Junaidi Jamsari | Penulis, Tinggal di Lampung Barat
ANAK saya bilang, “Nanti kalau Ayuk kerja, Yaya dititipkan ke Umi ya. Anak kedua gadis nyeletuk, “Nanti kalau ayuk punya anak, yang ngasuh Umi ya.”
Saya diam. Umi mereka juga diam. Karena kami tahu, 20 tahun lagi kami mungkin sudah sepuh. Dan anak-anak kami mungkin jadi seperti jutaan ibu hari ini: harus bekerja, dan harus menitipkan.
Lalu ke mana mereka menitipkan kalau bukan ke day care?
Beberapa hari ini, linimasa kita gaduh oleh kasus kekerasan di day care. Video balita dipukul, dicubit, dibentak. Hati orang tua mana yang tidak hancur. Kepercayaan yang dititipkan dengan penuh harap, dalam beberapa kasus, memang dikhianati.
Marah itu wajar. Tapi menyimpulkan “semua day care jahat” dan “semua ibu bekerja itu ambisius” adalah dua kekeliruan baru yang berbahaya.
Peta Masalah : Kenapa Narasi “Day Care” Itu Bahaya?
Kalau kita pukul rata, yang jadi korban ada tiga pihak:
Anak: Orang tua jadi takut, akhirnya menitipkan ke tetangga atau kerabat yang tidak punya standar pengasuhan sama sekali. Justru lebih rawan.
Ibu Bekerja: Disalahkan karena dianggap “ambisi & sosialita”. Padahal banyak yang bekerja karena suami kena PHK, atau karena ia seorang single parent yang harus menghidupi anak.
Day Care Baik: 95% day care yang benar, yang dijaga dengan amanah, ikut mati usahanya gara-gara 5% oknum.
Saya tidak bilang “day care selalu bagus”. Tapi saya bilang: “Kekerasan itu kejahatan oknum, bukan salah konsep day care. Yang salah adalah sistem pengawasan dan standar kita yang masih bolong.”
1. Kenapa Orang Tua “Terlalu Percaya” pada Day Care?
Jawabannya tidak sesederhana “gaya hidup”. Data BPS 2025: 54% perempuan Indonesia bekerja, dan 68% di antaranya adalah ibu. Banyak yang bekerja bukan untuk beli tas mewah, tapi untuk bayar kontrakan, SPP, dan susu anak. Ada yang suaminya buruh harian lepas. Ada yang menjadi janda. Ada yang suaminya sakit menahun.
Ketika nenek-kakek sudah sepuh, ketika tetangga juga bekerja, pilihan paling logis adalah day care. Maka pertanyaannya bukan “kenapa percaya day care?”, tapi “kenapa day care yang terpercaya begitu sedikit?”
Ini bukan salah ibu. Ini salah keadaan. Dan memperbaiki keadaan itu tanggung jawab kita bersama.
2. Kekerasan di Day Care: Kejahatan Oknum, Cermin Kegagalan Sistem
Kita sepakat: kekerasan pada balita mencederai kehormatan bangsa. Negara yang gagal melindungi anaknya sedang mempertaruhkan masa depannya.
Tapi mari jujur: ini cerminan kegagalan sistemik.
Data KPAI 2024-2025: Dari 3.247 day care yang terdata, hanya 12% yang punya izin lengkap dan pengasuh bersertifikat. Sisanya? Banyak yang beroperasi di garasi, pengasuhnya tidak dilatih, CCTV tidak ada, SOP tidak jelas.
Sidak rutin? Jarang dilakukan. Penegakan hukum? Sering berakhir damai di bawah tangan. Standar kompetensi pengasuh? Kemendikbud baru mewajibkan sertifikasi tahun 2023, tapi sosialisasinya belum sampai ke desa-desa.
Jadi yang salah bukan konsep “menitipkan anak”. Yang salah: kita membiarkan siapa saja boleh membuka day care tanpa diawasi. Sama seperti kita tidak menyalahkan institusi “sekolah” karena ada satu guru cabul. Kita menyalahkan sistem sekolah yang tidak selektif merekrut guru.
3. “Mana Mungkin Asuh Anak Orang Kalau Anak Sendiri Sering Lalai?”
Ini pertanyaan yang jujur dan manusiawi. Tapi mari kita balik: mana mungkin guru TK menyayangi 20 murid kalau di rumah kadang ia memarahi anaknya sendiri? Mana mungkin dokter tulus mengobati pasien kalau ia sendiri kadang khilaf menjaga kesehatan?
Jawabannya: profesionalisme. Guru, dokter, dan pengasuh day care yang baik bekerja dengan ilmu, SOP, dan pengawasan. Rasa sayang dan amanah itu tumbuh dari latihan dan sistem, bukan semata dari ikatan darah. Justru karena dibayar dan terikat kontrak, mereka punya kewajiban untuk tidak lalai.
Masalahnya: apakah semua day care hari ini merekrut orang yang profesional? Di sinilah negara harus hadir. Lisensi, sertifikasi, CCTV, rasio pengasuh 1:4, psikotes rutin. Itu standar minimal. Kalau itu tidak ada, jangan salahkan ibunya. Salahkan kita yang membiarkan day care ilegal tumbuh subur.
4. Solusi: Bukan Tutup Day Care, Tapi Ketatkan Pengawasannya
Day care dan orang tua itu dua sisi mata uang. Tidak bisa saling meniadakan. Maka solusinya bukan “semua ibu harus resign”, tapi perbaiki sistemnya bersama.
4 Pengasuh Profesional: Penjaga Keselamatan Day Care:
1. Negara / Dinas Terkait
Ikhtiar Siaga: Wajibkan izin operasional, sertifikasi pengasuh, dan sidak CCTV tiap 3 bulan. Tutup yang ilegal. Proses pidana bagi pengelola yang lalai.
Landasan: UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014
2. Pengelola Day Care
Ikhtiar Siaga: Transparan kepada orang tua. Beri akses CCTV. Rekrut pengasuh yang lulus pelatihan dan psikotes. Jaga rasio ideal 1 pengasuh untuk 4 anak, jangan 1:15.
Landasan: “Sampaikanlah amanat kepada yang berhak menerimanya.” QS. An-Nisa: 58
3. Orang Tua
Ikhtiar Siaga: Cek izin, cek CCTV, cek rasio pengasuh sebelum menitipkan. Tanyakan SOP penanganan anak. Sesekali datang mendadak. Itu hak, bukan suudzon.
Landasan: “…dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” QS. Al-Baqarah: 195
4. Masyarakat
Ikhtiar Siaga: Jangan menghakimi ibu yang bekerja. Bantu awasi day care di lingkungan. Tegur dan laporkan ke dinas jika ada yang janggal.
Landasan: “Tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan.” QS. Al-Maidah: 2
Data Hari Ini – 3 Mei 2026:
1. Perempuan Bekerja
Angka: 54% dari total angkatan kerja, 68% di antaranya adalah ibu
Sumber: BPS, Sakernas 2025
2. Day Care Terdata
Angka: 3.247 unit se-Indonesia
Sumber: Kemendikbudristek, April 2026
3. Day Care Berizin + Pengasuh Sertifikat
Angka: 12% atau hanya 389 unit
Sumber: KPAI, Maret 2026
4. Kasus Kekerasan Anak di Satuan PAUD/Day Care
Angka: 47 kasus sepanjang 2025
Sumber: KPAI, Januari 2026
5. Standar Rasio Pengasuh
Angka: 1 pengasuh untuk 4 anak usia 0-2 tahun
Sumber: Permendikbud No. 18 Tahun 2018
5. Penutup: Salah Siapa? Salah Kita yang Diam
Kini, salah siapa? Salah orang tua yang terpaksa bekerja? Salah day care yang oknumnya jahat? Atau salah kita semua yang selama ini diam saat day care di gang sebelah buka tanpa izin, tanpa CCTV, tanpa pelatihan?
Anak adalah amanah. Menitipkan anak bukan dosa. Yang dosa adalah menitipkan tanpa memastikan, dan membiarkan tanpa mengawasi.
Zaman dulu tetangga tidak bekerja semua, nenek-kakek masih kuat, kampung masih aman. Sekarang tetangga pagar tinggi, nenek di kampung, ibu harus bekerja karena harga beras 15 ribu. Yang kita lawan bukan day care-nya, tapi day care yang tidak berizin dan tidak punya CCTV.
Jika siaga dimulai dari yang paling dekat dengan anak: pengasuh, insyaallah day care jadi rumah kedua yang aman. Bukan rumah trauma.
Jika semua diam, jangan salahkan ibu yang bekerja.
Wallahu a’lam bish-shawab. (*)
