Oleh Reiner Emyot Ointoe | Sastrawan
“…bahwa aku harus tetap diam
sebisa mungkin. Aku harus selalu menyimpan pikiranku untuk diriku sendiri.“ — Sadegh Hedayat (1903-1951), Silent Love dalam Three Drops of Blood (1932).
SHIRAZ, kota di selatan Iran yang berjarak ratusan kilometer dari Teheran, sejak lama dikenal sebagai kota puisi, tempat lahirnya penyair sufi Hafez dan Saadi, sekaligus kota yang dalam sejarah klasik dikaitkan dengan anggur dan keindahan.
Dalam cerpen kisah Dash Akol karya Sadegh Hedayat dibuka dengan cinta yang diam, cinta yang tak pernah diucapkan, antara lelaki gagah bernama Dash Akol dan Marjan, putri seorang saudagar kaya di Shiraz.
Kata Dash sendiri diadopsi dari Turki (dadash) berarti kakak dan sebagai gelar kehormatan dalam olahraga tradisional seperti koshti (gulat klasik) dan zurkhaneh (bela diri).
Cinta itu (silent love)? Tumbuh dalam kesunyian, terikat oleh kode kehormatan — nāmūs” (ناموس) dalam budaya Iran —yang membuat Dash Akol tak sanggup mengungkapkan isi hatinya.
Berhari-hari, bulan bahkan tahun, ia hanya berbisik pada dirinya sendiri, “Aku mencintainya, tetapi cinta ini harus tetap tersembunyi.”
Dari ungkapan itu, kita merasakan beban batin seorang lelaki yang memilih martabat (namus) di atas hasrat, dan dari sanalah tragedi mulai berakar.
Namun cinta yang diam tidak pernah bebas dari dunia luar.
Di kedai-kedai Shiraz, muncul Kaka Rostam, seorang preman yang menjadi pesaing sekaligus pengganggu.
Ia menantang Dash Akol bukan hanya dengan otot, tetapi dengan ejekan yang menusuk harga diri. Terutama, silent love Akol pada Marjan yang bisa ditangkap batin saingannya, Kaka Rostam.
Ketika Kaka Rostam berteriak kasar, Dash Akol menjawab dengan tenang, “Kaka Rostam, kehormatan bukanlah teriakan di kedai, melainkan sikap yang dijaga sampai mati.”
Pertarungan mereka akhirnya berujung pada kematian Dash Akol, sebuah akhir yang menegaskan bahwa cinta dan kehormatan dalam hidupnya sama-sama berakhir dalam kesunyian.
Cerpen ini, pertama kali terbit dalam kumpulan Three Drops of Blood pada 1932, tetap hidup sebagai kisah universal tentang cinta yang tak tersampaikan dan benturan antara martabat dan kekerasan.
Hedayat memadukan atmosfer kota Shiraz dengan dilema moral yang tak lekang oleh waktu.
Dash Akol bukan sekadar cerita tentang seorang lelaki dan seorang perempuan, melainkan refleksi tentang harga diri, tradisi, dan kesunyian batin.
Kehadiran Kaka Rostam memperkuat dimensi sosial cerita, menunjukkan bahwa cinta yang diam selalu berhadapan dengan dunia yang bising dan penuh tantangan.
Dengan gaya naratif yang sederhana namun sarat simbol, Hedayat menjadikan Silent Love (Terjemahan Dastan 2004) sebagai kisah yang terus bergema dalam tradisi sastra Iran dan bacaan dunia.
Kisah Dash Akol di tengah kehidupan preman di kedai-kedai kota Shiraz, merupakan sebuah elegi tentang cinta yang tak pernah terucap tetapi justru abadi dalam keheningan.
Dalam kritik sastra kontemporer, dalam Literary Criticism in Contemporary Iran: A Survey of Indigenous and Western Theories yang dimuat dalam Routledge Handbook of Post Classicaland Contemporary Persian Literatures (2023), Abdolrasoul Shakeri dan Masoud Farahmandfar, cerpen Dash Akol karya Sadegh Hedayat memang menjadi contoh konkret dilema kritik sastra Iran kontemporer.
Mereka menekankan bahwa kritik sastra di Iran selalu berada di persimpangan antara tradisi retorika Persia yang berakar pada puisi klasik dan teori Barat yang masuk sejak abad ke-20.
Demikian pula, Dash Akol, atau Silent Love dalam terjemahan Inggris, memperlihatkan bagaimana sebuah teks bisa dibaca dengan dua horizon sekaligus: sebagai kisah cinta tersembunyi yang universal, dan sebagai refleksi lokal tentang kehormatan serta martabat di kota Shiraz.
Atmosfir Shiraz hadir bukan sebagai latar yang netral, melainkan sebagai rang sosial yang penuh ketegangan.
Kedai-kedai tempat preman seperti Kaka Rostam berkuasa, jalanan yang menjadi arena pertarungan kehormatan, dan rumah-rumah saudagar kaya yang menyimpan kisah cinta tersembunyi.
Konflik yang mengikat cerita bukan hanya cinta yang tak tersampaikan, melainkan juga perseteruan dengan Kaka Rostam, preman kedai yang menantang Dash Akol dengan ejekan dan kekerasan.
Pertarungan mereka menjadi simbol benturan antara martabat dan kekerasan jalanan, antara kehormatan yang dijaga dengan tenang dan teriakan yang memaksakan kuasa.
Di tengah kota yang sarat tradisi itu, Dash Akol tampil sebagai sosok gagah dan berwibawa, seorang lelaki yang diam-diam mencintai Marjan, putri seorang saudagar, namun memilih untuk menyimpan perasaan itu dalam kesunyian.
Pada akhirnya, pertarungan itu merenggut nyawanya, dan cinta yang diam pun berakhir bersama kehormatan yang ia pertahankan hingga titik terakhir dan mati di tangan preman. (*)
coversongs:
Theme song film Dash Akol yang diadaptasi dari cerpen Sadegh Hedayat telah beberapa kali dibuat ulang, termasuk versi 2018 berjudul Dash Akol: Your Love Kill yang dibintangi Hosein Yari.
Hossein Hadisi (39) sendiri adalah penulis dan karya ini menekankan makna cinta tersembunyi Dash Akol kepada Marjan sebagai tragedi kehormatan.
credit foto diunggah dari Youtube @MaryamChalesh Dash Akol; Dash Akol Movie Location old Hause in Shiraz @hastifazli9387 dan Dash Ak0! @vanchoir serta potret Sadegh Hedayat.

