BAGI sebagian besar masyarakat dunia, nama Ali Alatas adalah jaminan mutu di panggung diplomasi internasional. Namun, siapa sangka jika salah satu Menteri Luar Negeri paling disegani di era Orde Baru ini dulunya adalah seorang bocah petualang yang hobi bermain di tepian Sungai Ciliwung?
Inilah kisah luar biasa Ali Alatas, diplomat jenius kebanggaan Indonesia yang berhasil merajut perdamaian di berbagai belahan dunia.
Dari Bocah Jangkung Ciliwung ke Panggung Internasional
Lahir pada 4 November 1932 dari keluarga keturunan Arab Hadhrami (Yaman) dan Sunda, Ali Alatas tumbuh besar di lingkungan yang terpandang. Kakeknya adalah tokoh dihormati di era Hindia Belanda. Namun, pria yang akrab disapa "Alex" ini justru lebih suka membaur dengan anak-anak kampung.
Masa kecilnya dihabiskan dengan menyusuri Sungai Ciliwung menggunakan rakit dari batang pisang dan bermain sepak bola di daerah Cikini. Teman-teman masa kecilnya mengenang, jika ingin mencari Ali di lapangan, tidaklah sulit: "Cari saja yang posturnya paling jangkung, itulah si Ali."
Siapa sangka, bocah jangkung yang gemar bermain di sungai itu kelak tumbuh menjadi lulusan Akademi Dinas Luar Negeri (1954) dan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (1956) yang akan mengubah peta kedamaian di Asia Tenggara.
Pembungkam Senjata: Mendamaikan Kamboja hingga Filipina
Karier diplomasi Ali Alatas mencapai puncaknya saat ia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri RI (1988–1999) di bawah Presiden Soeharto dan BJ Habibie. Dunia internasional mulai tercengang lewat dua torehan sejarah besar ini:
Mengakhiri Perang Kamboja-Vietnam: Ali Alatas menjadi otak dan fasilitator utama dalam pertemuan informal tingkat tinggi bernama Jakarta Informal Meeting (JIM). Diplomasi alot dan cerdas yang ia pimpin sukses melahirkan Perjanjian Perdamaian Kamboja Komprehensif di Paris pada tahun 1991. Media ternama Inggris, The Guardian, bahkan menyebut momen ini sebagai keberhasilan terbesar dalam karier sejarah Ali Alatas.
Penengah Konflik Moro di Filipina: Tangan dinginnya kembali teruji saat menjadi mediator antara Pemerintah Filipina dan Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF). Lewat negosiasi panjang yang dipimpin Alatas, kedua belah pihak akhirnya sepakat berdamai melalui Perjanjian Jakarta pada tahun 1996.
Tak hanya itu, saat Indonesia memimpin Gerakan Non-Blok (GNB) tahun 1992–1995, Ali Alatas maju di garda terdepan melobi negara-negara maju (G7) untuk menghapus utang beberapa negara berkembang secara adil.
Dipercaya PBB hingga Akhir Hayat
Kejeniusan Ali Alatas membuatnya tetap dicari oleh dunia bahkan setelah ia tidak lagi menjabat sebagai menteri. Pada tahun 2003, ia diangkat menjadi Utusan Khusus Sekretaris Jenderal PBB.
Salah satu misinya yang paling menegangkan adalah saat ia dikirim ke Myanmar pada Agustus 2005. Ali Alatas menjadi utusan khusus dunia pertama yang diizinkan menembus penjagaan ketat junta militer Myanmar untuk mendesak pembebasan tokoh demokrasi peraih Nobel Perdamaian, Aung San Suu Kyi.
Sebelum akhir hayatnya, ia juga meninggalkan warisan besar bagi Asia Tenggara dengan ikut merumuskan Piagam ASEAN (ASEAN Charter) yang memperkuat integrasi kawasan ini sejak Januari 2009
Sosok Humoris yang Asyik Ngobrol Bareng Satpam PBB
Di balik ketegasannya di meja runding, Ali Alatas adalah sosok yang sangat hangat, jenaka, dan tidak sombong. Menikah dengan Junisa dan dikaruniai tiga anak, Alatas dikenal tidak pernah tebang pilih dalam berteman.
Ada sebuah cerita menarik di Markas Besar PBB, New York. Di sela-sela sidang dunia yang menegangkan, Ali Alatas sering kali terlihat keluar gedung hanya untuk merokok dan asyik mengobrol, bersenda gurau dengan para petugas keamanan (satpam) gedung PBB seperti kawan lama.
Atas segala dedikasinya, ia dianugerahi penghargaan tertinggi Bintang Mahaputera Utama serta gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Diponegoro.
Berpulangnya Sang Maestro Diplomasi
Sang diplomat ulung mengembuskan napas terakhirnya pada 11 Desember 2008 di RS Mount Elizabeth, Singapura, akibat serangan jantung. Jenazahnya dipulangkan ke Indonesia dan dimakamkan dengan upacara militer penuh yang dipimpin langsung oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata.
Ali Alatas adalah bukti nyata, bahwa seorang anak dari tepian Ciliwung bisa mengguncang panggung dunia dengan kecerdasan, integritas, dan tutur kata yang damai.
#wkp/nov/ede



