BAGI sebagian besar orang, pelajaran sejarah sering kali dianggap sebagai materi yang berat, menjemukan dan penuh dengan hafalan tahun serta angka. Namun, di tangan Prof. Dr. Gusti Asnan, pandangan kuno tersebut berhasil diruntuhkan.
Pria kelahiran 12 Agustus 1962 ini bukan sekadar akademisi biasa. Beliau adalah Guru Besar Sejarah Maritim di Universitas Andalas (Unand), Padang, sekaligus mantan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unand periode 2013–2017. Lebih dari itu, Gusti Asnan dikenal luas sebagai pelopor "Sejarah Publik" di Pulau Sumatra—sebuah gerakan yang membawa sejarah keluar dari menara gading kampus agar bisa dinikmati dan dipahami oleh masyarakat luas dengan bahasa yang renyah.
Kisah di Balik Nama ‘Jawa’ dan Trauma Pasca-PRRI
Ada cerita yang sangat sarat akan nilai sejarah di balik nama Gusti Asnan. Ia lahir pasca-penumpasan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Tengah. Pada masa-masa penuh tekanan politik kala itu, banyak orang tua di ranah Minangkabau yang sengaja menyematkan nama berbau Jawa kepada anak-anak mereka demi melindungi sang buah hati dari sentimen dan diskriminasi pasca-konflik.
Namun, nama "Gusti" miliknya ternyata memiliki makna personal yang unik dan mendalam. Menurut penuturan orang tuanya, kata ‘Gusti’ adalah akronim dari bulan kelahirannya, yaitu Agustus, serta nama bidan bersahaja yang membantu persalinannya, yaitu Eti. Sementara nama ‘Asnan’ merupakan untaian indah dan singkatan dari nama kedua orang tuanya: Asyiah dan Syahminan.
Gusti menghabiskan masa kecil dan remajanya di Lubuk Sikaping, Pasaman, hingga menamatkan jenjang SMA. Kecintaannya pada masa lalu membawanya merantau ke Kota Padang untuk mendalami ilmu sejarah di Universitas Andalas dan sukses meraih gelar sarjana pada tahun 1986.
Menembus Jerman Demi Menguak Sejarah Maritim Sumatra
Haus akan ilmu, Gusti Asnan memutuskan terbang ke Eropa untuk melanjutkan studi pascasarjana. Ia memilih Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora di Universitas Bremen, Jerman.
Di Jerman, fokus risetnya tertuju pada kejayaan bahari tanah air. Pada tahun 1998, ia sukses menggondol gelar Doktoral (Ph.D.) lewat sebuah disertasi monumental berjudul "Trading and Shipping Activities: The West Coast of Sumatra, 1819–1906". Melalui karya ilmiah tersebut, Gusti berhasil memetakan dengan rinci bagaimana dinamika perdagangan dan aktivitas pelayaran di sepanjang pesisir barat Sumatra pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, yang kian mengukuhkan kepakarannya sebagai salah satu sejarawan maritim terpandang di Indonesia.
Sang Pelopor Sejarah Publik yang Membumi
Kembali ke tanah air, Gusti melihat adanya keresahan berupa merosotnya minat generasi muda terhadap sejarah karena metode pengajaran yang monoton. Bergerak cepat, ia menjadi akademisi pertama yang memperkenalkan mata kuliah Sejarah Publik (Public History) di Sumatra.
Langkah konkret ini ia tumpahkan saat menjadi pemateri utama dalam seminar strategis yang digelar oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Sumatra Barat. Baginya, sejarah tidak boleh hanya tersimpan rapat di perpustakaan atau jurnal ilmiah yang berdebu. Sejarah harus hidup di tengah masyarakat.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Gusti Asnan sangat aktif menulis artikel sejarah di situs web pribadinya. Ia dengan lihai mengemas peristiwa-peristiwa masa lalu yang rumit menggunakan gaya bahasa yang ringan, populer, dan menarik, namun tetap mempertahankan akurasi akademis yang ketat.
Berkat gaya komunikasinya yang membumi, ia kerap diundang menjadi narasumber di berbagai stasiun radio, mengisi berbagai siniar (podcast) kekinian bertema kesejarahan, hingga menjadi pakar yang mengudara di televisi lokal maupun nasional.
Perjalanan hidup Prof. Dr. Gusti Asnan mengirimkan pesan penting bagi kita semua: bahwa menjaga ingatan kolektif sebuah bangsa tidak harus dilakukan dengan cara yang kaku. Lewat dedikasinya, sang jenderal maritim Unand ini telah membuktikan bahwa sejarah bisa tampil memikat, relevan, dan menjadi pelita yang mencerahkan bagi masyarakat umum.
#wkp/ede/nov


