Rosadi Jamani | Penulis
- Ketua Satupena Kalbar
// Kita update perang Israel vs Iran. Negeri para mullah itu benar-benar ngamuk. Ada 27 pangkalan militer AS dibom. Iran mengklaim, 560 tentara Paman Sam tewas. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Nuan bayangkan, Timur Tengah sebagai dapur kolosal selebar samudra. Tempat nasi kebuli dimasak dengan kayu bakar bernama dendam dan anginnya dikipasi rudal balistik. Per 2 Maret 2026, dapur itu bukan sekadar panas. Ia sudah seperti tungku kiamat yang apinya disiram bensin geopolitik.
Setelah Ali Khamenei wafat dalam serangan gabungan AS-Israel, Iran tidak memilih mendinginkan kuah. Mereka memilih menambah bara. Klaimnya tegas dan mantap seperti chef yang percaya diri di depan kamera:. Ada 27 pangkalan militer AS dihantam. Dua puluh tujuh. Bukan angka kaleng-kaleng, ini seperti daftar menu prasmanan nasi biryani edisi perang.
Media internasional seperti CNN, Al Jazeera, Reuters dan The New York Times memang baru mengonfirmasi serangan signifikan di sejumlah pangkalan utama. Bahkan Wikipedia tetap memperbarui data di tengah dentuman. Namun di dapur versi Teheran, semua sudah matang, empuk, dan siap disajikan sebagai kemenangan epik.
Naval Support Activity Bahrain, markas Armada e-5 AS, jadi seperti nasi kebuli pertama yang disiram kuah mendidih. Ledakan rudal dan drone mengguncang area militer, bahkan merembet ke bandara dan bangunan sipil. Manama mendadak seperti restoran mewah yang dapurnya kebakaran saat jam makan malam.
Di Qatar, Al Udeid Air Base dihujani rudal balistik dan drone. Pangkalan terbesar AS di kawasan itu ibarat nasi mandie yang ditutup rapat dalam tanah, lalu tiba-tiba digali paksa. Qatar mengklaim sebagian intersepsi berhasil, tetapi tetap ada dampak. Seperti sambusa yang digoreng terlalu banyak, pasti ada yang pecah dan menyipratkan minyak.
UEA melalui Al Dhafra Air Base ikut tersentuh bara. Ledakan dilaporkan, dan area sipil seperti Dubai merasakan imbasnya. Kuwait lewat Ali Al-Salem Air Base mengalami kerusakan runway dan gangguan operasi, seperti nasi kafsah yang setengah matang karena api terlalu besar lalu mendadak padam. Yordania pun kena, dengan Muwaffaq Al-Salti Air Base menjadi sasaran. Sebagian rudal dicegat, sebagian lolos seperti butiran beras yang terlempar dari sendok raksasa.
Israel juga disebut-sebut ikut merasakan panasnya wajan. Tel Nof, Beit Shemesh, Tel Aviv masuk daftar. Namun puncak dramanya ada pada narasi korban.
Versi resmi AS menyebut minimal empat prajurit tewas. Angka yang terdengar “terkendali” di tengah badai. Namun dari versi media pro-Iran seperti Press TV, Tasnim News Agency, dan Fars News Agency plus pernyataan resmi IRGC, jumlah korban dari pihak Amerika dan Israel ada “ratusan” sampai 560 prajurit AS tewas dan luka. Israel digambarkan sebagai korban “kejutan besar”, bahkan nasib perdana menterinya disebut “tak jelas” setelah gelombang rudal. Bahkan beredar luas, Benyamin Netanyahu dinyatakan tewas. Benar atau tidak, tinggal keyakinan kalian aja deh.
Ini bukan sekadar berita. Ini propaganda level dewa. Seperti berkata, “kami cuma balas dendam kecil,” padahal nasi bukhori sudah tumpah ke seluruh meja dan tirai restoran ikut terbakar.
Untuk Amerika, IRGC mengklaim gelombang terbaru Operasi True Promise 4 yang sudah mencapai wave ke-10 per 2 Maret 2026, telah menimbulkan total 560 personel militer AS tewas dan luka. Klaim ini disajikan seperti chef yang memamerkan hidangan raksasa sambil berkata, “Silakan lihat sendiri hasilnya.”
Di sisi lain, 555+ korban sipil Iran akibat serangan AS-Israel sebelumnya terus diangkat sebagai dasar moral bahwa tungku ini lebih dulu dinyalakan dari seberang.
Konflik baru hari ketiga, tetapi aromanya sudah seperti nasi kebuli yang dimasak dengan kayu gaharu dan bensin sekaligus. Dunia menonton dengan napas tertahan. Di dapur raksasa ini, tidak ada yang benar-benar kenyang. Yang ada hanya asap tebal, bara dendam, dan suara dentuman seperti sendok besi raksasa menghantam panci sejarah tanpa henti. (*)
#camanewak

