Oleh:
Majid Lintang | Penulis


Tanjung Karang, 1967


SORE belum benar-benar turun ketika hiruk-pikuk itu sudah mencapai puncaknya. Di jantung Tanjung Karang, suara tawar-menawar bersahutan seperti irama yang tak pernah putus. Bau ikan asin bercampur dengan aroma rempah—lada hitam, kayu manis, hingga kopi—mengambang di udara yang hangat. Tahun 1967, kota ini hidup dari pasar-pasarnya.

Ada tiga simpul utama denyut ekonomi rakyat: Pasar Bawah, Pasar Tengah, dan Pasar Bambu Kuning. Tiga titik ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan panggung tempat kehidupan kota dipertontonkan setiap hari.

Pasar Bawah: Awal dari Segalanya

Pasar Bawah adalah yang paling tua—dan mungkin paling jujur menggambarkan kerasnya hidup. Kios-kios kayu berderet seadanya. Atap seng berisik tiap kali diterpa angin. Pintu-pintu papan dilipat dan dikunci dengan baut; rolling door masih menjadi barang masa depan.

Di sini, sembilan bahan pokok bertemu dengan peluh para pedagang. Sayur-mayur segar, buah-buahan, obat pertanian, hingga alat bercocok tanam disusun rapat tanpa banyak estetika. Ikan asin dan terasi udang menumpuk di sudut, sementara ikan segar dari Tulang Bawang dan Menggala datang hampir setiap hari. Dari arah lain, kol dari Gisting ikut memenuhi lapak.

Mayoritas pedagang berasal dari kampung-kampung Lampung. Mereka datang membawa hasil bumi—dan harapan. Nama-nama dikenal beredar di antara lorong sempit pasar: Pak Leman Beras, misalnya, sosok yang tinggal di Jalan Hanoman, menjadi bagian dari ingatan kolektif warga.

Di sekitar pasar, kehidupan lain tumbuh. Ada bioskop sederhana, tempat warga menonton hiburan di sela lelah. Rumah Makan Padang “Setia” mengepul sejak pagi. Terminal Bus Kadjora menjadi simpul mobilitas, menghubungkan Tanjung Karang dengan Labuhan Maringgai hingga kawasan perkebunan karet Way Galih.

Pasar Tengah: Dagang Besar dan Jejak Kolonial

Berbeda dengan Pasar Bawah, Pasar Tengah tampak lebih rapi—dan lebih ambisius. Ruko-ruko satu lantai berdiri, menjadi markas para toke. Di balik meja kayu, transaksi besar terjadi: kopi, lada hitam, kayu manis, pinang—komoditas yang melampaui sekadar kebutuhan lokal.

Di lorong Jalan Pemuda, aroma lemang bakar dan tapai ketan hitam menguar dari tangan-tangan ibu berkerudung. Sementara itu, Pabrik Roti Abdul Majid menjadi penanda lain: industri kecil yang tumbuh dari denyut pasar.


Di kawasan ini pula, kota menunjukkan wajah resminya. Kantor pos berdiri tegak. Pertamina hadir sebagai simbol energi negara. Gereja tua Katolik katedral menjadi saksi bisu perjalanan iman. Tak jauh, Gedung Dasaad—peninggalan Belanda—menyimpan jejak masa lalu yang belum sepenuhnya pergi.

Masjid Taqwa saat itu belum megah. Masih satu lantai, beratap genteng, dengan menara yang sederhana. Namun dari sana, denyut spiritual kota mengalir, menyatu dengan riuh perdagangan di sekitarnya.

Pasar Bambu Kuning: Antara Tradisi dan Jalanan

Jika Pasar Tengah adalah wajah rapi kota, maka Pasar Bambu Kuning adalah napas liarnya. Pedagang menggelar dagangan di atas tanah, beratap terpal yang ditopang kayu. Sederhana, tapi penuh daya tahan.

Nama “Bambu Kuning” bukan sekadar sebutan. Dulu, rumpun bambu benar-benar tumbuh di sana, bahkan satu rumpun besar berdiri di tepi Jalan Imam Bonjol. Alam dan pasar berdampingan tanpa batas tegas.

Di sekitar pasar, berdiri Gereja Tua Marturia, markas Kodim TNI, dan kantor Polisi Militer. Kendaraan masa itu—becak, delman, hingga mobil Chevrolet “Lampoeng”—berjejer di pangkalan, menunggu penumpang.

Tak jauh dari sana, Penjara Lebak Budi dan Losmen Cilamaya menjadi bagian lain dari cerita kota: tentang singgah, tentang hukuman, tentang perjalanan hidup yang tak selalu lurus.

Lebih dari Sekadar Pasar

Tiga pasar itu adalah tiga wajah Tanjung Karang. Di sanalah ekonomi berdenyut, tapi juga di sanalah cerita-cerita kecil tumbuh: tentang harapan, tentang lelah, tentang orang-orang yang bertahan dengan cara mereka sendiri.

Pasar bukan hanya tempat transaksi. Ia adalah ingatan. Dan di Tanjung Karang, ingatan itu berbau terasi, kopi, dan keringat manusia. (*)




 
Top