Tengku Zulkifli Usman #


TEL Aviv terus mendapatkan serangan Balistik Iran tanpa henti. Serangan Iran sudah masuk gelombang ke 16.

Selain Tel Aviv dan seluruh kota kota di Israel, Iran juga terus menembus pertahanan AS di berbagai wilayah di kawasan teluk. Pangkalan AS dan semua aset aset militer AS tidak ada yang selamat dari gempuran rudal Iran. 

Bukan hanya pangkalan militer AS yang terkena rudal, tapi pusat Intelijen, kedutaan besar, rumah diplomat, hotel mereka menginap, tempat mereka rapat, cell CIA dan Mossad, dan seluruh kepentingan AS di timur tengah sekarang dalam bidikan Iran dan telah banyak yang hancur. 

Anda bayangkan, dengan jarak ribuan kilometer, Iran menargetkan mereka semua tanpa pandang bulu, sistem pertahanan udara AS di teluk juga banyak dihancurkan Iran sehingga tidak bisa lagi menangkis banyak serangan. 

Iran memaksa jutaan penduduk Israel untuk masuk bunker, dengan masa depan yang tidak pasti. Bukan hanya rakyat biasa, Iran juga memaksa pejabat Israel dan pemerintah Israel lumpuh dan bekerja di bawah bungker. 

Di AS sendiri, Trump terus mendapatkan tekanan bahwa perang dengan Iran bukan kepentingan nasional AS, survei menunjukkan lebih 60% rakyat AS tidak setuju AS terlibat dalam perang melawan Iran. 

Perang ini adalah murni keinginan Trump dan Netanyahu, ini adalah ambisi dan hasil lobby lobby di belakang layar Antara AIPAC dan Trump. Netanyahu telah lama mempengaruhi Trump untuk menyerang Iran seperti diungkap oleh Media The New York Times. 

Perang yang semakin tidak mudah ini, membuat kepentingan nasional AS jangka panjang di wilayah timur tengah tidak menentu. Selama Iran masih sanggup bertahan, masa depan kepentingan AS di kawasan akan semakin tidak jelas. 

Iran terus memukul semua kepentingan AS tanpa pandang bulu, di hari hari mendatang, kemungkinan kita akan menyaksikan lebih banyak lagi serangan Iran yang akan memberikan tekanan langsung terhadap Trump. 

Perang dengan Iran adalah perang nya Trump dan Netanyahu sendiri, dengan membawa bawa nama AS dan dengan doktrin melawan Islam. Dokumen terbaru misalnya yang mengungkap, bahwa Mentri pertahanan AS Pete Hegseth mendoktrin tentara AS, bahwa perang ini atas nama Yesus melawan Iran. Anda bisa bayangkan doktrin sesat seperti ini? Pete Hegseth dikenal sebagai sosok paling pro Israel dan memiliki pandangan sangat ekstrem melawan Islam. 

Sayangnya, umat Islam memang tidak memahami dengan baik substansi konflik ini, pandangan umat Islam secara menyeluruh relatif terlihat parsial, dangkal, dan masih sibuk dengan isu isu recehan. Efek mayoritas umat Islam yang masih awam dan IQ jongkok inilah, mereka gagal paham tentang isu konflik geopolitik yang sebenarnya terjadi. 

Pemerintahan Trump saat ini adalah pemerintah bayangan penjaga Israel, kalau kita lihat semua kabinet Trump saat ini, hampir semua wajah dipenuhi dengan wajah ekstrem anti Islam dan mendorong penjagaan terhadap Israel secara maksimal dengan imbalan bisnis dan uang dari AIPAC.

Pemerintahan AS memang tidak pernah alpa dari wajah wajah pro Israel secara ekstrem, tapi dibawah pemerintahan Trump saat ini, wajah wajah ini semakin terlihat brutal dan terang terangan menampakkan wajah aslinya. 

Trump saat ini dengan kabinet perangnya, adalah reinkarnasi wajah pemerintah Bush yang sedang menyerang Irak yang juga dengan rekayasa dan dengan data penuh kebohongan. 

Maka setiap anda saat ini menyaksikan Trump pidato di gedung putih tentang perang melawan Iran, anda akan lihat penuh kebohongan sama seperti pidato Bush ketika dia menyerang Irak. 

Yang membuat berbeda adalah, Trump sedang menghadapi Iran yang lebih kuat dari Irak, ini yang membuat sekarang perang tidak lagi mudah dan murah bagi AS.

Kemampuan Iran bertahan bahkan menyerang jauh keluar teritorial Iran membuat kondisi sulit bagi agressor. AS dan Israel sedang menghadapi masalah besar jika perang ini tidak selesai dengan cepat. Trump dan Netanyahu berusaha menutupi fakta ini.

Di sisi lain, tatanan internasional saat ini memang sudah hancur, Trump sendiri sangat terang terangan melecehkan PBB dan semua lembaga internasional. Trump bertidak semaunya dan seolah dunia ini milik Israel dan AS yang disetir Trump dan Netanyahu.

Di sisi lain lagi, negara negara arab dan Islam masih tidur pulas dengan terus menerus memberikan retorika kosong dan omong kosong. Padahal secara kasat mata musuhnya sedang menghancurkan mereka semua.

Padahal mereka saat ini bisa melihat dengan kasat mata, bahwa Israel lemah, kedigdayaan Israel yang selama ini digembar-gemborkan adalah kosong. Tel Aviv dan kota kota lainnya terbakar, semua aset militer AS dan kepentingan diplomasi mereka dihancurkan oleh satu negara yang bahkan berjuang dibawah sanksi dan embargo puluhan tahun.

Dunia Islam tidak pernah mau melihat bagaimana lobby lobby Israel di AS, bagaimana grand design mereka menempatkan Netanyahu puluhan tahun di kursi PM Israel. Apa tujuan utama mereka? Menghancurkan dunia Islam jangka panjang. 

Dunia Islam saat ini memang sedang sangat terbelakang dengan kepemimpinan yang lemah dan kebanyakan rakyat yang tidak paham masalah. Kondisi seperti ini memang dipertahankan agar dunia barat leluasa terus berkuasa di timur tengah dan wilayah lain.

Saat ini, banyak negara tidak mau terlibat dalam konflik dengan Iran, banyak negara yang menolak mendukung Trump, bahkan negara itu berasal dari negara Eropa sendiri yang dulu pernah mendukung Bush menyerang Irak.

Mereka tidak mau terlibat bukan karena mereka cinta damai atau tidak mau perang, tapi mereka takut dengan balasan Iran jika mereka ikutan, Iran tidak selemah Irak dan mereka tidak mau kena getahnya.

Perang dengan Iran akan mereset kembali kepentingan AS dan Israel di masa depan di kawasan itu dan bahkan secara global, Iran negara terakhir saat ini yang berdiri melawan hegemoni dan dominasi AS dalam lanskap GeoPolitik diatas pundak dunia Islam.

Jika ada yang berpikir bahwa kalau Iran jatuh maka timur tengah akan damai, maka itu adalah pandangan sangat bodoh. Jika Iran jatuh maka akan ada gelombang baru GeoPolitik di kawasan itu yang akan sangat merugikan dunia Islam. Permusuhan AS dan Israel terhadap muslim tidak akan berhenti walaupun Iran sudah jatuh.

# Penulis adalah pengamat geopolitik internasional asal Banda Aceh



 
Top