Drs. Makmur, M.Ag | Kabid Penaiszawa Kanwil Kemenag Provinsi Lampung


DI ANTARA sahabat Rasulullah SAW yang sangat dicintai beliau adalah Usamah bin Zaid ra. Ia mendapat julukan Hibb Rasulullah, kekasih hati Rasulullah, karena kedekatannya yang istimewa dengan Nabi.

Usamah adalah putra Zaid bin Haritsah, sahabat sekaligus anak angkat Rasulullah saw, dan Ummu Aiman, perempuan mulia yang sejak kecil merawat Rasulullah. Ia lahir sekitar tujuh tahun sebelum hijrah dan tumbuh dalam lingkungan iman, keberanian, serta kedekatan langsung dengan kenabian.

Sejarah Islam mencatat namanya sebagai panglima perang termuda yang pernah ditunjuk langsung oleh Rasulullah saw.

Setelah menunaikan Haji Wada’, Rasulullah saw mempersiapkan sebuah ekspedisi besar menuju wilayah Syam untuk menghadapi kekuatan Imperium Romawi Timur. Dalam keputusan yang mengejutkan banyak sahabat, Rasulullah saw menunjuk Usamah bin Zaid sebagai komandan pasukan. Saat itu usia Usamah baru sekitar 18 tahun.

Keputusan ini menimbulkan keheranan. Dalam pasukan tersebut terdapat tokoh-tokoh besar kaum Muhajirin dan Anshar, para sahabat senior yang jauh lebih tua dan berpengalaman dalam peperangan. Sebagian kaum muslimin secara manusiawi merasa ragu: bagaimana mungkin seorang pemuda memimpin para senior?

Mendengar keraguan itu, Rasulullah saw berdiri memberikan penegasan: “Jika kalian meragukan kepemimpinan Usamah, maka kalian dahulu juga meragukan kepemimpinan ayahnya. Demi Allah, ia pantas menjadi pemimpin. Ia termasuk orang yang paling aku cintai, dan ia diciptakan untuk memimpin.”

Ucapan Nabi saw itu mengakhiri semua keraguan. Para sahabat pun menerima kepemimpinan Usamah dengan penuh ketaatan.

Pasukan kemudian bergerak meninggalkan Madinah. Namun belum jauh perjalanan, datang kabar duka besar: Rasulullah saw wafat. Pasukan berhenti. Usamah bersama Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah kembali ke Madinah. Dalam suasana duka, kaum muslimin bermusyawarah dan akhirnya mengangkat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pertama.

Banyak sahabat mengusulkan agar ekspedisi ditunda mengingat situasi politik yang genting. Namun Khalifah Abu Bakar mengambil keputusan tegas: pasukan tetap diberangkatkan, persis sebagaimana perintah Rasulullah saw. Bahkan Abu Bakar sendiri berjalan kaki mengantar pasukan, sementara Usamah, pemuda 18 tahun, berada di atas tunggangannya sebagai panglima.

Saat melepas pasukan, Abu Bakar memberikan pesan moral yang agung: “Jangan berkhianat, jangan menipu, jangan melampaui batas. Jangan membunuh anak kecil, perempuan, dan orang tua. Jangan merusak pohon dan jangan membunuh hewan kecuali untuk dimakan. Biarkan para ahli ibadah di tempat ibadah mereka. Perangilah yang memerangi kalian dan berdamailah dengan yang berdamai.”

Dengan strategi matang dan kepemimpinan yang tegas, pasukan Usamah bergerak cepat menuju perbatasan Syam. Dalam waktu sekitar empat puluh hari, ekspedisi itu berhasil meraih kemenangan besar atas pasukan Romawi.

Kemenangan ini membawa dampak luar biasa: dunia menyaksikan bahwa umat Islam tetap kuat meski Rasulullah telah wafat. Kepercayaan diri kaum muslimin bangkit, dan posisi Islam semakin disegani.

Sejak saat itu, Usamah bin Zaid dihormati bukan karena usianya, tetapi karena kualitas kepemimpinannya. Ia wafat pada tahun 53 Hijriyah (673 M), setelah sepanjang hidupnya mendedikasikan diri untuk agama Allah.

Kisah Usamah bin Zaid bukan sekadar catatan sejarah tentang seorang panglima muda, tetapi cermin besar tentang bagaimana Islam memandang kepemimpinan. Dalam peristiwa ini, Rasulullah saw seakan ingin mengajarkan kepada umat bahwa kepemimpinan tidak pernah diukur dari usia, melainkan dari kualitas diri. Usamah yang masih sangat muda tidak dipilih karena faktor kedekatan semata, tetapi karena kapasitas, keberanian, dan kematangan jiwanya. Dari sini kita belajar bahwa usia muda bukanlah kekurangan, selama diisi dengan iman, ilmu, dan tanggung jawab.

Lebih dari itu, keberhasilan Usamah tidak bisa dilepaskan dari keberanian Rasulullah saw dalam memberikan kepercayaan. Kepercayaan yang utuh, bukan setengah hati. Kepercayaan itulah yang melahirkan tanggung jawab, membentuk kedewasaan, dan memaksa seseorang untuk tumbuh melampaui batas dirinya. Seringkali pemuda terlihat belum siap, bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka tidak diberi kesempatan. Padahal, sejarah justru menunjukkan bahwa banyak perubahan besar lahir dari mereka yang dipercaya sejak muda.

Namun kisah ini juga tidak hanya berbicara tentang pemuda, melainkan tentang kebesaran jiwa generasi senior. Apa yang dilakukan Abu Bakar adalah pelajaran yang sangat dalam. Ia tidak merasa tersaingi oleh seorang pemuda yang memimpin pasukan besar, justru ia menguatkannya dengan penuh ketulusan. Seorang khalifah berjalan kaki mengantar panglima muda adalah gambaran nyata bahwa kepemimpinan yang sehat lahir dari sinergi, bukan kompetisi yang tidak perlu.

Ketika yang tua mampu memberi teladan di depan, menguatkan di tengah, dan memberikan ruang di belakang, maka lahirlah peradaban yang kokoh. Sebaliknya, ketika yang senior enggan memberi ruang, merasa paling benar, dan sulit beradaptasi dengan zaman, yang muncul bukan kekuatan, tetapi kegaduhan.

Di sisi lain, kisah ini juga menegaskan bahwa kepemimpinan, terlebih di usia muda, tidak cukup hanya dengan kecerdasan atau keberanian. Ia harus berdiri di atas fondasi akhlak. Pesan Abu Bakar kepada pasukan bukan sekadar aturan perang, tetapi nilai moral yang menunjukkan bahwa kemenangan dalam Islam tidak pernah dipisahkan dari etika. Pemimpin yang hebat bukan hanya yang mampu menaklukkan lawan, tetapi yang mampu menjaga dirinya dari kezaliman. Tanpa akhlak, kepemimpinan hanya akan melahirkan kekuasaan, bukan keberkahan.

Sejarah pun berulang kali membuktikan bahwa perubahan besar sering digerakkan oleh pemuda. Energi, keberanian, dan idealisme mereka menjadi kekuatan dahsyat ketika diarahkan oleh nilai yang benar. Apa yang pernah disampaikan oleh Soekarno tentang dahsyatnya kekuatan pemuda sejatinya sejalan dengan apa yang telah dicontohkan dalam sejarah Islam. Dari Ali bin Abi Thalib, Mus‘ab bin Umair, hingga Usamah bin Zaid, semua menunjukkan bahwa pemuda bukan sekadar pelengkap, tetapi penggerak utama perubahan.

Akhirnya, ada satu pelajaran penting yang sering terlewatkan: keberanian menerima amanah. Usamah tidak menolak ketika diberi tanggung jawab besar, meskipun ia tahu akan memimpin orang-orang yang lebih senior darinya. Ia tidak sibuk menjawab keraguan dengan kata-kata, tetapi dengan kerja nyata. Ia melangkah, menjalankan tugasnya, dan membuktikan bahwa kepercayaan yang diberikan kepadanya tidak salah. Di sinilah letak perbedaan antara pemuda yang hanya menunggu siap dengan pemuda yang bertumbuh karena diberi tanggung jawab.

Dari semua itu, kita diajak untuk merenung. Masa depan umat tidak menunggu pemuda menjadi tua. Justru mereka harus disiapkan sejak dini, diberi kepercayaan, dan dibimbing dengan nilai yang benar. Jika Rasulullah saw telah memberi teladan dengan mempercayakan kepemimpinan besar kepada seorang pemuda delapan belas tahun, maka pertanyaan yang seharusnya kita ajukan hari ini bukanlah apakah pemuda sudah siap memimpin, tetapi apakah kita sudah cukup berani untuk mempercayai mereka. (*)

Wallahu’alam




 
Top