Yusuf Blegur | Pegiat Media Sosial


PERNYATAAN Bapak HM. Jusuf Kalla (JK) terkait relasi Islam dan Kristen khususnya tentang Syahid dalam membunuh, harus dilihat secara kontekstual bukan tekstual semata. Lebih dari itu juga harus menggunakan preferensi dari aspek historis, ideologis dan empiris dalam ruang lingkup yang universal.

Pak JK tidak sedang bicara hubungan Islam dan Kristen di Indonesia ansih. Beliau juga tersirat menyampaikan persfektif peradaban manusia global dalam tinjauan konflik dan peperangan yang berlatar agama berkepanjangan, yang memang sudah menjadi warna kehidupan yang tak bisa dihapus di muka bumi selama ini.

Perang Salib (1025-1291), Perang Yugoslavia atau dikenal dengan konflik Balkan (1991-1995), dan perang Khatolik dan protestan di eropa (1562-1647) serta masih banyak lagi contoh peperangan yang dilandasi superioritas dan dominasi entitas agama, ideologi dan aliran-aliran pemikiran tertentu telah menjadi bagian dari perjalanan peradaban manusia.

Ada keyakinan kuat dari pemeluk agama masing-masing terhadap loyalitas dan militansi dalam mengejawantahkan nilai-nilai dasar keagamaan yang dianutnya. Beberapa memunculkan kesadaran gerakan keagamaan yang penuh kesejukan, toleransi dan kedamaian.

Namun tidak sedikit yang memahami lebih dengan pendekatan over estimate dan cenderung ekstrim. Pada kadar tertentu, pemaknaan agama yang berlebihan dan bersandar pada sensitivitas dan tensi tinggi melahirkan gerakan ultra, radikal dan teroris mengatasnamakan agama.

Pak JK dengan statemennya justru, mengajak rakyat dan umat di Indonesia yang heterogen dan majemuk, bisa mengambil esensi dan substansi dari relasi antar agama yang dinamis dan bisa bertemu pada satu titik nilai-nilai universal, yakni kemanusiaan.

Terkadang karena kepentingan politik dan kekuasaan, orang atau kelompok tertentu, sering menjadikan agama sebagai isu dan strategi untuk menciptakan konflik dan peperangan.

Menghidupkan luka lama, membenturkan kepentingan satu dengan lainnya, menciptakan adu domba, kerap menjadi trigger untuk membangun permusuhan dan kebencian antar agama.

Pak JK yang banyak berkontribusi dalam kehidupan kebangsaan dan keagamaan Indonesia seperti Deklarasi Malino I dan Malino II dalam konflik Poso dan Ambon (2001-2002), Inisiator Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), upaya menghidupkan moderasi beragama dan lain-lain.

Pak JK sama halnya dengan seluruh rakyat Indonesia yang menjunjung tinggi Pancasila dan semangat religiusitas. Tak lebih sekedar mengingatkan agar keharmonisan dan keselarasan antar umat itu bisa terus dijaga, dirawat dan dilestarikan betapapun ada perbedaan mendasar dan prinsipil sekalipun dalam setiap agama.

Sehingga dengan kebijaksanaan dan kematangan memaknai hakekat relasi keagamaan seperti yang disampaikan Pak JK. Selayaknya semakin menambah kesadaran Ketuhanan dan kemanusiaan sesuai dengan keyakinan keagamaan masing-masing umat dalam kehidupan kebangsaan.

Rasanya terlalu berlebihan, reaksioner dan sarat emosional menanggapi pernyataan Pak JK tersebut dengan narasi yang agitatif dan provokatif yang justru menjadi trigger konflik yang lebih luas. Upaya hukum dengan melaporkan Pak JK ke kepolisian juga cenderung tidak berdasar mengingat Pak JK tidak menuding, menghujat, dan melecehkan apalagi sampai memvonis buruk agama tertentu.

Pak JK lebih bicara mengajak semua anak bangsa bisa melakukan refleksi dan evaluasi sekaligus menemukan solusi dari pelbagai fenomena kehidupan keagamaan secara luas berbasis data dan fakta yang pernah terjadi dan mengantisipasi peristiwa konflik agama berulang, ditengah tensi tinggi konstelasi dan konfigurasi politik baik secara nasional maupun global. (*)

Bekasi, 13 April 2026






 
Top