Rosadi Jamani | Penulis

- Ketua Satupena Kalbar


// Tulisan ke-24 Edisi Ramadan. Tentang sahabat nabi yang memiliki ingatan kuat. Selalu bersama nabi. Karya terbesarnya bukan di medan pertempuan, melainkan periwayat 5.347 hadis. Simak kisahnya tanpa seruput Koptagul, wak!

Seandainya sejarah Islam adalah liga sepak bola, maka sebagian orang mungkin mengira para bintangnya adalah para jenderal perang, panglima berkuda, atau tokoh-tokoh dengan pedang berkilau seperti adegan film kolosal. Padahal, ada satu sosok yang senjatanya bukan pedang, bukan panah, bukan pula pasukan. Senjatanya adalah ingatan. Ingatan yang tajam seperti hard disk surgawi yang tidak pernah “error system”. Namanya Abu Hurairah radhiyallahu anhu. Lelaki sederhana dari Yaman ini kelak menjadi manusia yang meriwayatkan hadis Nabi Muhammad SAW paling banyak dalam sejarah. Tercatat lebih dari 5.374 hadis. Angka yang kalau dijadikan buku mungkin bisa membuat rak perpustakaan menghela napas panjang.

Sebelum menjadi legenda ilmu, hidup Abu Hurairah jauh dari kata glamor. Ia lahir sekitar tahun 603 M di wilayah Tihamah, Yaman, dari kabilah Bani Daus. Nama awalnya adalah Abdu Syams “hamba matahari”. Nama yang terdengar dramatis, seperti judul sinetron kolosal padang pasir. Setelah memeluk Islam, Rasulullah menggantinya menjadi Abdurrahman bin Sakhr. Namun dunia lebih mengenalnya dengan julukan Abu Hurairah, yang berarti “bapak kucing kecil”. Julukan ini bukan karena ia membuka pet shop di Madinah, melainkan karena sejak kecil ia suka bermain dengan anak kucing ketika menggembala kambing. Nuan bayangkan saja, seorang penggembala miskin di padang pasir, memeluk anak kucing sambil menatap langit Arab yang luas. Siapa sangka kelak namanya akan mengguncang sejarah ilmu.

Masa mudanya keras. Ia yatim, miskin, dan bekerja menggembala kambing. Tidak ada cerita tentang fasilitas negara, tidak ada kisah tentang proyek miliaran dinar. Hidupnya sederhana, bahkan nyaris tidak tercatat dalam sejarah besar. Akan tetapi sejarah sering punya selera unik. Kadang ia memilih tokoh dari tempat yang paling tak disangka.

Ketika pemimpin kabilahnya, Thufail bin Amr Ad-Dausi, pulang dari Makkah membawa kabar tentang dakwah Rasulullah, mayoritas orang Bani Daus menolak. Reaksi yang sangat manusiawi. Setiap zaman selalu punya kelompok yang alergi pada perubahan. Apalagi jika perubahan itu mengganggu kenyamanan tradisi lama. Namun di tengah kerumunan yang menolak itu, Abu Hurairah justru berdiri berbeda. Ia menerima Islam. Sendirian. Tanpa survei elektabilitas. Tanpa menunggu mayoritas.

Pada awal tahun 7 Hijriah, sekitar usia 26 tahun, ia hijrah ke Madinah. Bekalnya sederhana. Tidak ada rombongan besar. Tidak ada koper penuh logistik. Ia tiba ketika Rasulullah sedang dalam Perang Khaibar. Sejak pertemuan itu, hidupnya berubah total.

Ia membuat keputusan yang bagi manusia modern mungkin terdengar gila, memilih hidup miskin agar bisa selalu dekat dengan Nabi.

Abu Hurairah bergabung dengan kelompok Ahlush-Shuffah, para sahabat miskin yang tinggal di serambi Masjid Nabawi. Mereka tidak punya rumah tetap. Tidak punya ladang. Tidak punya bisnis. Kalau di zaman sekarang, mungkin mereka akan dianggap “tidak produktif secara ekonomi”. Padahal kenyataannya mereka sedang mengumpulkan kekayaan yang jauh lebih mahal, ilmu.

Abu Hurairah hampir tidak pernah meninggalkan majelis Rasulullah. Ketika sahabat lain berdagang di pasar atau bekerja di ladang, ia duduk mendengarkan, menghafal, dan mengulang setiap perkataan Rasulullah. Ia sendiri pernah berkata dengan jujur, Muhajirin sibuk di pasar, Anshar sibuk di ladang, sedangkan aku orang miskin yang selalu bersama Rasulullah.

Hasilnya? Luar biasa. Ia meriwayatkan lebih dari 5.374 hadis. Jumlah yang membuat para ulama hadis menggeleng kagum sepanjang sejarah. Bahkan sahabat besar seperti Abdullah bin Umar mengakui bahwa Abu Hurairah adalah orang yang paling banyak menghafal hadis Nabi.

Padahal awalnya hafalan beliau tidak istimewa. Ia pernah mengadu kepada Rasulullah karena sering lupa. Nabi lalu mendoakannya agar diberi hafalan yang tidak hilang. Sejak saat itu memorinya berubah drastis. Ia membagi malamnya seperti seorang manajer waktu kelas dunia, sepertiga tidur, sepertiga membaca Alquran, dan sepertiga mengulang hadis.

Namun jalan ilmu itu tidak selalu nyaman. Abu Hurairah sering kelaparan. Ia pernah pingsan di dekat mimbar masjid karena lapar sampai orang-orang mengira ia terkena gangguan jiwa. Padahal penyebabnya sederhana, perut kosong. Pada suatu hari ia bahkan mengikat batu di perutnya untuk menahan lapar. Metode diet yang jelas tidak direkomendasikan oleh ahli gizi modern, tetapi menjadi bukti kesabarannya yang luar biasa.

Meski begitu, kisah hidupnya bukan hanya tentang kemiskinan dan hafalan. Ia juga pernah menjadi pejabat. Khalifah besar Umar bin Khattab pernah mengangkatnya sebagai gubernur Bahrain. Bayangkan transformasinya. Dari penggembala kambing menjadi gubernur wilayah penting. Namun ketika hartanya diperiksa oleh Umar karena kekhawatiran adanya penyalahgunaan, Abu Hurairah tidak marah, tidak membuat drama politik, tidak menyalahkan oposisi. Ia langsung menyerahkan hartanya ke Baitul Mal untuk diperiksa. Setelah terbukti bersih, jabatan itu bahkan ia tolak kembali karena takut tergelincir oleh kekuasaan.

Sebuah sikap yang jika diajarkan di sekolah politik modern mungkin bisa membuat sebagian politisi berkeringat dingin.

Abu Hurairah wafat di Madinah sekitar tahun 57–59 Hijriah pada usia sekitar 78 tahun. Ribuan orang mengiringi jenazahnya. Mereka tidak mengenangnya sebagai orang kaya, bukan pula sebagai penguasa besar, melainkan sebagai penjaga sunnah Rasulullah.

Dari seorang penggembala miskin yang bermain dengan anak kucing di padang pasir Yaman, lahirlah salah satu penjaga terbesar warisan Nabi. Kisah Abu Hurairah adalah bukti, kehebatan manusia tidak selalu lahir dari istana kekuasaan. Kadang justru lahir dari hati yang sederhana, perut yang sering lapar, dan tekad yang tidak pernah lelah mengejar ilmu. (*)

#camanewak



 
Top