Rosadi Jamani | Penulis

- Ketua Satupena Kalbar


// Tidak lama lagi Piala Dunia. Salah satu pesertanya, Iran. Amerika juga peserta, karena tuan rumah. Iran masih gamang. Paman Sam tenang. FIFA pura-pura posisi imbang. Nikmati narasinya sambil imagine seruput Koptagul, wak!

Episode terbaru perang Iran vs Israel-Amerika soal Piala Dunia 2026. Iran salah satu kontestan. Apa reaksi Donald Trump ditanya Iran tampil di negaranya sendiri?

Jawaban Trump pendek, padat, dan beraroma santai seperti orang yang sedang menilai pertandingan futsal antar-RT. “Saya benar-benar tidak peduli jika Iran ikut.” Lalu ia menambahkan bumbu analisis geopolitik yang terdengar seperti komentar setelah menonton highlight YouTube. Iran disebutnya sudah “kalah telak dalam konflik” dan “kehabisan tenaga”. Kalimat itu dikutip oleh New York Times dan langsung menyebar ke seluruh planet seperti bola liar di kotak penalti.

Masalahnya, di balik komentar santai itu ada teka-teki besar yang membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Iran sudah lolos ke Piala Dunia 2026. Tim yang dikenal sebagai Team Melli bahkan disebut berada di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru. Turnamennya sendiri akan digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Ironinya, semua laga fase grup Iran dijadwalkan berlangsung di wilayah kekuasaan Trumpt. Ini seperti mengundang seseorang makan malam di rumah ente setelah baru saja terjadi baku hantam di halaman depan.

Ketegangan geopolitik memang sedang panas. Apakah Iran benar-benar akan datang ke turnamen tersebut. Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Taj, bahkan mengakui situasi keamanan membuat partisipasi tim sulit dipastikan. Dengan kata lain, tiket Piala Dunia sudah di tangan, tetapi pesawatnya belum tentu berani lepas landas.

Yang menarik justru sikap FIFA. Organisasi sepak bola paling berkuasa di dunia itu sampai sekarang belum memberikan keputusan apa pun. Pernyataan resmi mereka hanya satu, fokus utama adalah memastikan turnamen berjalan aman. Kalimat ini terdengar indah, tetapi juga sangat praktis karena artinya bisa ditafsirkan apa saja, seperti ramalan zodiak.

Di sinilah muncul perbandingan yang membuat banyak orang mengangkat alis. Pada 2022, ketika Rusia menginvasi Ukraina, FIFA bergerak sangat cepat. Rusia langsung dilarang tampil di Piala Dunia Qatar. Alasannya jelas, agresi militer yang melanggar hukum internasional dan menciptakan krisis kemanusiaan.

Logika sederhana kemudian muncul. Jika negara yang memulai serangan militer dihukum, maka standar yang sama seharusnya berlaku pada kasus lain. Dalam konteks konflik Iran, serangan militer yang memicu eskalasi justru datang dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Artinya posisi “penyerang” dalam konflik ini tidak berada di pihak Iran. Namun sampai sekarang FIFA tidak memberikan sanksi apa pun kepada pihak mana pun yang terkait.

Di titik ini sepak bola global mulai terlihat seperti laga yang wasitnya memegang dua kartu merah tetapi hanya dipakai untuk satu tim. Banyak pengamat menyebut situasi ini sebagai standar ganda. Rusia disanksi cepat karena jelas memulai invasi. Namun ketika konflik melibatkan Amerika Serikat yang kebetulan juga menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, semuanya tiba-tiba berubah menjadi wilayah abu-abu yang penuh kehati-hatian.

FIFA sendiri tampaknya memilih strategi paling aman dalam sejarah birokrasi olahraga, menunggu. Jika Iran akhirnya mundur karena alasan keamanan, FIFA punya mekanisme untuk menunjuk pengganti dari Asia. Jika Iran tetap datang, turnamen tetap berjalan. Jika konflik makin panas, barulah mungkin keputusan besar diambil. Sampai saat itu, bola dibiarkan menggantung di udara.

Narasi sebenarnya jauh lebih sederhana sekaligus lebih menyebalkan. Rusia dihukum karena memulai serangan militer terhadap Ukraina. Dalam konflik Iran, serangan militer justru datang dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, tetapi belum ada sanksi apa pun dari FIFA. Organisasi itu memilih diam sambil menunggu situasi berkembang.

Hasilnya adalah sebuah panggung sepak bola yang terasa seperti drama politik global. Jadwal pertandingan sudah ada, stadion sudah siap, grup sudah disusun, tetapi kepastian keikutsertaan satu tim masih menggantung di tengah konflik geopolitik.

Pembaca mungkin berharap ada penutup yang memberi rasa lega. Sayangnya tidak ada. Yang ada hanya satu kesimpulan pahit. Di dunia sepak bola internasional, bola memang bulat, tetapi standar keadilannya kadang lebih elastis dari jaring gawang.

“Bang, kalau Iran batal ikut Piala Dunia, Timnas kita dong yang gantikan.”

“Hus, ente ngarap benar agar Rizky Ridho cs ikut Piala Dunia. Iran itu terkenang pantang mundur, wak!” (*)

#camanewak






 
Top