Dr. Abdul Aziz, M.Ag | Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Mas Said, Surakarta
// Ledakan bom Israel itu mengguncang bumi Teheran pada hari Sabat (29/2/2026) — yang dalam tradisi Yahudi mestinya sakral dan hening. Tapi militer Israel tak peduli larangan agamanya, menumpahkan darah di hari Sabat (Sabtu).
Dampaknya, kompleks rumah Ayatullah Ali Khamenei porak-poranda oleh pemboman presisi Negeri Yahudi itu. Debu, darah, dan serpihan beton bercampur dengan tubuh para syuhada yang hancur dalam satu tragedi yang melampaui batas kemanusiaan.
Dalam hitungan jam, kabar itu menjelma menjadi narasi besar: Ayatullah Ali Khamenei tewas. Dunia terbelah antara yang percaya dan yang menunggu klarifikasi. Namun bagi Mazhab Syi’ah, kematian seorang Ayatullah bukan sekadar soal jasad; ia adalah peristiwa teologis, historis, dan politis sekaligus.
Dalam tradisi Syi’ah Dua Belas Imam (Itsna ‘Asyariyah), otoritas keagamaan bertumpu pada konsep wilayah al-faqih—kepemimpinan ulama sebagai wakil Imam Mahdi yang ghaib. Seorang Ayatullah memang bukan nabi, bukan pula imam maksum. Tetapi ia adalah rujukan moral dan hukum bagi jutaan pengikut mazhab Syiah.
Ketika seorang Ayatullah wafat secara alamiah, umat berkabung. Tetapi ketika ia gugur akibat agresi militer, maknanya bergeser: ia masuk ke dalam kosmologi kesyahidan.
Sejarah Syi’ah dibangun di atas tragedi peperangan dan pembunuhan. Dari Karbala hingga Qom, dari Najaf hingga Beirut, memori kolektif mereka adalah memori tentang pengorbanan dan kesyahidan.
Imam Husain, cucu Rasulullah Muhammad yang tewas di Karbala bukan sekadar figur masa lalu; ia adalah paradigma dan pahlawan langit yang abadi. Maka kematian seorang Ayatullah dalam serangan bom akan dibaca dalam lensa Karbala modern: ketidakadilan versus perlawanan, tirani versus martabat. Perlawanan terhadap kezaliman itu, dalam Mazhab Syi’ah, akan terus menyala sampai kiamat. Tak ada kata menyerah dalam kamus perjuangan kaum Syi’ah melawan ketidakadilan.
Peristiwa pemboman kompleks rumah Ayatullah di Teheran menjadi simbol yang lebih luas. Ia tidak berdiri sendiri. Pemboman itu tak hanya pelanggaran paling brutal terhadap keadilan. Tapi juga merupakan skenario geopolitik untuk menghancurkan struktur kenegaraan Iran yang berbasis wilayatul faqih.
Presiden Amerika Donald Trump menyatakan puluhan elite Iran tewas — termasuk Imam Khamenei — dalam operasi serentak tersebut; yang juga menargetkan fasilitas nuklir dan infrastruktur rudal balistik Iran. Iran pasti tak akan tinggal diam sebagai konsekwensi dari kewajiban jihadnya membela negara dan menuntut keadilan atas tewasnya pemimpin spiritual yang sangat dihormati itu.
Narasi di atas benar secara faktual. Dan karenanya kematian Ayatullah melampaui batas internal Iran. Ia berubah menjadi percikan dalam tumpukan mesiu global. Sebab pengikut mazhab Syi’ah tak hanya di Iran. Tapi juga di berbagai kawasan — Arab, Eropa, dan Asia.
Lalu, apakah perang dunia ketiga dimulai? Apakah peristiwa pemboman kompleks rumah sang Imam bisa disebut sebagai proklamasi tak langsung dimulainya konflik global baru?
Retorika tersebut mungkin terdengar hiperbolik, tetapi eskalasi militer di Teluk— dengan serangan balasan rudal dan drone ke pangkalan-pangkalan AS di Bahrain, Qatar, hingga UEA — menunjukkan bahwa lingkaran api memang melebar.
Dalam perspektif Syi’ah, darah syahid tidak pernah sia-sia. Ia menjadi energi mobilisasi. Ritual Asyura mengajarkan bahwa penderitaan bukan alasan menyerah, melainkan alasan untuk bangkit.
Maka kematian Ayatullah akibat pemboman akan dimaknai sebagai mazlumiyah — kezaliman yang menuntut pembelaan. Karenanya, Israel dan Amerika akan “dihukum” Iran, di mana pun berada.
Rejim Iran akan memperoleh legitimasi tambahan untuk mengonsolidasikan kekuatan. Di jalan-jalan Teheran, poster duka bisa berubah menjadi seruan perlawanan.
Bagi umat Syi’ah global— di Irak, Lebanon, Pakistan, hingga komunitas diaspora di Eropa —kematian Ayatullah akan membangkitkan solidaritas lintas batas. Narasi perlawanan terhadap hegemoni Barat menemukan martir baru. Genosida di Gaza, yang selama ini menjadi bara kemarahan kolektif, akan ditarik ke dalam satu garis lurus: Palestina dan Teheran sebagai dua bab dari kisah yang sama tentang ketidakadilan.
Apakah ini benar-benar awal Perang Dunia Ketiga? Sejarah mengajarkan bahwa perang besar sering dimulai oleh satu tembakan yang dianggap remeh. Tetapi sejarah juga menunjukkan bahwa diplomasi kerap lahir dari titik paling gelap.
Dalam perspektif Syi’ah, kematian bukan akhir; ia adalah transisi menuju makna yang lebih dalam. Syahid hidup dalam ingatan, dan ingatan adalah bahan bakar politik.
Pada akhirnya, kematian Ayatullah dalam pemboman bukan hanya soal satu figur. Ia adalah cermin retak dunia modern: agama dan geopolitik, kesyahidan dan kalkulasi militer, doa dan drone tempur. Dunia kini berdiri di persimpangan: apakah “tragedi ini akan melahirkan babak baru kekerasan, atau justru menjadi alarm terakhir sebelum kehancuran yang lebih luas?
Mazhab Syi’ah mengajarkan bahwa setiap “bacin Karbala” memiliki peluang untuk ditebus dengan kesadaran. Seperti ditunjukkan Imam Husein di tengah kaumnya saat dibantai Yazid di Karbala.
Tetapi kesadaran itu mensyaratkan kerendahan hati — sesuatu yang kerap hilang dalam arogansi kekuatan besar.
Kesadaran itu benar-benar hilang dalam diri Yazid yang arogan dan merasa besar. Jadilah Yazid membantai Imam Husein. Cucu Rasul itu kini menjadi martir dan pahlawan suci hingga kini di mazhab Syi’ah. Sementara Yazid kini dikenang sebagai monster perusak Islam, perusak keadilan, dan perusak kesadaran. Namanya bacin dalam sejarah. Sepanjang masa.
Umur bumi ini masih panjang. Sementara kezaliman Netanyahu dan Trump di Iran akan dicatat sejarah mendatang sebagai tiran kejam yang merusak keadilan dan kemanusiaan. (*)


