Rosadi Jamani | Ketua Satupena Kalbar
// Sebelumnya saya sudah membahas keteguhan hati Roy Suryo. Sementara dr Tifa dicurigai netizen akan mengikuti langkah Rismon. Sebab, 10 hari ia seperti menghilang. Tiba-tiba nongol dan menyatakan, tetap konsisten membuktikan ijazah Jokowi palsu. Simak narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!
Tifauzia Tyassuma, akrab disapa dr Tifa. Tiba-tiba ia muncul ke publik. Tapi, muncul dengan aura seperti tokoh utama yang soundtrack-nya sudah dipesan khusus. Megah, dramatis, sedikit mistis, dan tentu saja bikin kubu sebelah gelisah setengah mati. Saat banyak orang mulai menebak-nebak ending, apakah ia akan tumbang? menyerah? ikut arus? eh, ceritanya malah belok tajam seperti tikungan jalan pegunungan tanpa rem.
Beberapa hari terakhir, jagat maya berubah jadi pasar gosip kelas kakap. Narasi dilempar ke sana-sini. “Dokter Tifa hilang!” “Tim hukumnya panik!” “Fix bakal minta damai!” Bahkan dibandingkan dengan Rismon yang sudah lebih dulu mengambil jalur restorative justice ke Jokowi, seolah semua akan berakhir dengan template nasional, datang, senyum, minta maaf, lalu selesai seperti sinetron kejar tayang.
Masalahnya, realita tidak tunduk pada ekspektasi netizen. Alih-alih muncul dengan wajah penuh penyesalan, dr Tifa justru comeback dengan gaya yang bikin algoritma kaget. Tulisan tangan, difoto, lalu disebar. Sederhana? Iya. Tapi efeknya seperti petir Ramadaan yang menyambar warung kopi penuh gosip. Ia tidak hilang. Ia tidak kabur. Ia hanya masuk mode sunyi. Rupanya ia tadarus, salat malam, membersihkan diri dari racun dunia yang makin hari makin absurd.
Isi pesannya bukan kalimat basa-basi. Ia secara terang menyayangkan langkah Rismon dan menegaskan dirinya tidak berada di jalur yang sama. Kata “jalan rendah” meluncur tanpa rem, seperti motor knalpot brong jam tiga pagi. Pedas, langsung, dan jelas bukan untuk telinga yang sensitif. Di saat sebagian memilih kompromi demi “damai”, ia justru memilih jalan yang lebih sepi, lebih terjal, dan tentu saja lebih bikin kepala pening bagi yang berharap semuanya berakhir rapi.
Tekanan? Jangan ditanya. Ini bukan level komentar jahat di medsos. Ini level tekanan yang datang halus seperti angin malam tapi efeknya bisa bikin lutut goyah. Bujukan hadir dengan berbagai rasa, dari yang manis sampai yang manipulatif tingkat dewa. Rismon yang dulu dikenal lantang akhirnya memilih jalur damai. Pilihan itu ada konsekuensinya. Namun di sisi lain panggung, dr Tifa tetap berdiri, seperti karakter yang menolak keluar meski layar sudah hampir ditutup.
Pahit tapi nyata. Di negeri yang sering bicara soal keberanian, keberanian itu sendiri justru terlihat seperti barang mewah. Banyak yang awalnya bersuara keras, lalu pelan-pelan volumenya turun seperti speaker kehabisan listrik. Sementara itu, ia tetap mempertahankan nada tinggi, meski risiko jelas bukan sekadar bahan candaan.
Nuan bayangkan durasinya. Ada 365 hari, 8.760 jam, 525.000 menit tekanan tanpa jeda. Ini bukan sekadar drama satu episode. Ini serial panjang tanpa kepastian ending. Banyak yang sudah memilih keluar dari cerita. Ia masih bertahan di dalamnya, entah sebagai pahlawan, entah sebagai tokoh kontroversial, tergantung siapa yang menilai.
Akhirnya, ini bukan cuma soal satu nama. Ini soal pilihan. Berdiri, tunduk, atau duduk santai sambil komentar sok tahu di kolom medsos. Panggung masih terbuka, cerita belum selesai, dan penonton semakin panas. Tinggal tunggu, siapa yang bertahan sampai episode terakhir, dan siapa yang diam-diam keluar lewat pintu belakang sambil pura-pura tidak pernah ada di cerita. (*)
#camanewak

