TEHERAN -- Di tengah gempuran udara masif yang melanda berbagai titik strategis di Iran pada Sabtu (28/2/2026), Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memberikan pernyataan resmi terkait kondisi pucuk pimpinan tertinggi negara.
Dalam sebuah wawancara eksklusif dengan NBC News, Araghchi menepis spekulasi mengenai kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Merespons kabar yang beredar luas di media internasional pascaserangan gabungan Amerika Serikat dan Israel, Araghchi menegaskan stabilitas kepemimpinan di Teheran. "Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei masih hidup, sejauh yang saya ketahui," ungkapnya singkat dan tegas guna menenangkan gejolak informasi.
Menlu Araghchi juga menyoroti seruan Presiden AS Donald Trump yang mendesak rakyat Iran untuk melakukan perubahan rezim. Diplomat senior tersebut menilai bahwa narasi yang dibangun oleh Washington merupakan sebuah kesia-siaan politik.
"Pesan Trump tentang perubahan rezim di Iran adalah 'misi yang mustahil'," cetusnya dengan nada sarkastis.
Menurut Araghchi, struktur kekuasaan dan dukungan domestik di Iran tidak akan goyah hanya karena tekanan militer dari luar.
Mengenai peluang diplomasi, Araghchi menegaskan bahwa hingga detik ini belum ada komunikasi resmi yang terjalin dengan pihak Gedung Putih. Meski pintu dialog tidak sepenuhnya tertutup, Teheran menetapkan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh Washington jika ingin kembali ke meja perundingan.
"Jika Washington ingin berbicara, mereka tahu bagaimana menghubungi Iran. Namun, serangan harus dihentikan terlebih dahulu sebelum ada kemungkinan untuk berbicara," tambah Araghchi.
Ia juga mengakui adanya kerugian di pihak militer akibat serangan udara Sabtu pagi tersebut. Araghchi mengonfirmasi bahwa satu atau dua komandan militer telah gugur, namun ia memastikan bahwa sebagian besar pejabat teras dan infrastruktur komando Iran masih berfungsi dengan baik dan dalam kondisi selamat.
Dalam wawancara tersebut, Araghchi kembali menekankan bahwa ada ruang bagi kesepakatan internasional yang menjamin bahwa program nuklir Iran tetap bersifat damai. Ia juga membantah tuduhan AS bahwa Iran tengah membangun senjata pemusnah massal yang mampu menjangkau daratan Amerika.
"Iran tidak memiliki kemampuan untuk menyerang AS dan tidak akan membangun rudal yang dapat melakukan hal itu," tutupnya. Pernyataan ini dipandang sebagai upaya untuk menurunkan tensi global sembari mempertahankan kedaulatan Iran di hadapan agresi militer yang masih berlangsung di kawasan Teluk.
#bsc/bin

