oleh ReO Fiksiwan | Sastrawan


“Kita adalah bangsa yang memiliki akar yang kuat; maka mengapa kita harus takut? Kita punya kemampuan yang banyak. Bangsa kita (Iran) juga memiliki kesiapan ilmu pengetahuan dan kekayaan material yang cukup melimpah, di samping latar belakang sejarah dan akar ilmu pengetahuan dan budaya yang panjang. Kita memiliki apa yang lebih penting dari semua itu, Yaitu keimanan, keislaman, dan ketawakalan kepada Allah.” 

— Imam Ali Khamenei (1939-2026), Latar Belakang Sejarah dan Akar Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Iran dalam Perang Kebudayaan (Terjemahan Penerbit Cahaya 2005).


// Tak ada yang tahu bagaimana Ayatollah Imam Ali Khamenei ingin mengakhiri hidupnya.

Namun hari naas pada Sabtu, 28 Februari 2026 waktu Iran, mustahil tak menjadi pertimbangan bagi dirinya dalam menghadapi tekanan Amerika dan hasrat Israel untuk menyingkirkannya.

Sebagai seorang mullah dengan karir politik selama tujuh dekade sejak revolusi Islam Iran 1979 dan Imam Ali Khamenei pada 1989 — setelah wafatnya Ayatollah Rohullah Khomeini — naik tampuk kepemimpinan tertinggi Garda Revolusi Islam Iran, lebih dari cukup untuk menguasai dan memahami hakikat kekuasaan yang diembannya.

Lebih dari itu pula, Imam Ali Khamenei telah memahami dinamika kekuasaan lebih dari lima presiden Amerika, Bush, Clinton, Obama, Trump dan Biden sepanjang hayatnya.

Innallaha allimun bi zatis sudur, hanya Allah dan Imam Ali Khamenei yang tahu bagaimana harus mati — betapapun berada di benteng kekuasaan — dalam keadaan husnul khotimah.

Dan takdir itu, meski tak sepenuhnya nyata, akhirnya dikabarkan Ayatollah Imam Ali Khamenei (87) wafat di ruang kerja bersama putrinya, menantu, cucu dan seorang pengawal pribadi setelah serangan Amerika dan Israel kepadanya dan kota Iran, Teheran yang mematikan.

Bagi seorang syahid, mati di jalan Allah telah jadi pilihan dan juga dijamin oleh Al-Qur’an. Dan tentu, itu pedoman bagi para syahid dari sejarah manapun dan kapanpun.

Dalam Surah Al-Baqarah ayat 154 ditegaskan: “Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

Lagi-lagi, ayat ini menjadi fondasi spiritual bahwa kematian seorang syahid bukanlah akhir, melainkan kemenangan ilahi yang paling awal dan terang.

Saied Reza Ameli, seorang akademisi Iran berusia 65 tahun, telah menulis biografi sang syahid: Ayatollah Seyed Ali Khamenei: The Life and Legacy of a Wise Leader (IHRC, 2025).

Buku setebal 144 halaman ini bukan sekadar kronologi, melainkan eksplorasi atas filosofi kepemimpinan Khamenei yang berakar pada hikmah ilahi, nilai Qurani, dan pandangan strategis.

Ameli menekankan bagaimana Khamenei membimbing Iran melewati transformasi internal besar sekaligus tekanan eksternal dari kekuatan global.

Ia digambarkan sebagai pemimpin yang menempatkan kebijaksanaan spiritual sebagai landasan keputusan, menjaga stabilitas sosial-politik, menghadapi dominasi Barat, dan meninggalkan warisan intelektual yang membentuk arah kebudayaan Iran hingga detik ini.

Namun untuk memahami dimensi manusiawi sang Imam Syahid Abad 21, kita perlu menengok karya Imam Ali Khamenei sendiri, Perang Kebudayaan (Al-Ghazww Ats-Tsaqâfi: Al-Mugaddimät wa Al-Khalfiyyät At-Târikhiyyah), terbitan Dar Al-Wiläyah, Qum, Ramadhan 1419 H; terjemahan Indonesia, penerbit Cahaya 2005.

Buku ini menghimpun pidato-pidato Khamenei tentang serangan budaya Barat, kolonialisme, dan perang kebudayaan kaum penjajah terhadap dunia Islam.

Ia menegaskan bahwa serangan Amerika di Timur Tengah dan Israel di Palestina bukan sekadar politik, melainkan bagian dari perang kebudayaan global terhadap Islam.

Pada sub bab tiga, Peminggiran Islam secara Sosial Politik dan Menjauhkannya dari Umat Islam, dikutip ia menandaskan:

“Saat kebudayaan tanah air menjadi pilar utama

pertahanan dari sudut kehidupan masyarakat, maka

sesungguhnya ia akan menjadi target pertama. Seandainya musuh bermaksud menyerang benteng yang paling kokoh, maka hal pertama yang dipikirkannya adalah mencapai pilar dari fondasi benteng itu agar dapat merobohkan dinding-dindingnya.”

Dan, “Janganlah dengarkan perkataan musuh-musuh, tapi dengarkan firman Allah Swt”:

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Bagarah: 120).

Akan tetapi, dalam perspektif filsafat budaya Persia, sebagaimana ditelusuri Muhammad Iqbal dalam The Development of Metaphysics in Persia (1908), tradisi Persia selalu menaruh perhatian pada spekulasi metafisik dan keterhubungan antara filsafat dengan agama.

Iqbal menunjukkan bagaimana dari Zoroaster hingga Baháʼí, Persia membentuk kerangka pemikiran metafisik yang luas dan berpengaruh.

Iman Ali Khamenei, sebagai pewaris tradisi itu, menempatkan perang kebudayaan bukan hanya sebagai isu politik, tetapi sebagai pertarungan metafisik antara nilai ilahi dan dominasi materialisme global.

Syahid abad-21 dalam perang kebudayaan berarti mati bukan sekadar sebagai korban politik, melainkan sebagai saksi atas kebenaran iman dalam pusaran sejarah.

Khamenei, dengan segala kontroversi dan pengaruhnya, menjadi simbol bagaimana kepemimpinan spiritual berhadapan dengan kekuatan global.

Ia wafat sebagai syahid yang terus hidup dalam teks Qurani, dalam biografi yang ditulis Ameli, dan dalam pidato-pidatonya yang menegaskan bahwa perang kebudayaan adalah medan jihad umat Islam di era modern. (*)

coversongs:

Lagu “Iran Revolution 2026 – Sogand” dirilis oleh Azad-Music-Iran pada 18 Januari 2026 melalui label independen Records DK dan distribusi DistroKid.

Maknanya dapat dibaca sebagai ekspresi musikal atas gelombang protes dan pergolakan sosial-politik di Iran.

Kata Sogand sendiri berarti “sumpah” dalam bahasa Persia, sehingga lagu ini membawa nuansa janji atau ikrar yang kuat.

Dalam konteks revolusi, sumpah itu bisa dimaknai sebagai komitmen rakyat untuk melawan penindasan, mempertahankan identitas, dan menegaskan solidaritas.

credit foto Ayatullah Imam Ali Khamenei di berbagai platform media, diubah dalam bentuk sketsa oleh AI. 



 
Top