SAYA yakin, inilah seni tingkat tinggi dalam politik yang tidak diajarkan di universitas mana pun, bahkan tidak ditemukan di buku-buku teks tentang strategi perang, yakni seni mempermalukan lawan dengan kebaikan.
Kita tahulah, dalam riuh rendah jagat digital, nama Rismon Hasiholan Sianipar bukanlah sosok yang asing. Ia adalah sang pemegang tongkat estafet narasi "ijazah palsu" dan penulis yang dengan gagah berani (atau mungkin nekat) menyusun nisan literasi bertajuk "Gibran End Game".
Bagi Rismon, keluarga Jokowi barangkali adalah personifikasi dari segala hal yang harus didekonstruksi, kalau tidak mau disebut didegradasi.
Namun, lihatlah pemandangan di Solo. Ada sebuah paradoks yang berjalan pelan namun mematikan. Sang Presiden [kini mantan-red) yang ijazahnya habis-habisan disebut palsu oleh Rismon, justru menyambutnya dengan tangan terbuka.
Lalu Gibran, sang anak, yang dalam narasi Rismon disebut bahkan tak lulus SMA, memberi Rismon sebuah parcel lebaran saat Rismon berkunjung ke Istana Wapres. Ini asli pemberian atau menyimpan ranjau penghinaan yang siap meledak.
Isi parcel mungkin tidak istimewa, biasa saja sebagaimana umumnya parcel, hanya kue kering, sirop, atau camilan khas Solo. Sederhana, tapi dalam konteks ini, parsel itu berubah menjadi hulu ledak psikologis yang daya hancurnya jauh lebih dahsyat ketimbang balas dendam hukum.
Belum sampai Rismon di pengadilan, tetapi vonis restorative justice (RJ) dan parcel merupakan vonis menyakitkan dan penjara rasa malu seumur hidup yang harus ditanggung selagi hidup. Itupun kalau dia masih punya kemaluan.
Strategi "menampar tanpa tangan" inilah rupanya yang menjadi gaya "balas dendam" ala keluarga itu. Mereka tidak menggunakan pasal karet atau mengerahkan aparat untuk menjemput paksa di tengah malam. Mereka justru menggunakan etika sebagai senjata.
Ketika seseorang dilempari kotoran, ia tidak membalas dengan lemparan serupa agar tangannya tidak ikut berbau busuk. Ia justru membalas dengan menyemprotkan parfum ke wajah si pelempar.
Bayangkan sendiri perasaan Rismon. Bagaimana rasanya mengunyah nastar yang dikirimkan oleh orang yang dalam buku Anda adalah "musuh besar" yang tidak berkompeten? Setiap gigitan kue itu mestinya terasa seperti mengunyah harga diri yang sedang rontok perlahan-lahan.
Ini bukan sekadar kebaikan yang tulus, melainkan sebuah pertunjukan kekuasaan yang elegan. Jokowi dan Gibran sedang mempraktikkan stoisisme politik: membiarkan lawan bicara habis-habisan, lalu memukulnya balik dengan realitas bahwa mereka tetap berdiri tegak, tetap berkuasa, dan yang paling menyakitkan —mereka tetap baik kepada Anda.
Jadi, kita dihadapkan pada sebuah pertanyaan apakah Jokowi sedang benar-benar memaafkan, atau ia sedang melakukan teknik finishing dalam catur politiknya?
Mempermalukan lawan dengan cara memenjarakannya hanya akan menciptakan martir. Tapi mempermalukan lawan dengan cara memberinya hadiah adalah cara paling efektif untuk menciptakan "zombie" hidup politik. Lawan tidak mati, tapi ia kehilangan alasan untuk terus menggonggong.
Di tangan keluarga Solo ini, "balas dendam" tidak lagi identik dengan kemarahan, apalagi kekerasan, melainkan dengan ketenangan yang menghinakan.
Mereka tidak meruntuhkan argumen Rismon dengan data tandingan, mereka meruntuhkannya cukup dengan sebuah parsel lebaran.
Sebuah parsel yang pemberinya seolah berbisik, "Terima kasih atas bukunya, tapi ini ada sedikit rezeki untuk Anda rayakan bersama keluarga ya, Lae."
Jika Rismon masih memiliki sisa-sisa rasa malu, parsel itu akan terasa lebih berat dari tumpukan buku yang pernah ia tulis.
Namun, jika rasa malu itu sudah didiskon habis-habisan oleh ambisi, ya, kita tahulah... parsel itu mungkin hanya akan dianggap sebagai "bonus" dari sebuah drama yang gagal mencapai ending-nya.
# Pepih Nugraha

