siti.


Perempuan yang pernah ia cintai, lalu ia tinggalkan dengan cara paling kejam: diam. Tanpa penjelasan. Tanpa kembali.


Rahman dulu merasa dunia terlalu luas untuk diikat oleh satu hati. Ia pergi merantau, mengejar harta, mengejar dirinya sendiri—dan kehilangan segalanya di tengah jalan. Ketika ia pulang, yang tersisa hanya kabar: Siti telah lama pergi. Wafat dalam kesunyian, tanpa pernah menikah lagi.


Sejak itu, Rahman mulai datang ke masjid.

Bukan untuk dirinya.


Setiap doa yang ia lantunkan selalu berakhir pada satu nama.


“Ya Allah… ampuni dia… bahagiakan dia di sisi-Mu… jika Engkau izinkan, pindahkan sebagian dosanya kepadaku, dan ambil kebaikanku untuknya… agar aku masih punya alasan untuk bertemu dengannya kelak…”


Orang-orang mengira ia orang saleh.


Mereka tidak tahu: ia hanya lelaki yang terlambat mencintai dengan benar.


Suatu senja, ketika azan belum berkumandang, Rahman merasa dadanya ringan—terlalu ringan untuk tubuh yang biasa memikul penyesalan. Angin menyentuh wajahnya seperti tangan yang lama ia rindukan.

Ia menutup mata.


Dan untuk pertama kalinya, ia tidak menyebut nama Siti dalam doa.


Ia hanya berbisik, lirih:

“Terima kasih, ya Allah… karena telah mengajarkanku mencintai… meski terlambat.”


Langit tidak lagi terasa luka.

Ia pulang. (*)



 
Top