- TUGAS leader itu bukan membuat orang takjub sama dirinya.
Tugasnya harus lebih berarti mencetak leader baru yang lebih baik.

- Leader sejati tidak hidup dari pujian. Ia hidup dari replikasi nilai. Tidak semua keputusan harus lewat dirinya, karena itu bukan kepemimpinan. Itu bottleneck.

- Paling tidak, leadership yang dibutuhkan sekarang punya 3 traits.

1. Transparan, 

2. Mudah diakses, dan

3. Tidak punya hidden agenda

- Orang sudah capek bekerja dengan leader yang senyumnya ramah, tapi isi kepalanya misterius dan munculnya belakangan. Leader yang baik tidak bermain kode-kodean. Tidak suka menyembunyikan kabar buruk, tidak memoles fakta sampai bentuk aslinya hilang, tidak bikin tim menebak-nebak seperti lagi baca ramalan cuaca.

- Lalu ada satu hal yang sering keliru dijadikan indikator memilih leader baru: loyalitas.

- Padahal, loyal itu sering kali bukan kriteria dasar, melainkan output. Orang bisa loyal karena value-nya cocok, karena lingkungannya sehat, karena ia dihargai, atau karena pemimpinnya memang layak diikuti. 

- Atau bahkan orang bisa terpaksa bertahan dan terlihat loyal, karena dia tidak punya pilihan di tempat lain.

- Jadi kalau ada yang bangga bilang, “tim saya loyal,” belum tentu itu bukti dia leader yang hebat. Bisa jadi memang suasananya enak. Bisa juga karena kopi di kantor enak. Atau, dia tidak diterima di tempat lain.

- Leader yang benar biasanya bukan cuma jago menutup target, tapi juga jago memunculkan ide. 

- Mereka berpikir berbeda, berani bertanya, berani memberi opsi dan tidak alergi pada perbedaan pendapat. Kadang orang seperti ini tidak paling ribut di ruang rapat, tapi justru paling tajam melihat arah.

- Mereka mungkin tidak selalu jadi achieve, tapi mereka punya pengaruh. Dan dalam dunia kerja, pengaruh sering lebih mahal daripada sekadar angka-angka.

- Lalu ada integritas, yang sering cuma ditulis di dekorasi dinding. 

- Bukan cuma doing the right things. Bukan cuma doing things right.

. Tapi doing the right things, right. 

- Karena benar saja belum cukup kalau cara mengeksekusinya juga asal-asalan.

- Dan satu lagi, readiness to change.



Terlalu lama menganalisis, sampai perubahan ditinggal kereta. Cost of leading change itu sering kali lebih mahal daripada cost of the change itu sendiri. 

Dunia tidak menunggu orang yang terlalu sibuk mempertimbangkan semua kemungkinan. 

Dunia lebih ramah pada orang yang berani bergerak, lalu membenahi sambil jalan terus.

Jadi, kalau hari ini kita masih bangga karena tim nurut semua, mungkin kita bukan sedang memimpin.

Kita hanya sedang mengumpulkan follower. Dan follower itu, kalau leadernya hilang, ikut hilang.

Great leader bukan yang membuat dia paling dibutuhkan semua orang.

Great leader adalah yang paling berhasil membuat dirinya tidak lagi jadi satu-satunya jawaban. Meskipun dia pergi, arahnya tetap hidup.


Salam Hormat

RZL *)



*) Ahmad Rizal, UBH, Sastra'98




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top