Rosadi Jamani | Ketua Satupena Kalbar
DI SAAT Trump akan memblokade Selat Hormuz, negeri ini pintu gerbangnya malah dibuka oleh para bedebah. Mereka yang ingin memperkaya diri sendiri, bukan memperkaya negeri ini. Bersiaplah, kalian akan marah dan muak namun tetap waras berkat seruput Koptagul, wak!
Baru-baru ini KPK membongkar sarang setan di Ciputat. Di situ ada safe house. Di sanalah para bajingan itu menyimpan lima koper berisi Rp5,19 miliar uang tunai dalam pecahan rupiah, dolar Amerika, Singapura, Hongkong, ringgit, bahkan yen Jepang, plus 5,3 kg emas dan jam tangan mewah yang harganya bikin orang miskin cuma bisa meludah. Total barang bukti dari awal kasus ini sudah mencapai Rp40,5 miliar. Uang haram yang mengalir deras seperti air comberan dari para pengusaha barang KW yang ingin barang palsu, tiruan, dan ilegal mereka melenggang bebas masuk ke Indonesia tanpa pemeriksaan sedikit pun.
Praktik busuk ini sudah berlangsung setidaknya sejak Oktober 2025, dengan setoran rutin Rp7 miliar per bulan dari PT Blueray Cargo ke kantong para pejabat busuk itu. Mulai Desember 2025 sampai Februari 2026, uang haram itu mengalir mulus, disimpan di safe house seperti pencuri kelas kakap yang takut ketahuan. Siapa saja para maling berjas itu? Yang paling tinggi jabatannya adalah Rizal, mantan Direktur Penindakan dan Penyidikan Direktorat Jenderal Bea Cukai periode 2024–Januari 2026. Luar biasa, direktur yang seharusnya menindak malah jadi dalang utama!
Lalu ada Sisprian Subiaksono, Kepala Subdirektorat Intelijen Penindakan dan Penyidikan, si otak pengatur jalur hijau ilegal. Kemudian Orlando Hamonangan, Kepala Seksi Intelijen yang tangannya pasti gatal tiap ada setoran masuk. Ditambah lagi Budiman Bayu Prasojo, Kepala Seksi Intelijen Cukai Penindakan dan Penyidikan, tersangka ke-7 yang baru ditetapkan setelah KPK geledah safe house dan nemu koper-koper penuh uang itu.
Sementara dari pihak swasta, ada John Field pemilik PT Blueray Cargo, Andri ketua tim dokumen importasi, dan Dedy Kurniawan manager operasional, ketiganya penyuap yang rela keluarin miliaran supaya barang KW mereka banjiri pasar dan bunuh pelaku usaha jujur yang bayar pajak beneran.
Ini bukan korupsi biasa, ini pengkhianatan terhadap rakyat yang sudah parah! Barang KW dan ilegal bebas masuk, ekonomi dalam negeri hancur, UMKM bangkrut, pajak negara bocor, sementara para bajingan ini hidup mewah dengan uang haram yang seharusnya buat jalan raya, sekolah, atau bantu rakyat miskin.
Yang bikin darah mendidih, kasus ini lagi-lagi berhenti di tingkat bawah, cuma direktur, kasubdit, kasi, dan forwarder kecil. Ke mana Dirjen Bea Cukai? Ke mana pejabat Kemenkeu yang lebih tinggi? Ke mana penguasa tajir yang selama ini diduga jadi dalang besar di balik impor ilegal? KPK bilang kasus masih dikembangkan, bidik pejabat lain, tapi sampai April 2026 ini kita cuma lihat penangkapan di level operasional, sementara kepala ularnya masih berkeliaran bebas dengan senyum lebar. Sudah lama modus “jalur hijau berbayar” ini jadi penyakit kronis di Bea Cukai, bahkan KPK sendiri pernah petakan sejak 2016–2020, tapi tetap saja berulang seperti sindrom amnesia berat di negeri ini!
Sungguh memuakkan. Para bedebah itu adalah parasit negara yang tega jual kedaulatan demi segenggam uang haram. Mereka bukan cuma koruptor, mereka perusak bangsa yang bikin rakyat kecil semakin menderita.
Kalau nuan baca ini dan masih punya hati nurani, pasti ingin meludahi wajah-wajah busuk mereka. Ingin teriak “garong! maling! pengkhianat!” di depan hidung mereka. KPK, jangan setengah hati lagi! Bongkar sampai ke akar-akarnya, tarik ke atas, jangan biarkan yang lebih besar lolos dan tertawa di belakang kita semua. Kalau tidak, ini bukti lagi, negeri ini masih dikuasai para penjahat berkerah putih yang tak pernah kapok merampok rakyat. Cukup sudah! Rakyat sudah muak, geram, dan siap meludah ke sistem yang rusak ini! (*)
#camanewak
.jpg)
