JAKARTA -- Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar prihatin dengan adanya gerakan boikot terhadap produk pro-Israel dan Amerika Serikat (AS). Menurutnya, gerakan boikot tak memberi efek untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah.

Hal itu diungkapkan Nasaruddin saat memberi sambutan di acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Kadin Indonesia di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026). Mulanya, ia mengaku sempat mengundang para pelaku usaha ke Masjid Istiqlal beberapa waktu lalu.

"Saya sampaikan, saya mengundang Bapak, Ibu ke Istiqlal ini bukan untuk meminta, jadi ini bukan fundraising. Saya datangkan ke sini untuk memberikan support, karena dunia usaha pada saat itu ya, ketika ada boikot-boikot segala macam itu, produk-produk yang berbau Israel, berbau Amerika," ucap Nasaruddin.

Imam besar Masjid Istiqlal itu pun menilai, gerakan boikot bukan jadi solusi penyelesaian. Untuk itu, Nasaruddin prihatin dengan adanya gerakan boikot produk pro-Israel dan AS.

"Saya orang yang termasuk prihatin dengan konsep-konsep boikot ini. Saya tahu persis apa yang sedang terjadi di sana. Boikot itu bukan jalan keluar untuk mengatasi persoalan besar yang ada di situ," tutur Nasaruddin.

"Buktinya tetangga-tetangga Israel sendiri, ke Mesir, ke Lebanon, di mana-mana ada McDonald's. Masa kita di sini malah jauhi? Kita rugi dobel kan?, saya sampaikan, di sana puluhan ribu kita dibantai, di sini ribuan di-PHK," imbuhnya.

Menurutnya, lebih dari 3 ribu pegawai makanan cepat saji di Indonesia terkena PHK akibat adanya gerakan boikot produk pro-Israel dan AS. "Loh, ini berarti umat Islam dua kali rugi. Di sana dibantai, di sini di-PHK. Yang untung siapa?" tanya Nasaruddin. 

#trb/bin





Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
 
Top