Apa Efek Buat Indonesia?

Oleh Denny JA


// Merenungkan kemungkinan aksi balasan Iran atas terbunuhnya Imam Khamenei dengan menutup Selat Hormuz, saya teringat satu musim dingin pada tahun 2012.

Di Amerika Serikat, sebuah pom bensin di Ohio dipenuhi antrean mobil yang lebih panjang dari biasanya. Angin menggigit kulit.

Para pengemudi berdiri di samping mobilnya, menatap angka digital yang terus bergerak naik seperti jarum tanpa hati.

Harga bensin melonjak drastis.

Seorang sopir truk kecil menggenggam struk pembayaran seakan memegang putusan takdir. Dalam hitungan cepat di kepalanya, ia melihat ruang hidupnya menyempit.

Biaya bahan bakar naik. Ongkos kirim naik. Keuntungannya menguap. Ia tidak berteriak. Ia hanya diam. Diam yang berat, diam yang tahu ia tidak punya kuasa atas badai yang datang dari ribuan kilometer jauhnya.

Di ruang redaksi televisi, grafik harga minyak Brent menembus 110 dolar Amerika Serikat per barel. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat memuncak. Ancaman penutupan Selat Hormuz membuat pasar panik.

Tidak ada selat yang benar benar ditutup total. Tetapi cukup ada ketakutan bahwa pasokan akan terganggu. Dan ketakutan, dalam pasar energi, sering kali lebih kuat daripada kenyataan.

Di Washington, Presiden Barack Obama mengumumkan pelepasan cadangan minyak strategis untuk meredakan gejolak.

Di rumah rumah sederhana Amerika, keluarga keluarga mulai menghitung ulang hidupnya. Liburan dibatalkan. Perjalanan dipangkas. Makan di luar dikurangi. Anggaran dipersempit. Harapan ditahan.

Di Selat Hormuz sendiri, tidak terdengar tangis. Yang terlihat hanya kapal tanker, radar, dan bayangan rudal. Namun getarannya menjalar ribuan kilometer, masuk ke kota kota kecil, masuk ke dapur dapur keluarga biasa.

Saat itu dunia belajar satu hal.

Tidak perlu perang besar untuk mengguncang ekonomi global.

Cukup satu selat sempit.

Cukup satu ancaman.

Pertanyaan itu tetap menggantung hingga kini.

Akankah ini terulang kembali?

-000-

Iran sedang luka. Luka itu bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin. Ia adalah luka harga diri sebuah bangsa yang merasa dipermalukan di hadapan dunia.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, tewas dalam serangan yang memicu krisis suksesi dan eskalasi konflik.

Dalam situasi seperti itu, Iran memegang satu tuas yang tidak memerlukan tank atau invasi darat. Senjata minyak melalui Selat Hormuz.

Data Badan Informasi Energi Amerika Serikat menunjukkan sekitar dua puluh juta barel minyak per hari melintas di selat ini.

Itu setara kira kira dua puluh persen konsumsi cairan petroleum dunia. Seperlima napas energi global melewati lorong sempit itu.

Mengapa Hormuz begitu menentukan?

Pertama, karena dunia modern berdiri di atas minyak. Jika alirannya tersendat, mesin ekonomi global batuk serentak. Biaya logistik naik. Harga pangan terdorong. Inflasi merayap. Suku bunga tertekan. Rantai pasok yang tampak kokoh tiba tiba terasa rapuh.

Iran memahami bahwa untuk membuat dunia mendengar, cukup ganggu nadinya.

Kedua, karena ini bentuk perang asimetris yang efisien tetapi memukul keras. Tidak perlu menutup selat sepenuhnya.

Cukup menciptakan risiko. Kapal enggan melintas. Premi asuransi melonjak. Jadwal pengiriman terganggu. Dalam hitungan hari, pasar bereaksi.

Reuters pernah melaporkan bahwa eskalasi risiko di kawasan ini mendorong harga Brent naik lebih dari delapan persen dalam waktu singkat. Harga bergerak bukan hanya oleh fakta, tetapi oleh rasa takut akan apa yang mungkin terjadi.

Ketiga, karena ini panggung psikologi politik. Dalam momen duka nasional, rezim perlu menunjukkan bahwa mereka tidak diam. Selat Hormuz menjadi simbol pembalasan yang dampaknya terasa hingga ke layar perdagangan energi dunia.

-000-

Selat Hormuz bukan sekadar titik geografis. Ia adalah lembar panjang sejarah perdagangan manusia.

Berabad abad lalu, ia menjadi gerbang masuk Teluk Persia, menghubungkan India, Arabia, Persia, dan dunia yang lebih jauh.

Pada tahun 1507, Portugis merebut Hormuz untuk mengendalikan jalur dagang. Benteng didirikan. Lalu lintas diawasi. Kekuasaan ditentukan oleh siapa yang menguasai pintu sempit itu.

Namun maknanya berubah drastis ketika perdagangan global berevolusi menjadi perdagangan energi.

Selat ini adalah satu satunya jalur laut yang menghubungkan Teluk Persia yang kaya minyak dengan samudra lepas. Dari rempah dan sutra, ia bergeser menjadi jalur tanker raksasa.

Dunia mengganti komoditasnya, tetapi tidak pernah berhasil mengganti ketergantungannya.

Iran memang bukan pemilik tunggal selat itu. Tetapi geografi dan posisi militernya memberi pengaruh besar. Kedekatan pantai Iran dan pulau pulau strategis di sekitarnya membuatnya mampu menciptakan risiko secara cepat, bahkan tanpa menutup jalur secara resmi.

-000-

Awal 2012 memberi pelajaran konkret. Saat ketegangan Iran dan Amerika Serikat memuncak dan ancaman penutupan muncul, harga Brent melonjak dari sekitar sembilan puluh tujuh dolar menjadi sekitar seratus sebelas dolar dalam waktu singkat.

Yang menggerakkan harga bukan penutupan total. Yang menggerakkan adalah kecemasan.

Minyak ditentukan oleh pasokan. Tetapi ia juga ditentukan oleh persepsi, ekspektasi, dan ketakutan kolektif.

-000-

Besarnya peran Selat Hormuz dalam geopolitik energi direkam dengan mendalam dalam dua buku penting.

Pertama, The Prize: The Epic Quest for Oil, Money and Power karya Daniel Yergin, terbit tahun 1991. Buku ini menelusuri bagaimana minyak membentuk politik dunia modern.

Dari krisis 1973 hingga gejolak 1979, Yergin menunjukkan bahwa minyak bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi instrumen kekuasaan dan pengaruh global. Dalam konteks Hormuz, buku ini memberi fondasi historis mengapa jalur sempit itu selalu menjadi titik rawan.

Ancaman saja cukup menggerakkan harga karena pasar energi hidup dari ekspektasi dan kecemasan.

Kedua, The New Map: Energy, Climate and the Clash of Nations juga karya Daniel Yergin, terbit tahun 2020. Buku ini menggambarkan lanskap energi abad ke dua puluh satu, termasuk rivalitas Iran, Amerika Serikat, dan negara negara Teluk.

Hormuz diposisikan sebagai simpul tempat energi, politik, dan psikologi global bertemu. Tidak perlu penutupan total. Cukup risiko yang meningkat, dan pasar bereaksi seketika.

Kedua buku itu memberi pelajaran yang tenang namun menggetarkan. Dunia modern tampak besar dan kuat. Tetapi napasnya masih melewati satu selat yang sempit.

-000-

Bagi Indonesia, ini bukan sekadar drama internasional. Ini menyentuh dapur.

Indonesia adalah pengimpor bersih minyak. Konsumsi melampaui produksi. Ketika harga minyak mentah Indonesia dan harga minyak dunia naik, beban keuangan negara ikut membesar.

Subsidi energi dan kompensasi meningkat. Setiap kenaikan harga global berarti tambahan tekanan pada anggaran negara, yang pada akhirnya menyempitkan ruang untuk pendidikan, kesehatan, dan bantuan sosial.

Minyak adalah fondasi logistik. Ketika bahan bakar naik, harga pangan dan kebutuhan pokok terdorong. Inflasi tidak datang sebagai angka di layar, tetapi sebagai pengurangan isi kantong belanja.

Krisis energi global juga sering melemahkan mata uang negara pengimpor, menaikkan biaya impor, dan memperbesar tekanan harga. Nilai tukar bergetar, pasar cemas, dan rumah tangga kecil kembali menjadi penyangga terakhir.

Dalam situasi seperti itu, yang menderita bukan grafik ekonomi. Yang menderita adalah keluarga yang harus memilih antara membayar listrik atau membeli susu. Antara menunda pengobatan atau menambah utang.

-000-

Di atas peta, Selat Hormuz tampak kecil. Namun ia mengatur napas peradaban modern.

Iran yang sedang luka memegang satu tuas yang dapat membuat dunia gemetar. Jalur sempit tempat dua puluh juta barel per hari melintas, membawa energi sekaligus potensi krisis.

Ia adalah senjata pembalasan yang bukan hanya militer, tetapi ekonomi, psikologi, dan simbol.

Bagi Indonesia, pelajarannya sederhana dan sunyi. Selama kita masih bergantung pada impor minyak, setiap ketegangan jauh di sana dapat menjelma menjadi kecemasan di meja makan sendiri.

Jalan keluarnya bukan hanya berdoa harga minyak turun, tetapi mempercepat kemandirian energi, hemat energi di rumah dan industri, serta menyebar sumber impor agar risiko tidak menumpuk.

Minyak memberi tenaga pada dunia. Tetapi ia juga memberi daya pada luka untuk berubah menjadi tekanan yang melintasi samudra.

Dan ketika selat itu terganggu, yang paling dulu kehilangan ketenangan bukan para jenderal atau para trader di bursa. Melainkan para ibu yang menatap harga di warung, lalu pulang membawa pertanyaan yang sama di dalam hati.

Sampai kapan kita hidup di bawah bayang bayang satu selat yang sempit. (*)


Jakarta, 3 Maret 2026


Referensi

Yergin, Daniel. The Prize: The Epic Quest for Oil, Money and Power. New York: Simon and Schuster, 1991.

Yergin, Daniel. The New Map: Energy, Climate and the Clash of Nations. New York: Penguin Press, 2020.

-000-

Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA’s World

https://www.facebook.com/share/p/1KvsBT3Puq/?mibextid=wwXIfr




 
Top