BUKITTINGGI -- Walikota Bukittinggi, H. M Ramlan Nurmatias, SH menyebutkan bahwa sejarah bahasa persatuan Indonesia berawal dari Kweekschool (saat ini bernama SMAN 2 Bukittinggi). Hal tersebut ia sampaikan pada acara Seminar Kebangsaan dengan tema : Jejak Intelektual, Pemikiran dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sekolah Rajo.
Ramlan menyebutkan, “Sebelum Bahasa indonesia dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) pada tahun 1972, cikal bakal bahasa persatuan itu adalah Bahasa Melayu dari ejaan van Ophuijsen. Ia dibantu oleh Nawawi Soetan Makmoer dan Moh. Taib Sultan Ibrahim. Dan itu di Kweekschool Bukittinggi.”
Pernyataan tersebut didukung oleh penjabaran materi seminar oleh Sejarawan sekaligus jurnalis senior ; Hasril Chaniago. Ia mengatakan bahwa, tanpa Kweekschool, tidak ada Bahasa Indonesia.
Menyambut 170 Tahun Kweekschool, Ikatan Alumni SMA (IASMA) Birugo menyelenggarakan Seminar Kebangsaan dengan tema “Jejak Intelektual, Pemikiran dan Keteladanan Tokoh Besar Alumni Sekolah Rajo. Seminar yang mengangkat sejarah peranan kweekschool dengan menghadirkan narasumber di antaranya : Hasril Chaniago, Dr. M Isa Gautama, S.Pd, M.Si dan Dr. Ir. Dedi Yusmen, S.Si. M.BA, M.Esy
Kegiatan Seminar Kebangsaan ini diselenggarakan sebagai peringatan 170 Tahun Kweekschool. Sebuah sejarah panjang hadirnya lembaga pendidikan tertua di Sumatra.
Febri Zulhenda, Sekretaris Pengurus Pusat IASMA Birugo menyampaikan, ” Penyelenggaraan Kegiatan Seminar Kebangsaan ini adalah rangkaian menuju acara Anak Sikola Radjo Baralek Gadang. Momentum 170 Tahun Kweekschool ini menjadi sebuah refleksi kebanggaan sekaligus tanggungjawab besar stakeholder Sikola Radjo-Kweekschool, baik pihak sekolah maupun alumni.”
Selanjutnya, Dedi Yusmen, alumni Kweekschool yang juga menjadi Narasumber menyampaikan bahwa mengingat sejarah bukan semata tentang nostalgia, tapi yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai sejarah tersebut dapat terejawantahkan dalam kehidupan dan kontribusi saat ini.
Hal senada dijelaskan oleh Narasumber lainnya, M Isa Gautama “Kita perlu memahami sejarah untuk dapat membangun masa depan”, ungkapnya. (*)
