BAYANGKAN seorang kreator konten asal Jambi yang mampu menggalang Rp10,3 miliar hanya dalam tempo 24 jam untuk korban banjir Sumatera melalui Kitabisa. Itulah Ferry Irwandi, influencer berdarah Minang yang mengubah pengaruh digitalnya menjadi kekuatan nyata untuk sesama.

Ferry Irwandi lahir di Kota Jambi pada 16 Desember 1991 dari pasangan perantau Minangkabau. Ayahnya, Irwandi, berasal dari Barulak, Tanah Datar, Sumatera Barat dan dikenal sebagai dosen Hukum Tata Negara di Universitas Jambi. Sementara ibunya, Rosma, berasal dari Pauh Duo Nan Batigo, Solok Selatan, Sumatera Barat. 

Dibesarkan dalam keluarga akademis di Jambi, Ferry merupakan alumnus SMP Negeri 7 Kota Jambi, lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dengan IPK 3,61 meski sempat nyaris drop out, serta melanjutkan pendidikan S2 di Central Queensland University, Australia. Sebelum dikenal luas, ia bekerja hampir 10 tahun sebagai PNS videographer di Kementerian Keuangan.

Sejak SMP, Ferry sudah aktif di dunia teater dan semasa kuliah bergabung dengan komunitas film SCENE. Kini ia dikenal sebagai kreator konten, YouTuber, aktivis, dan pendiri Malaka Project yang diluncurkan pada 2023 bersama beberapa influencer lain. Ia rutin membahas isu politik, keuangan, filsafat, pendidikan, dan literasi digital.

Namanya semakin dikenal sebagai pengumpul donasi terbesar untuk korban bencana banjir dan longsor Sumatera melalui kerja sama dengan Kitabisa. Ferry berhasil mengumpulkan Rp10,3 miliar dari puluhan ribu donatur dalam waktu singkat serta langsung menyalurkan bantuan logistik ke daerah terdampak.

Kesuksesan Ferry Irwandi membuktikan bahwa pengaruh media sosial, ketika digabungkan dengan niat tulus dan aksi cepat, dapat menjadi kekuatan besar untuk perubahan sosial. 

Dari seorang anak perantau Minang di Jambi, lulusan STAN yang pernah menjadi PNS, hingga menjadi salah satu influencer paling berdampak di Indonesia, perjalanannya menunjukkan bahwa latar belakang bukanlah batas, melainkan modal untuk berbuat lebih banyak.

#wkp/bin





 
Top