PEPATAH Minang "Satinggi-tinggi tabang bangau, suruiknyo ka kubangan juo" (Setinggi-tinggi terbang bangau, surutnya ke kubangan juga) tampaknya menjadi garis hidup bagi Haji Azwar Wahid. Tokoh yang lebih akrab disapa Haji Sagi ini membuktikan bahwa kesuksesan di perantauan hanyalah jembatan untuk membangun tanah kelahiran, Padang Pariaman.

Dikenal luas sebagai saudagar emas papan atas yang menaklukkan pasar di tanah Jawa, pria berjuluk "Si Raja Emas dari Andalas" ini tidak silau oleh gemerlap kemewahan. Baginya, emas yang sesungguhnya adalah kemanfaatan yang ia tinggalkan untuk masyarakat di kampung halaman.

Membangun Peradaban Lewat Pendidikan

Haji Sagi sangat meyakini bahwa perubahan besar sebuah daerah dimulai dari meja sekolah. Itulah sebabnya, kedermawanannya banyak mengalir ke sektor pendidikan. Di Aur Malintang, jejak nyata beliau berdiri kokoh dalam bentuk sarana pendidikan mulai dari SMK, MAN, hingga MTs.

Langkah ini bukan sekadar bantuan fisik, melainkan upaya memutus rantai kemiskinan agar anak-cucu kemenakan di kampung memiliki daya saing yang sama dengan anak-anak di kota besar.

Benteng Iman dan Pemersatu Perantau

Sisi religiusitas Haji Sagi juga tak perlu diragukan. Beliau merupakan sosok utama di balik pemugaran berbagai masjid yang terdampak bencana gempa di Sumatera Barat. Baginya, masjid adalah rumah bagi masyarakat untuk mengadu dan memperkuat spiritualitas.

Tak hanya membangun fisik bangunan, beliau juga membangun "jembatan" persaudaraan melalui Ikatan Keluarga Ampek Koto Aur Malintang (IKAKO). Melalui wadah ini, Haji Sagi menyatukan potensi para perantau agar tetap memiliki ikatan batin dan kontribusi nyata terhadap nagari asal mereka.

Motivator Bagi Generasi Muda

Kisah hidup Haji Sagi yang berangkat dari keluarga sederhana di kampung hingga menjadi pengusaha sukses menjadi bahan bakar semangat bagi para pemuda Minang yang baru hendak mengadu nasib di rantau. Beliau sering berpesan bahwa kejujuran, kerja keras, dan doa orang tua adalah "modal emas" yang lebih berharga dari apa pun.

Kini, nama Haji Sagi telah terpatri sebagai simbol kedermawanan di Padang Pariaman. Beliau mengajarkan kita satu hal penting: bahwa kekayaan sejati tidak dihitung dari apa yang kita simpan, melainkan dari apa yang kita berikan.

#wkp/bin




Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top