DI ERA 1980-an, nama Indonesia sempat mengguncang dunia internasional ketika berhasil keluar dari bayang-bayang negara pengimpor beras terbesar dan berbalik menjadi negara yang swasembada pangan. Di balik kesuksesan historis yang mendapat penghargaan tertinggi dari FAO (Organisasi Pangan dan Pertanian PBB) tersebut, ada tangan dingin seorang maestro pertanian sejati: Achmad Affandi.

Dipercaya oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Pertanian dalam Kabinet Pembangunan IV (1983–1988), pria kelahiran 27 Oktober 1927 ini bukanlah tipikal pejabat yang sekadar duduk manis di balik meja. Hampir separuh dari usianya dihabiskan untuk turun ke lumpur sawah demi memikirkan nasib perut rakyat Indonesia.

Pemberani Sejak Muda dan Arsitek Kampus IPB Dramaga

Kecintaan Achmad Affandi pada dunia agraria sudah mendarah daging sejak masa mudanya. Ia menjadi salah satu tokoh kunci yang ikut membidani lahirnya pendidikan pertanian modern di tanah air dengan mendirikan Fakultas Pertanian di Bogor.

Tak hanya itu, rekam jejak akademis dan manajerialnya yang visioner terukir abadi lewat kontribusi besarnya dalam merancang dan membangun Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) di Dramaga, Bogor. Kampus yang hingga hari ini menjadi kiblat dan pencetak para sarjana serta pakar pertanian terbaik di seluruh penjuru Nusantara.

Pencetus Program 'Bimas' yang Mengubah Wajah Sawah Indonesia

Awal mula reputasi emas Achmad Affandi di lapangan dimulai ketika ia bersama rekan-rekannya merintis penerapan konsep inovatif bernama Panca Usaha Tani di Karawang, Jawa Barat. Program uji coba yang sukses besar ini kemudian dikenal luas oleh jutaan petani sebagai Bimbingan Masyarakat (Bimas).

Berkat keberhasilan revolusioner tersebut, ia langsung ditarik ke pusat untuk menjabat sebagai Sekretaris Pengendalian Bimas Departemen Pertanian. Kariernya kian melesat saat didapuk sebagai Direktur Jenderal Tanaman Pangan. Di bawah komandonya, direktorat ini bergerak super cepat dengan membangun 618 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang tersebar di 13 provinsi demi mengedukasi para petani secara langsung.


Tiga Prinsip Sakti Sang Juru Racik Swasembada

Ketika resmi dilantik menjadi Menteri Pertanian pada tahun 1983, Achmad Affandi memegang teguh komitmen yang sangat tegas. Ia selalu menegaskan bahwa tugas pokoknya sebagai menteri hanya berwujud pada tiga pilar utama:

Melestarikan Swasembada Pangan nasional agar Indonesia tidak lagi bergantung pada beras impor.

Meningkatkan Devisa Negara melalui optimalisasi komoditas ekspor sektor pertanian.

Memperluas Lapangan Kerja secara masif bagi jutaan masyarakat di sektor pedesaan.

Tiga prinsip sakti inilah yang berhasil ia eksekusi dengan sempurna, hingga membawa dunia pertanian Indonesia mencapai puncak masa keemasannya di dekade 80-an.

Akhir Hayat Sang Penjaga Pangan Bangsa

Setelah mendedikasikan seluruh hidup, pikiran, dan tenaganya untuk memastikan ketahanan pangan bangsa, Achmad Affandi mengembuskan napas terakhirnya pada 29 Desember 1990 dalam usia 63 tahun.

Meskipun sang arsitek pangan kini telah tiada, namanya akan selalu hidup dan dikenang abadi dalam lembaran sejarah sebagai pahlawan di balik swasembada beras yang pernah membawa Indonesia berdiri tegak dengan penuh kebanggaan di mata dunia.

#wkp/ede/bin






 
Top