BAYANGKAN seorang pemuda dari desa kecil di ranah Minang yang sejak kecil hanya bermimpi menjadi pengusaha, bukan pegawai negeri. Kini, ia mengendalikan EASCO Holding – konglomerasi raksasa dengan 30 anak perusahaan yang menguasai sektor strategis nasional.

Itulah Emil Abbas, pengusaha visioner yang mencatatkan rekor MURI sebagai pengusaha nasional pertama pendiri perusahaan asuransi syariah. Suksesnya bukan kebetulan, melainkan hasil kerja keras, tawakal, dan semangat merantau khas Minangkabau.

Emil Abbas lahir pada 16 Desember 1957 di Kuranji/Guguak, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Dibesarkan dalam keluarga guru – ayah dan ibunya bekerja sebagai penilik sekolah – ia sejak kecil sudah terinspirasi cerita sukses bisnis yang diceritakan orangtuanya.

Seperti kebanyakan pemuda Minang, setelah lulus sekolah ia memilih merantau ke Kalimantan Timur untuk mengadu nasib. Empat tahun pertama (1977–1981) ia belajar bisnis dari bawah: supplier, general trading, kontraktor perminyakan, hingga berbagai usaha kecil.

Pada 1981, dengan tekad kuat, ia mendirikan PT Ranji Karya Sakti yang bergerak di bidang perminyakan melalui Petroleum Offshore Supply Base (POSB) – pelabuhan offshore terbesar di Kaltim saat itu. Usaha padat karya ini langsung mempekerjakan ratusan orang lokal.

Dari situ, kerajaan bisnisnya terus berkembang. Krisis moneter 1997 justru menjadi berkah karena pendapatan dalam dolar AS membuat perusahaannya booming.

Pada 1993, dengan modal Rp 2 miliar, ia mendirikan Asuransi Mubarakah dan Bank Syariah Ibadurrahman – langkah berani yang membuatnya tercatat di MURI sebagai pengusaha nasional pertama pendiri asuransi syariah nasional. Kini jaringan asuransinya telah menjangkau 30 kantor cabang di 22 provinsi.


Di bawah bendera EASCO Holding, ia mengelola puluhan anak perusahaan di sektor pertambangan migas, agroindustri, pelabuhan, kehutanan, keuangan, properti, hingga pendidikan.

Tak berhenti di bisnis, ia juga mendirikan International Islamic Education Council (IIEC) yang mengelola sekolah Islam internasional seperti International Islamic Boarding School (IIBS) di Cikarang, serta sekolah menengah di Jakarta.

Kontribusi sosialnya termasuk menghibahkan tanah 300 hektare untuk pembangunan bandara di Payakumbuh. Semua dilakukan dengan prinsip tawakal penuh: “Segala yang saya lakukan semuanya karena Allah,” katanya.

Kisah Emil Abbas membuktikan bahwa mimpi besar dari desa kecil, digerakkan kerja keras dan ridha Ilahi, mampu mengubah nasib bangsa.

Generasi muda Indonesia, inilah saatnya! Mulai hari ini, bangun impianmu dengan tekad yang sama. Bagaimana langkah pertamamu menuju kesuksesan? Share di komentar dan inspirasi teman-temanmu!

#wkp/ede





Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top